Pdt. Weinata Sairin: Hidup itu Bermakna

0
524

 

“Vivere militare. Hidup itu adalah berjuang.”

 

Hidup, kehidupan itu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada manusia. Hidup itu harus dijalani dengan rasa syukur kepada Tuhan, rasa suka cita dan tanggung jawab, tanggung jawab kepada sesama manusia dan sekaligus tanggung jawab kepada Allah. Hidup, kehidupan itu tidak terjadi secara otomatis, tidak terjadi dengan sendirinya. Ada banyak proses yang mesti dilalui; dan sebagai umat yang beragama kita yakin benar bahwa dalam proses itu Tuhan bekerja.

 

Tuhan merancang kehidupan itu sejak awal dan kemudian hidup itu lahir dan menyejarah setelah melewati banyak proses. Kehidupan terjadi bukan hanya karena ada institusi perkawinan yang diatur secara legal oleh UU No 1 Tahun 1974, bukan karena ada “hasrat” seorang suami dan istri, bukan karena “bidan” atau “dukun beranak” yang menangani proses persalinan, bukan karena ada BKIA dan sebagainya. Kehidupan ada dan terjadi oleh dan di dalam kuasa Allah.

 

Oleh karena hidup itu anugerah Tuhan, dan sejatinya “kepemilikan” itu berada pada Tuhan maka selama masih terbuka kesempatan, selama hari masih siang maka kita harus mendayagunakan kesempatan itu untuk menebar kebaikan, menabur kebajikan dan mengukir karya terbaik di sepanjang rentang waktu kehidupan itu.

 

Mengukir karya terbaik di dalam kurun waktu kehidupan tidak usah selalu berarti menjadi seorang pejabat tinggi, menjadi direktur perusahaan terkenal, menjadi politisi dan advokat ternama, menjadi walikota, bupati atau gubernur. Ada banyak ruang dalam kehidupan ini yang memungkinkan seorang bisa berkarya yang terbaik. Sebagai ustadz, ustazah, teolog, novelis, cerpenis, penyair, guru, pelatih paduan suara, komposer, pelukis, penyanyi, penulis atau editor buku, dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Kesemua bidang tugas itu membutuhkan keuletan dan perjuangan, dengan tingkat kesulitan dan bobot sendiri-sendiri. John Masefield harus melalui saat-saat sulit sebelum ia berhasil menerbitkan puisi-puisinya. Ia mengisahkan hari-hari yang dilaluinya diawal-awal karirnya. Ia bercerita : Pada saat itu aku berusia sekitar 17 atau 18 tahun. Aku berhenti bekerja sebagai seorang pelaut dan kemudian bekerja di pabrik karpet di Yonkers New York sambil terus mencoba belajar menulis. Pada mulanya aku hanya membaca “Keats and Shelley”. Aku bagai berada di dalam bara api untuk jadi seorang penyair namun aku telah mempersiapkan diriku untuk tugas baru ini yang ternyata jauh lebih sulit dari pada memanjat tiang  atau mengecat geladak kapal.

 

Aku telah hampir putus asa ketika muncul perasaan sederhana ini.

Tetap duduk dan berharap/

tidak membuat orang menjadi besar/

Tuhan yang baik telah mengirimkan pancingnya/

Tapi kau harus menggali umpannya/

 

Bait ini gampang diingat dan entah bagaimana memberi keberanian yang aku butuhkan untuk terus melanjutkannya. Aku gali umpannya selama beberapa bulan dan akhirnya aku menemukan sebuah penerbitan yang mau menerima puisiku untuk pertama kalinya.

 

Pepatah yang dikutip di awal bagian ini menyatakan bahwa hidup itu adalah perjuangan. Hidup itu tidak mudah, hidup itu tidak instant, hidup itu tidak bisa easy going. Kita mesti berjuang agar menjadi pimpinan tanpa mesti melakukan berbagai manuver hingga bisa jadi pemimpin dan mengagetkan banyak orang; kita harus berjuang untuk menjadi senator, berjuang jadi politisi, berjuang hingga bisa naik ke eselon 2, berjuang untuk menjadi gubernur, berjuang ya berjuang untuk berbagai macam jabatan dan tugas. Ada berbagai bentuk  perjuangan yang mesti dilakukan manusia dalam hidupnya. Perjuangan mempertahankan hidup karena terjerat kemiskinan yang tiada pernah usai, perjuangan dalam mewujudkan hak-hak konstitusi dibidang politik, agama, perjuangan menghadapi tindakan diskriminasi.

 

Dan banyak lagi bentuk perjuangan yang harus dilakukan seorang manusia dalam hidupnya. Manusia juga berjuang untuk melayani dengan baik seseorang yang ia kasihi: anak, suami, istri, cucu, bunda yang telah mengandung bahkan para anggota keluarga besar. Seorang anak misalnya dalam usia yang tidak lagi muda dan sudah penyakitan harus berjuang merawat dan melayani ibunda yang sudah amat sepuh yang tidak bisa lagi berjalan. Ia mesti memandikan, menolong dan membersihkan pada saat b a b, mengobati decubitusnya, memantau kateternya, dlsb. Itu semua dikakukan dengan sukacita dan ikhlas tanda cinta kasih kepada ibunda tercinta. Hidup memang penuh perjuangan, dalam berbagai wujud dan bentuk. Hidup bukan hanya dan sekadar hidup. Hidup mesti bermakna, hidup yang mengasihi sesama dan mengasihi Allah seutuhnya, sepenuhnya.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here