Berani Karena Benar

0
1437

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

 

Amsal 28:1-6

(1) Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda. (2) Karena pemberontakan negeri banyaklah penguasa-penguasanya, tetapi karena orang yang berpengertian dan berpengetahuan tetaplah hukum. (3) Orang miskin yang menindas orang-orang yang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan. (4) Orang yang mengabaikan hukum memuji orang fasik, tetapi orang yang berpegang pada hukum menentangnya. (5) Orang yang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari TUHAN mengerti segala sesuatu. (6) Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya.

 

Untuk bertumbuh di jalan kasih, dibutuhkan keberanian. Berani karena benar. Itulah prinsip yang harus dipegang oleh setiap pengikut Kristus. Menjadi pengikuti Kristus berarti menjadi “prajurit” Kristus. Maksudnya, siap berjuang dan memperjuangkan kebenaran yang diajarkan Kristus. Kebenaran Allah selalu membangun dan membawa manusia kepada pemulihan citra dirinya sebagai imago Dei (gambar Allah). Di luar itu, yang terjadi adalah penyangkalan diri kita sebagai gambar Allah.

Hati-hati, jangan sampai kita berkompromi dengan kefasikan, apalagi memuji tindakan-tindakan orang fasik. Kalau hukum-kebenaran Allah tidak ada di hati kita, maka, seperti dikatakan dalam Amsal 28:4 kita akan memuji orang fasik. Tetapi orang yang berpegang pada hukum-kebenaran Allah, pasti akan menentangnya. Jangan takut untuk berbicara dan terutama untuk menentang segala bentuk kefasikan. Ingatlah janji dan jaminan Tuhan dalam 2 Timotius 1:7: “… Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

Ketika jemaat Filipi mengalami ancaman perpecahan karena munculnya tokoh-tokoh yang hendak menancapkan pengaruhnya di tengah-tengah jemaat yang selama ini mengikuti ajaran Injil dari Paulus, Paulus mengamanatkan agar mereka “teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman … dengan tiada digentarkan sedikit pun oleh lawanmu” (Flp. 1:27-28). Mereka didorong untuk berani memperjuangkan kebenaran berdasarkan imannya kepada Yesus Kristus.

Tentu harus diingat, keberanian yang dimaksudkan di sini bukanlah “nekad”. Apa bedanya “berani” dan “nekad”? Nekad adalah tindakan yang didasari pertimbangan diri sendiri. Sementara “berani” adalah tindakan yang dilakukan di dalam Tuhan dan demi Tuhan. “Nekad” sering kali muncul untuk menutupi kesalahan, tetapi “berani” muncul untuk menegakkan kebenaran. Amsal 28:1 mengatakan: “Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda”. Orang fasik selalu menguatirkan dirinya. Ia selalu digelisahkan oleh hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Ia melindungi diri padahal tidak ada yang mengancamnya. Sebaliknya, orang yang hidup dalam kebenaran Tuhan selalu merasa aman. Ia tenang karena ia percaya akan pertolongangan Tuhan yang selalu datang dalam setiap situasi yang dimasukinya.

Ada sebuah kisah tentang seorang yang baru bertobat di suatu negara komunis. Penguasa setempat mengetahui hal itu lalu menangkap petobat baru tersebut. Ia ditarik seperti keledai, menempuh perjalanan yang sangat jauh. Sepanjang perjalanan, orang menyiksa dan meludahi mukanya. Setiba di ibukota, ia ditanya apakah bersedia melepaskan kembali kepercayaannya yang baru. Ia menolak, akibatnya satu lengannya ditebas habis. Untuk kedua kalinya ia ditanyai hal yang sama, dan tetap menolak. Tangannya yang lain melayang, dan akhirnya kepalanya.

Berita itu sampai ke telingan misionaris yang bertugas di negara itu. Sang misionaris ditanya apakah situasi cukup aman untuk melanjutkan kembali kegiatan misinya. Ia menjawab, “Masalahnya bukanlah soal aman atau tidak aman, tetapi taat atau tidak taat. Dalam hal ini Tuhan tidak memberi pilihan lain. Ia tetap melakukan pekerjaannya. Beberapa hari kemudian ia kedapatan mati terbunuh oleh orang tak dikenal. Nekadkah misionaris ini? Tidak! Ia cuma berusaha berpegang pada janji Allah. “Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya …” (Yeh. 3:9). Ngeri, ya? Tetapi sekali lagi, untuk iman, kita sering kali tidak diberi pilihan lain, selain bertindak menunjukkan iman kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here