Pdt. Weinata Sairin: “Bene qui latuit bene vixit: Yang berada dalam keadaan yang baik adalah dia yang hidup dengan baik.”

0
1166

 

 

Setiap kali kita bertemu dengan seorang sahabat, dimanapun, biasanya hal pertama yang kita ucapkan adalah sapaan “Apa kabar!”. Ini sapaan yang standar yang selalu diucapkan pada saat berjumpa. Dan biasanya sahabat kita itu menjawab: “Ya saya baik baik saja.!” Jawaban ini juga standar bahkan penuh dengan aroma formalitas. Walaupun saat itu ia sedang sakit, yang tidak terlihat secara ‘kasat mata’ ia akan tetap menjawab ‘baik-baik’ saja. Kata ‘baik’ acap dimaknai dalam banyak perspektif; baik dalam arti ‘sehat’ tidak dalam keadaan sakit; atau juga ‘baik’ dalam keadaan yang ‘normal, biasa, aman, tak ada masalah’.

 

Namun kata “baik” pada ‘Surat Keterangan Berkelakuan Baik’ memiliki makna yang mengacu pada moral. Seseorang yang ingin melamar pekerjaan, membuka usaha Ojek On line misalnya harus memiliki Surat Keterangan Berkelakuan Baik yang dikeluarkan oleh pemerintahan setempat.

 

Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKBB) kini sudah diganti dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang dikeluarkan oleh Polri dan masa berlakunya 6 bulan. SKCK ini berisi catatan tentang perilaku kejahatan seseorang, dan warga masyarakat bisa memperoleh surat tersebut di kantor polisi setempat dengan membawa surat pengantar dari kelurahan tempat kita berdomisili. Surat Keterangan seperti ini memang sebuah dokumen resmi dan penting yang mesti dimiliki warga masyarakat tatkala ia ingin melamar pekerjaan dan atau aktivitas lain yang memang membutuhkan dokumen seperti itu. Dari berbagai pengalaman praktis, dokumen tertulis seperti itu tidak seterusnya dan sepenuhnya menjamin _kebaikan_ perilaku seseorang. Ada kasus misalnya seorang pejabat yang acap memberi ceramah tentang anti korupsi dan bersuara lantang untuk melawan korupsi bahkan mendapat piagam sebagai orang yang berperilaku baik, namun ternyata ia adalah koruptor yang hebat !

 

Kata “baik” dalam beberapa waktu terakhir ini nyaris hanya sebuah kata yang hanya bisa kita baca di kamus bahasa, tetapi *baik* secara konkret dan nyata, yang mewujud dalam kehidupan menjadi berkurang. “Berbuat baik” tidak selalu harus dalam hal-hal besar dan spektakuler. “Berbuat baik” dapat dimulai dari hal-hal sederhana dan yang dianggap kecil.

 

Ini cerita tentang kebaikan hati seorang Mussolini. Tatkala masih bocah, Benito Mussolini pernah bangun lebih pagi dari biasanya untuk pergi ke sekolah. Ia telah kehilangan bukunya sehingga ia harus segera pergi ke sekolah tanpa sempat lagi sarapan. Di dalam kelas waktu terasa berjalan amat lambat sehingga ia mulai merasa lapar. Akhirnya pada saat makan siang tiba dan Benito yang lapar itu mengeluarkan makanannya ia merasa lega.

 

Namun ketika ia dengan penuh semangat ingin melompat karena temannya menatapnya, ia terhenyak sesudah ia tahu bahwa temannya itu tak punya apa-apa untuk dimakan. Lalu Benito memberikan makanannya itu semuanya kepada temannya itu. “Terimakasih. Tapi bagaimana denganmu?” kata kawannya yang melihat bahwa Benito tak punya makanan. “Aku tak punya selera makan hari ini” jawab Benito. Jawaban Benito Mussolini amat cerdas karena menyebut tentang _selera_ sehingga tidak menimbulkan debat apalagi diskursus yang panjang. Kebaikan Benito disini bukan saja dalam hal ia memberikan *semua makanannya* untuk kawannya yang tidak punya makanan, tetapi juga dalam memberi jawaban cerdas kepada temannya. Dan inilah keunggulan seorang Benito Mussolini!

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menarik untuk dihayati : ‘yang berada dalam keadaan yang baik, adalah dia yang hidup dengan baik”. Jika kita hidup dengan baik, penuh kebajikan, beramal  dan sedekah tak kenal waktu, mempersembahkan dan bersyukur kepada Tuhan senantiasa, mengasihi sesama, merajut tali silaturahim dengan banyak orang, hidup menurut hukum agama dan hukum positif, maka kita akan selalu dalam keadaan baik.

 

Mari kita berbuat baik sebanyak-banyaknya dalam hidup ini sambil menanti panggilanNya yang waktunya tak pernah kita tahu.

 

Selamat Berjuang. God bless.

 

Oleh: Pdt. Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here