Mengucap Syukur dan Beribadah

0
2304

Pdt. Andreas Loanka

BGA dari Ibrani 12:18-29

Penulis Surat Ibrani dalam bagian sebelumnya telah mengingatkan kita tentang:
– Keselamatan: agar kita tidak menyia-nyiakan keselamatan besar yang dikaruniakan Allah (Ibr. 2:3);
– Iman: agar jangan ada yang mengeraskan hati karena tipu daya dosa sehingga tidak percaya kepada Tuhan (Ibr. 3:12-19);
– Kedewasaan: agar kita tidak hanya menjadi bayi-bayi rohani, melainkan terus bertumbuh menjadi orang-orang Kristen dewasa yang mengalami perkembangan yang penuh di dalam Kristus (Ibr. 5:11-6:3).
– Ketekunan: agar kita tetap bertekun di dalam Tuhan, agar sesudah melakukan kehendak-Nya, kita memperoleh apa yang dijanjikan-Nya itu (Ibr. 10:19-39).

Dalam perikop Ibrani 12:19-29 penulis Surat Ibrani mengingatkan kita tentang mengucap syukur dan beribadah kepada Allah dengan cara yang berkenan kepada-Nya.

Kepada kita dipaparkan tentang Gunung Sinai dan Bukit Sion yang sangat kontras. Kita diingatkan pada pengalaman umat Israel di Gunung Sinai, di mana ada api yang menyala-nyala, kekelaman, kegelapan dan angin badai, serta bunyi sangkakala. Pemandangan itu sangat mencekam dan mengerikan bagi umat Israel, termasuk Musa. Bahkan Musa sendiri berkata, “Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar” (Ibr. 12:18-21).

Kita tidak datang ke Gunung Sinai yang tak tersentuh dan menakutkan itu, melainkan ke Bukit Sion, kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi. Di Bukit Sion kita bersekutu dengan beribu-ribu malaikat, jemaat anak-anak sulung, dan saudara-saudari di dalam Tuhan. Di sana kita bersekutu dengan Tuhan Yesus, pengantara perjanjian baru, yang melalui percikan darah-Nya di kayu salib membuka jalan masuk bagi kita kepada Allah, hakim yang adil, dan mengalami berkat-Nya.

Percikan darah Kristus berbicara lebih kuat dari darah Habel yang berteriak kepada Allah dari tanah (Kej. 4:10), karena darah Kristus yang meneguhkan perjanjian yang baru dan membuka jalan perdamaian antara manusia dengan Allah (Ibr. 12:22-24).

Baca juga  TINGGAL DALAM KRISTUS

Oleh karena itu, hendaklah kita waspada supaya kita tidak menolak Dia, yang berfirman. Tetapi hendaklah kita senantiasa mengucapkan syukur dan beribadah kepada Allah dengan cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan (Ibr. 12:25-29).

Syalom dan Tuhan memberkati.

Salam dan doa dari:
Pdt. Andreas Loanka
GKI Gading Sepong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here