Bersama Melayani

0
1832

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

1 Tesalonika 5:14-18

(14) Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang. (15) Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang. (16) Bersukacitalah senantiasa. (17) Tetaplah berdoa. (18) Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

 

Sudah memasuki umur berapa hidup kita sekarang ini? Berapapun umur Anda, harapan saya adalah semoga intuisi pelayananmu semakin tajam. Dan, tentu juga, semangat rasulimu semakin berkobar. Kita hidup dari usia yang dianugerahkan Tuhan. Usia datang datang dengan seribu satu makna, salah satunya adalah untuk memanjangkan masa hidupmu. Karena itu renungkanlah dirimu sebelum melangkah lagi. Biasanya, momen pertambahan usia selalu menjadi kesempatan terbaik untuk berenung. Merenungkan tentang “hal-hal kemarin” untuk sikap kita terhadap “hal-hal esok.” Dalam hubungan kedua “hal-hal” itu, ada kesempatan untuk berpikir secara strategis. Strategis, karena kesempatan ini merupakan titik waktu krusial dalam sejarah hidup seseorang. Di dalamnya dia akan diperhadapkan lagi dengan pertanyaan misterius: “Kenapa saya ada? Mengapa saya hidup?” Eksistensi seseorang dipertanyakan. Nilai hakiki pertanyaan ini adalah untuk menemukan makna kehidupan dalam diri setiap orang. Hidup itu bermakna, bukan saja dari sudut manusia tetapi juga dari sudut sang Pencipta. Makna yang kedua ini harus mengayomi makna yang pertama supaya hidup manusia terarahkan.

Mengapa dan untuk apa kita ada? Jika pertanyaan ini dihayati dengan baik, maka terbukalah jalan bagi kita untuk (mau) memikirkan makna hidup dari sudut Sang Pencipta: Kita diutus untuk melayani! Apakah kita telah terlibat dalam pelayanan?

Pelayanan mempunyai sifat berkelanjutan, kapan dan di mana pun. Selain itu, kita harus mewujudkannya dalam prinsip kebersamaan. Sebuah pelayanan tanpa komitmen bersatu tidak akan berjalan efektif sebab akan ada yang merasa capek sendiri. Selain itu kebersamaan adalah panggilan Allah. “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan (=kebersamaan) dengan Anak-Nya…” (1 kor 1:9). Panggilan bersekutu ini mempunyai makna vertikal dan horisontal. Makna vertikalnya agar kita hidup bersama Kristus sementara makna horisontalnya ialah adanya kebersamaan di antara umat Kristus. Mustahil kita menyebut diri sebagai pengikut Kristus lalu pada saat yang sama menolak sesamanya yang juga adalah pengikut Kristus. Hasrat bersekutu dengan Kristus akan berbarengan dengan hasrat bersekutu antar sesama pengkikut Kristus. Persekutuan ini dijiwai oleh semangat saling menopang antar anggota.

Kalau kita mempelajari perilaku buaya, maka kita akan terkesan dengan satu hal, yaitu kebiasaannya sesudah makan. Biasanya, sesudah makan binatang buas ini akan beristrahat di tepi sungai sambil mengangakan mulutnya. Pada saat itu burung-burung kecil akan datang dan mencatot sisa-sisa daging yang terselip di antara gigi buaya. Inilah cara buaya membersihkan giginya. Coba bayangkan seandainya buaya itu mengatupkan mulutnya pada saat burung-burung kecil itu berada di antara giginya, pasti burung-burung itu mati binasa. Tapi buaya tidak melakukannya karena dia tahu burung-burung itu sangat berarti bagi dirinya. Sebaliknya burung-burung itu tanpa rasa takut masuk dengan nyaman ketika sang buaya mengangakan mulutnya. Tidak ada niat berbuat jahat antara kedua bela pihak. Apa yang dapat kita petik dari kisah ini? Yang dapat kita petik adalah: sikap saling menopang memperkuat kebersamaan!

Paulus sadar pentingnya saling menopang dalam kehidupan persekutuan, karena itu jemaat-jemaat yang dibangunnya selalu dinasihati untuk melakukannya. Salah satu nasihatnya yang bermuatan saling menopang ini boleh kita baca dalam 1 Tes 5:14-15. Katanya kepada Jemaat Tesalonika, “Tegorlah mereka yang hidup tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah.” Bahkan ia menandaskan, “Sabarlah terhadap semua orang dan jangan ada yang membalas kejahatan dengan kejahatan.”  Sungguh, menjadi kebersamaan yang indah jika setiap jemaat dan kelompok pelayanan melakukan apa yang dinasihatkan Paulus ini. Orang akan merasa nyaman berada di dalamnya. Bagaimana dengan kita dan kelompok kita? Saya percaya kebersamaan itu sudah kita miliki walaupun belum dapat dijamin sepenuhnya bahwa kebersamaan itu diikat oleh semangat saling menopang. Bukankah sering terjadi bahwa masih ada anggota kelompok yang merasa tidak nyaman bersekutu dengan kita sehingga ia menjadi terasing? Masih ada di antara kita yang hidupnya tidak tertib, masih ada di antara kita yang merasa kesusahan dan kita tidak peduli, bahkan masih ada prinsip membalas kejahatan dengan kejahatan? Sekaranglah waktunya bagi kita untuk meningkatkan kualitas kebersamaannya sehingga keindahannya semakin nyata dan memikat hati siapa pun yang melihatnya. Jika kebersamaan itu telah hidup dalam keindahannya, maka pada akhirnya kita akan berkata satu sama lain: “Betapa indahnya melayani Tuhan.” Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here