Pdt. Weinata Sairin: “A room without books like a body without soul” (Cicero)

0
865

Buku memiliki makna yang amat penting dan strategis dalam kehidupan umat manusia. Buku ternyata bukan hanya sebuah benda yang didalamnya terhimpun berbagai pemikiran, ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi dalam kasus-kasus tertentu buku menjadi sebuah kekuatan yang bisa mempengaruhi banyak orang. Buku yang memuat pemikiran revolusioner bisa saja menjadi inspirasi dan pemicu bagi lahirnya sebuah kekuatan baru untuk menghancurkan kekuatan yang sudah dianggap mapan dan tidak lagi memiliki pemikiran masa depan yang profetik. Buku itu sendiri sebagai _benda_ adalah wujud kemajuan peradaban umat manusia. Benda ini terbuat dari lembaran kertas yang dicetak, dilipat diikat pada punggungnya.

 

Melalui literatur kita mengetahui bahwa di zaman purbakala, bahan yang digunakan untuk buku bukan kertas. Di Eropah pada awalnya orang menggunakan papirus, yaitu kulit pohon yang di keringkan disambung dengan perekat dan digulung dalam silinder. Dalam bahasa Yunani silinder disebut _volume_; hingga kini istilah tersebut digunakan dalam bahasa Inggris dan Prancis yang dimaknai sebagai *jilid*. Papirus banyak terdapat di negara-negara sekitar Laut Tengah, terutama Mesir. Pada sekitar abad ke-7 ketika papirus sulit diperoleh, maka orang Eropah menggunakan _perkamen_ yaitu kulit binatang misalnya domba, sapi, keledai yang dimasak menjadi tipis dan licin. Perkamen yang sudah ditulisi kemudian dilipat dan disusun dalam bentuk buku seperti sekarang.

 

 

Perkembangan buku berlangsung terus seiring dengan perkembangan intelektual dan kultural manusia. Sesudah papirus, perkamen, lontar bahkan konon di Babilon kertas dibuat dari tanah liat, di China dari potongan-potongan kain. Pembuatan buku menjadi cukup pesat pada abad ke-15 ketika Guternberg di Jerman dan Laurens J. Koster di Belanda menemukan mesin cetak yang pertama.

 

Manusia  mengungkapkan pemikirannya dalam bentuk tertulis kemudian diterbitkan dalam sebuah buku. Dengan demikian buku berfungsi sebagai penyebar ilmu, pewarta gagasan dan ide-ide brilian cerdasbernas dari seseorang sehingga gagasan itu bisa diketahui lebih cepat oleh lebih banyak orang dan ditempat yang berbeda. Buku menjadi bagian dari kehidupan manusia. Orang merasa tidak lengkap jika tidak membaca buku yang baru. Seorang *bookaholik* menghabiskan waktunya untuk mendapatkan sebuah buku terbaru, atau buku langka/buku antik yang sudah sulit ditemukan ditoko buku. Sebuah toko buku langka di Taman Mini Indonesia Indah pernah menjual buku langka (dan terlarang) yang dikarang Salman Rushdi dengan harga yang mahal tiga tahun yang lalu. Ada seorang ternama menyatakan “katakan buku apa yang kau baca, nanti akan aku tahu siapa pribadimu”. Buku lekat dengan kedirian seseorang. Seorang pembaca karya Pramudya Ananta Toer, WS Rendra, Paul Chelho, Mark Twain, Garcia Lorca atau siapapun memiliki karakter khusus yang tidak dimiliki orang lain.

 

Buku cetak memang mengalami penurunan produksi sesudah dunia memasuki era digital. Dunia internet menawarkan informasi terkini dan tercepat bagi masyarakat sehingga realitas itu ikut mempengaruhi keberadaan buku cetak. Orang dengan mudah membaca buku melalui internet dan merasa tidak perlu untuk memiliki buku cetak. Namun ada juga orang yang tetap merasa lebih afdol dan terus memburu buku cetak karena ia lebih suka membaca buku cetak dari pada membaca buku melalui internet.

 

Apa yang dinyatakan Cicero pada bagian awal tulisan ini amat menggelitik bahkan menantang kita : ruangan tanpa buku ibarat tubuh tanpa jiwa. Sebuah ajakan dan sekaligus sindiran yang tajam. Ada banyak soal dibelakang ungkapan Cicero ini. Belum tentu kita punya “room”, apalagi “house”! Apakah yang sudah punya “room” masih ada celah kecil untuk memajang buku? Apakah masih tersisa dana untuk membeli buku? Adakah waktu untuk membaca buku? Sebagai filsuf besar tentu Cicero tak harus ikut mengurus hal-hal detil dan kasuistik seperti itu! Lesson learn dari ungkapan Cicero itu adalah bahwa buku menjadi amat penting dalam kehidupan manusia. Buku-buku ilmu pengetahuan, etika, moral, sastra, kebudayaan, filsafat, selain buku-buku keagamaan menjadi penting untuk mengedukasi seluruh warga bangsa. Kita sudah punya UU tentang perbukuan, kita berharap buku-buku yang terbaik akan banyak ditulis demi memperkuat NKRI menuju masa depan berkeadaban.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here