Tempore Lenitum Est Vulnus Meum. Dalam Perjalanan Waktu, Luka-lukaku Sembuh

0
443

 

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

 

 

Siapakah yang tak pernah mengalami *luka* dalam menapaki jalan kehidupan yang terkadang mesti mengahadapi jalan terjal atau juga menghadapi sebuah jalan penuh bukit batu dan tandus? Pada masa-masa kecil kita mengalami luka dalam berbagai peristiwa. Luka terkena pisau yang amat tajam. Luka terkena duri yang ada pada pohon bunga mawar. Luka tersayat pisau silet karena pisau itu tidak berada pada bungkusnya. Luka karena tersentuh duri kulit durian yang tajam menusuk. Luka dan luka kita alami karena ‘kenakalan’ kita atau karena ‘keingintahuan’ kita pada masa kanak-kanak.

 

Bisa juga kita mengalami luka oleh karena pedang,atau benda tajam yang lain ketika kita tidak hati-hati menggunakannya pada saat menebang pohon di kebun kita. Pada saat remaja kita mengalami “jenis luka” yang lain yaitu luka hati oleh karena cinta yang ditolak atau karena impian dan cita-cita kita yang tidak tercapai.

 

Dari pengalaman empirik, jelas bahwa hidup manusia dikelilingi oleh luka. Luka fisik atau luka non fisik. Luka fisik yang tidak ditangani dengan baik bisa juga berdampak lama dan berpengaruh pada bagian tubuh yang terkena luka. Luka pada dahi karena membentur kaca, luka pada kepala karena tertimpa benda keras dari bagian atas yang tidak terduga meninggalkan bekas kerutan pada bagian tubuh dimaksud. Luka fisik yang dialami para perempuan adalah juga luka oleh karena operasi. Terkadang karena posisi janin yang kurang baik untuk persalinan, maka dilakukan operasi ceasar bagi perempuan yang sedang hamil. Pisau operasi itu jelas melukai perut perempuan dengan cukup besar sehingga janin bisa dikeluarkan dari perut sang ibu hamil. Dengan teknologi kedokteran yang makin maju dan modern kerutan-kerutan bekas operasi di perut ibu hamil itu tidak lagi nampak sehingga estetika tubuh sang ibu pasca operasi terjaga dengan baik.

 

Harus kita catat dengan prihatin bahwa yang amat menderita dengan luka-luka fisik atau luka-luka batin adalah kaum perempuan. Perempuan menghadapi sekaligus luka fisik dan luka batin tatkala mereka mengalami apa yang sering disebut _kekerasan dalam rumah tangga_. Mereka mendapat kekerasan fisik dalam berbagai bentuk, dari lelaki, yang biasanya adalah sang suami tercinta. Dan sebagai tindak lanjut dari kekerasan fisik, biasanya diikuti oleh perceraian dan kemudian bisa juga berlanjut masing-masing mereka menikah lagi dengan orang baru. Ini tentu terjadi sesudah melewati hari-hari bertabur luka yang tidak selalu mudah untuk dihadapi.

 

Sebagai seorang yang beragama, luka fisik atau non fisik adalah bagian integral dari kehidupan. Kesemuanya terjadi untuk menempa kehidupan kita agar makin matang (mature) sehingga tetap mampu bertahan ditengah hempasan gelombang yang dahsyat menggelora. Kita selalu berdoa kepada Tuhan YME agar kita kuat, tangguh dan teguh dalam menghadapi luka-luka yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Kita akui, luka fisik relatif lebih cepat sembuhnya dibanding luka batin. Dalam kasus-kasus tertentu luka batin bahkan bisa terus terbawa hingga seseorang dijemput maut. Luka batin memerlukan penanganan khusus bahkan jika perlu dilibatkan teolog, psikolog, psikiater, tokoh agama. Tingkat kedalaman luka batin memang tergantung kepada kasusnya juga, dan banyak ditentukan oleh faktor pribadi seseorang. Kita tentu berharap semua “jenis” luka bisa sembuh sebelum maut menjemput agar perjalanan menuju ke kekekalan bisa berlangsung lebih ceria dan enjoy.

 

Pepatah yang dikutip diawal uraian ini menyatakan “luka-lukaku sembuh dalam perjalanan waktu.” Ya waktu bisa mengikis akar-akar pahit yang sempat menumbuhi taman kehidupan kita. Oleh niat baik kita dan anugerah Allah kita berharap bisa mengalami hal itu.

 

Selamat Berjuang. God bless.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here