Allah Tidak Berlaku Curang

0
2940

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Ayub 34:10-15

(10) Oleh sebab itu, kamu orang-orang yang berakal budi, dengarkanlah aku: Jauhlah dari pada Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari pada Yang Mahakuasa untuk berbuat curang. (11) Malah Ia mengganjar manusia sesuai perbuatannya, dan membuat setiap orang mengalami sesuai kelakuannya. (12) Sungguh, Allah tidak berlaku curang, Yang Mahakuasa tidak membengkokkan keadilan. (13) Siapa mempercayakan bumi kepada-Nya? Siapa membebankan alam semesta kepada-Nya? (14) Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya, dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya, (15) maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu.

 

Ayub 34:10-15 adalah sebagian dari perkataan-perkataan Elihu kepada Ayub. Elihu adalah sahabat Ayub. Usianya masih mudah, bahkan lebih muda dari sahabat-sahabat Ayub lainnya. Ia mengambil kesempatan untuk menasihati Ayub yang sedang kecewa kepada Allah karena penyakit yang dideritanya. Sebagian besar kata-kata Elihu terkesan menggertak, condong menyudutkan Ayub dan berlagak ‘sok berhikmat.’ Sekalipun demikian, tidak dapat disangkal bahwa beberapa perkataannya sangat bernas dan perlu direnungkan baik-baik oleh Ayub. Perkataan-perkataan Elihu yang bernas itu diantaranya terdapat dalam bacaan kita hari ini.

Elihu benar ketika mengatakan bahwa Allah jauh dari keinginan melakukan kefasikan dan kecurangan. “Sungguh, Allah tidak berlaku curang, yang Mahakuasa tidak membelokkan keadilan” (ayat 12). Kata-kata ini diberikan pada saat yang tepat, yakni ketika Ayub benar-benar merasa keccewa dengan Tuhan. Ayub merasa bahwa Tuhan dengan sengaja telah membuatnya menderita.

Kata-kata Elihu tidak semata-mata diungkapkan kepada Ayub saja. Elihu juga menujukan kata-katanya ini kepada orang-orang berhikmat dan berakal budi supaya dengan hikmat dan akal budinya menyadari bahwa Allah sama sekali tidak berbuat curang atau berlaku tidak adil.

Allah tidak pernah berbuat curang dan bertindak tidak adil. Dari dulu sampai sekarang bahkan sampai selama-lamanya, Allah tidak akan berbuat curang dan bertindak tidak adil. Dia adalah Allah yang penuh kasih. Seluruh tindakan-Nya adalah kasih. Jika kita ingin meringkaskan tindakan Allah yang penuh kasih, maka dapat dirumuskan dalam kalimat berikut: “Dari kasih, untuk kasih dan oleh kasih.” Akan tetapi tetap saja ada orang yang berpikir bahwa Allah berbuat curang dan tidak adil terhadap dirinya. Pikiran atau anggapan seperti itu sering muncul pada saat seseorang mengalami penderitaan yang amat panjang. Akibatnya ia frustrasi dan menuding Allah sebagai bertindak tidak adil terhadap dirinya. “Mengapa saya harus menderita begini, sedangkan orang lain tidak?” demikian kalimat yang sering muncul dari mereka yang frustrasi dengan penderitaannya.

Apakah Allah memang bertindak tidak adil terhadap mereka yang menderita, khususnya yang menderita dalam jangka waktu yang amat panjang? Tidak! Dengarkan sekali lagi firman berikut ini: “Sungguh, Allah tidak berlaku curang, Yang Mahakuasa tidak membengkokkan keadilan.”  Allah mengasihi manusia. Dalam penderitaannya pun Allah tetap mengasihinya. Kita perlu taat dan tabah menghadapi penderitaan masing-masing, karena akan datang saatnya di mana Allah akan menyatakan pembebasan-Nya. Karena itu, sekalipun menderita tetaplah berserah kepada-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here