Pdt. Weinata Sairin: Menjadikan Kekristenan Dinamik dan Misioner

0
615

“Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis : ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Roma 10 :15)

 

Gereja dan kekristenan tidak saja dipenuhi dengan “kata benda” tetapi juga “kata kerja” dan *imperatif*. Kondisi itu mencerminkan dengan jelas bahwa Gereja dan kekristenan bukanlah sebuah institusi yang ‘diam”, stagnan dan jalan ditempat. Gereja dan kekristenan lahir dan hadir di ruang-ruang sejarah, adalah sebuah komunitas, sebuah lembaga yang dinamik-misioner, yang bergerak, yang terus menerus gelisah berhadapan dengan realitas zamannya. Kekristenan tidak berhenti pada kata benda : manusia, bunga bakung, burung, gunung, bukit, dan sebagainya, tetapi.juga berlanjut pada kata kerja dan atau kalimat perintah : mengutus, berjalanlah, pergilah, jadikanlah, baptislah, ampunilah, jangan berbuat dosa lagi, dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Kekristenan yang pada awalnya melahirkan dan atau mewarnai kebudayaan manusia di abad abad pertama, kemudian membangun peradaban manusia sehingga mampu menghadirkan sebuah dunia modern yang beradab. Kekristenan bergerak terus, berkolaborasi dengan kebudayaan melahirkan manusia genius, menghasilkan produk-produk teknologi baru yang membantu manusia dalam mengelola bumi ciptaan Allah.

 

Kekristenan yang kontennya adalah kabar baik, kabar kesukaan, *good news*, “euanggelion” terus menerus, diperdengarkan, diperkenalkan, dijelaskan kepada banyak orang dari berbagai level dan latarbekakang. Berita Kesukaan, Injil sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan, *dunamos Allah* (Roma 1 : 16) harus dipromosikan lebih gencar ke segala penjuru, menembus ruang-ruang kehidupan, menjelajahi ruang dan waktu agar lebih banyak orang menikmati keselamatan Allah. The man in the street, kaum elit, politisi, petugas parpol, birokrat, petinggi kerajaan, setiap orang tanpa mempertimbangkan sara, perlu mendengar kabar kesukaan, agar mereka mengalami pembaruan diri, agar terjadi perubahan eksistensial.

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

 

Menarik sekali kotbah Pdt Dr. A.A. Yewangoe pada saat peneguhan organ Yayasan LAI 2018-2023 di Gedung LAI tanggal 23 Februari 2018 pk 15.00 yang mengupas bernas Kisah Para Rasul 8 : 26-31. Pdt Yewangoe menguraikan tentang tindakan Filipus yang atas perintah malaikat Tuhan berangkat menuju posisi jalan menurun dari Yerusalem ke Gaza. Seorang pembesar Etiopia sesudah ibadah di Yerusalem, sedang dalam perjalanan pulang. Ia duduk didalam keretanya sambil membaca kitab Nabi Yesaya. Roh memerintahkan Filipus agar merapat ke kereta itu. Sang Pembesar membaca kitab suci dengan *suara keras* seperti kebiasaan saat itu, kata Pdt Yewangoe.

 

Pada titik itu Filipus bertindak. Ia bertanya apakah tuan *mengerti* apa yang tuan baca? Sebuah pertanyaan krusial dan fundamental diajukan Filipus dengan cerdas. Memang tak ada jaminan seseorang yang membaca dengan keras teks kitab suci, bahkan teks asli bahasa Ibrani atau Yunani serta merta faham konten dari teks itu ! Dengan jujur sang pembesar Etiopia itu menjawab “bagaimana aku mengerti jika tak ada yang membimbing aku?”. Lalu ia meminta Filipus naik ke dalam kereta dan duduk disamping sang pembesar.

 

Filipus clever dan penuh hikmat. Ia dengan penuh kesabaran menjelaskan maksud teks Yesaya yang dibaca itu; Filipus dengan sigap memberitakan Injil kepada pembesar Etiopia itu. Pembesar itu kemudian mengugkapkan credo  “Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah” ( Kis. 8:37 b).

 

Sang Pembesar percaya kepada Yesus karena peran Filipus. Itulah sebabnya sikap percaya itu diwujudnyatakan dalam bentuk kesediaan untuk *dibaptis* (Kis. 3:38). Ia dibaptis karena ia percaya. Ada pepatah “Credo ut intelligam”, Aku percaya supaya mengerti. Ada juga pepatah yang berbunyi. “Credo quia absurdum”, Aku percaya karena (hal itu) mustahil. Pembesar Etiopia itu bukanlah Tertullianus yang percaya karena mustahil; “ia percaya supaya mengerti”. Peran LAI di masa depan di era digital tetap tidak berubah yaitu bagaimana menyiapkan Alkitab yang bahasanya bisa dimengerti dengan baik yang bisa membawa orang untuk percaya kepada Kristus. Dalam penerjemahan Alkitab kata Pdt Yewangu ada inspirasi dan interpretasi.

Baca juga  Kebiasaan Hidup yang Membawa Kebahagiaan: Memilih untuk Bersukacita

 

Dengan mengacu pada Dr Arie de Kuiper dosen STT Jakarta yang pernah mnyampaikan orasi Dies STT Jakarta tahun 60-an seputar topik Inspirasi dan Interpretasi, Pdt Yewangu yakin bahwa para penerjemah Alkitab di LAI mendapat inspirasi dari Roh Kudus dalam pelaksanaan tugas penerjemahan yang dilakukan.

 

Ayat Alkitab yang dikutip dari Roma 10 : 15 memberikan aksentuasi yang kuat bahwa kekristenan yang dinamik dan misioner itu membutuhkan banyak hal : ada Alkitab, ada orang yang diutus, ada orang yang memberitakan kabar baik hingga akhirnya berita kesukaan itu didengar oleh semua orang, dan titik kulminasinya adalah berdasar kisah Filipus : orang menjadi *percaya* kepada Kristus dan *dibaptis*. Dalam konteks itu LAI dan Gereja harus makin memantapkan kerjasama, sinergi dan networking sehingga Alkitab yang disiapkan oleh LAI itu diperkenalkan oleh Gereja kepada orang banyak, lalu mereka percaya dan dibaptis.

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

 

*Weinata Sairin*.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here