Kunci Utama Bagi Kemajuan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

0
838

Oleh: P. Adriyanto

 

 

“Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian.”

(Amsal 3:13)

 

Sangat mengejutkan sekaligus memprihatinkan bahwa sesuai laporan dari WDR (World Development Report), World Bank bahwa kita tertinggal 25 tahun dalam membaca dan 75 tahun dalam bidang science dibanding dengan 30 negara anggota OECD seperti, Amerika, Belanda, Korea Selatan, Jepang, menyusul China.

Hanya dalam hal membaca saja kita ketinggalan 25 tahun, dan ini tidak mengherankan karena sebagian besar bangsa kita tidak suka membaca. Perpustakaan sepi pengunjung dibanding dengan karaoke. Lebih menyedihkan lagi bahwa kita tertinggal satu generasi lebih dalam bidang ilmu pengetahuan, padahal pemerintah sudah mengalikasikan 20% dari APBN untuk bidang pendidikan ini.

Memang untuk memajukan pendidikan perlu langkah-langkah integratif dari pendidikan rohani, gizi, metode pendidikan, kesejahteraan/income per capita, dll.

 

Tahukah anda perbedaan antara seekor hedgehog (landak) dan wolf?

Hedgehoc mengetahui hal-hal yang sedikit tapi mendalam, dibanding dengan wolf (serigala) yang tahu banyak tapi hanya kulitnya saja?

Demikian sama halnya dengan sistem pendidikan kita. Sejak SD anak-anak sudah dicekoki dengan berbagai pelajaran. Yang saya tahu pendidikan akuntansi tingkat S1 dan S2, tidak akan meningkatkan kualitas para sarjana akuntansi karena terlalu banyak mata kuliah non akuntansi dan keuangan yang diberikan.

Pada saat saya menjabat sebagai Vice President, Columbia, saya kesulitan merekrut para pelamar yang mumpuni dalam bidang akuntansi dan keuangan terutama bidang auditing walau IPK mereka banyak yang mendekati 4.0.

Bandingkan dengan program pasca sarjana yang 32 tahun lalu saya ikuti. Para mahasiswa dibiasakan mengerjakan tugas-tugas lab dengan komputer. Sebagai contoh, para mahasiswa ditugasi untuk menyusun laporan keuangan, menyiapkan cash flow dan melakukan audit berdasarkan data mentah yang sangat banyak.

Seharusnya, pada abad digital saat ini, pendidikan harus bertumpu pada digitalisasi.

Pada tahun 70’an, anak dari teman saya yang kuliah di Belanda, sudah pakai aplikasi komputer dalam melakukan berbagai analisis keuangan.

Pada saat saya bekerja di Proyek Bendungan dan PLTA Karangkates, saya juga heran mengapa sebagian insinyur mesin kalah keahliannya dalam overhauling dan perbaikan mesin dibanding dengan para lulusan STM yang sudah dilatih oleh tenaga teknisi Jepang (Kajima) yang juga lulusan STM.

Fakta-fakta di atas membuktikan bahwa pendidikan nasional kita lebih berorientasi untuk mencetak sarjana-sarjana teoritis yang tidak siap bekerja.

 

Saya tidak akan mengulas lebih panjang lagi tentang kesenjangan (gap) pendidikan di atas, tapi saya akan coba menyoroti dari sudut pandang lain.

Tuhan sangat mencintai Indonesia. Setahu saya, tidak ada satu negarapun di dunia ini yang diberkati Tuhan dengan kekayaan alam yang luar biasa.

Sementara China/Hwa Wei setengah tahun yang lalu sudah mengalahkan Amerika dalam teknologi internet dengan 5G, kita masih berdebat lebih pada persoalan politik.

Sayang bangsa kita kurang mensyukuri karunia yang telah Tuhan berikan. Kekayaan yang berlimpah lebih banyak dikorupsi ketimbang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. KPK yang berusaha keras memberantas korupsi, dimusuhi. Penggusuran hunian kumuh dan dipindah ke rumah susun untuk meningkatkan kesejahteraan para penduduk terkait, mendapat tentangan. Pembangunan reklamasi untuk meningkatkan kesejahteraan, dicurigai hanya untuk golongan tertentu. Penerapan teknologi informasi disalah-gunakan untuk menyebarkan kebencian dan online taxi didemo berkepanjangan. Jadi kapan kita bisa maju??. Pemerintahan Jokowi-JK yang nyata- nyata sudah membawa kemajuan ekonomi dan pembangunan bahkan diakui oleh institusi-institusi dunia, masih banyak mendapat cercaan. Kesemuanya ini sangat mendukakan hati Tuhan. Belum lagi kita berbicara tentang radikalisme dan narkotika.

 

Kita harus menghindari pertentangan-pertentangan dan fokus pada perkembangan ilmu pengetahuan. Perhatikan peringatan Tuhan di bawah ini:

*”Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan  yang berasal  dari apa yang disebut pengetahuan.”*

*1 Timitius 6:30*

 

Tuhan adalah sumber dari segala hikmat dan ilmu pengetahuan dan kita akan menerima kesemuanya itu bila kita hidup dalam kasih. Kita harus melakukan lompatan raksasa dalam mengejar ketertinggalan pengetahuan, sehingga tidak selamanya menjadi sekedar pengguna/user dari temuan-temuan baru bidang teknologi.

Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here