Pdt. Weinata Sairin: “Nescis quid vesper (serus) vehat: Kamu tidak tahu apa yang akan dibawa oleh malam yang larut”.

0
513

 

 

Kata “malam” acapkali memiliki nuansa yang agak bermisteri. Suasana malam yang biasanya gelap, hitam pekat memang amat kontras dengan siang.  “Siang” biasanya diasosiasikan dengan sesuatu yang ‘putih’, ‘clear’, ‘jelas’ dan tidak mengandung nuansa misteri. Malam acap membuat kita tak mampu menangkap secara utuh dan tepat kedirian seseorang.

 

‘Malam’ sebab itu banyak dijadikan judul tulisan, nyanyian atau juga mengilhami para pelukis dalam mengekspresikan darah seninya. Chairil Anwar penyair Indonesia terkenal, menulis puisi berjudul “Malam” yang dimuat dalam sebuah majalah sastra tahun 1957.

 

*Malam*

Mulai kelam

Belum tentu malam

Kami masih berjaga

Thermopylae ?

 

Jagal tidak dikenal

Tapi nanti

Sebelum siang membentang

Kami sudah tenggelam hilang.

 

Berbeda lagi untaian kata seorang penyair Italia bernama Giovanni Strozzi (1475-1564) yang bicara tentang Malam.

 

*Tentang Malam*

Malam yang kau lihat disini, bersikap indah

Tidur nyaman, dipahat di dalam batu oleh Malaikat.

Tidurnya berisi hidup.

Kau tak yakin? Bangunkan. Ia bicara.

(Puisi Dunia Jilid.1, M. Taslim Ali, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta 1961)

 

“Malam” memberi banyak inspirasi bagi para penyair untuk merajut kata-kata indah yang membentuk sebuah puisi. ‘Malam’ memiliki perspektif sendiri bagi banyak orang, bahkan _malam_ bisa jadi menghadirkan trauma dan stigma bagi seseorang. Waktu kita masih kecil acapkali orangtua kita berpesan: “nanti jangan sampai malam ya perginya!” Atau “Sekarang saja perginya ke rumah teman, nanti keburu malam lebih sulit”. Malam, situasi yang gulita menghadirkan kekuatiran tertentu bagi para orangtua bagi anak-anak mereka yang masih kecil.

 

Tapi _malam_  juga sebagai bagian dari rangkaian waktu selalu memiliki pengharapan. Sering kita dengar seorang berkata “Nanti malam kita mendapat info apa diagnosis dokter terhadap penyakit yang diderita kawan ini”. Atau “Kawan saya berjanji untuk bertemu saya malam ini dalam rangka penyelesaian masalah kami”. Tuhan, Khalik Semesta Alam menciptakan rangkaian waktu : pagi, siang, petang, malam sesuai dengan rencanaNya bagi manusia. Tiap-tiap waktu itu memiliki makna dan fungsi yang spesifik bagi manusia dalam ia mengemban karya terbaik ditengah ruang-ruang kehidupannya. Ada pekerjaan-pekerjaan yang secara spesifik di desain mengacu pada waktu-waktu yang tersedia. Pekerjaan/aktivitas X misalnya hanya cocok pada pagi hari, sementara pekerjaan/aktivitas Y hanya cocok pada malam hari.

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

 

Pepatah yang kita kutip diawal bagian ini mengingatkan kita bahwa potensi-potensi yang positif atau negatif bisa saja terjadi pada saat malam larut datang. Artinya baik pengharapan maupun sikap waspada masih tetap harus menjadi titik perhatian kita hingga larut malam. Jangan merasa semuanya sudah safe, sudah beres, kita harus tetap dalam posisi siaga hingga malam berangkat larut. Sebagai umat beragama kita harus terus berdoa agar sampai larut malam tiba, hal-hal positif dan bermakna yang hadir menjamah ruang-ruang kehidupan kita.

 

Selamat Berjuang. God Bless.

 

Oleh: Pdt. Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here