LAPSUS CALAMI. LAPSUS LINGUAE. LAPSUS MEMORIAE: SALAH TULIS. SALAH UCAP. KEHILAFAN INGATAN

0
809

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

 

Manusia dalam konteks apa dan bagaimanapun, dalam kehebatan kuasa dan power yang sehebat apapun tetap saja seorang manusia. Manusia adalah sosok yang lemah, mudah terkecoh, gampang tergiur, tidak terlalu sulit untuk terpukau pada hal-hal baru yang berada diluar dirinya. Dalam awal sejarah penciptaan manusia oleh Khalik Maha Pencipta, digambarkan cukup jelas dalam Kitab Suci agama-agama antara lain Islam, Kristen, Katolik bahwa manusia tidak setia kepada apa yang diperintahkan oleh Allah.

 

Manusia tidak menyimpan perintah Allah itu dengan baik dalam memorinya, sehingga tatkala datang suara lain yang menggoda maka manusia langsung menerima suara yang menggoda itu dan sekaligus _mendelete_ perintah Allah dari file memorinya. Manusia lemah, dan manusia terjerembab dalam dosa karena mereka abai terhadap perintah Allah dan lebih suka dikendalikan egonya sendiri.

 

Tetapi kelemahan manusia yang telah merupakan “stigma” sejak zaman baheula tidak boleh menjadi pemaaf/execuse tatkala pada suatu saat melakukan kesalahan baik besar maupun kecil. Manusia adalah pembelajar sepanjang hayat maka mereka seharusnya bisa memperkecil kesalahan mereka.

 

Sosok manusia yang lemah tidak boleh mengantar manusia pada sikap _rendah diri_ sikap selalu mengalah dan menyalahkan diri sendiri, apalagi dalam artian tertentu memposisikan diri dalam frame “minority complex”. Figur manusia yang lemah sebagai “warisan sejarah” justru mesti menjadi pengingat bagi manusia agar mewujudkan hidup dengan lebih baik, tidak arogan, rendah hati, memiliki integritas dan tanggungjawab, hidup saling mengasihi kepada sesama serta mengembangkan sikap inklusif.

 

Dalam kenyataan empirik kita berhadapan dengan kasus-kasus kesalahan. Kesalahan dalam arti makro juga dalam arti mikro dan teknis. Kesalahan makro misalnya dalam policy, dalam menafsirkan ketentuan peraturan perundang-undangan, dalam mengurusi rakyat banyak yang beragam, dalam memperlakukan orang-orang dari berbagai suku, agama, ras dan antar golongan. Kesalahan yang dianggap mikro dan teknis misalnya kesalahan dalam mengetik SK, kesalahan dalam menyebut dengan tepat nama-nama ikan(!).

 

Siapapun kita, dimanapun kita berdiri, pejabat apapun kita, tinggal dimanapun kita, hidup kita dikerumuni.oleh begitu banyak kesalahan, besar atau kecil. Agama-agama mengajar kita agar hidup kita selalu dekat kepada Tuhan, menjalankan perintahNya dan introspeksi. Kita harus fokus, berjuang untuk menghindari berbagai kesalahan dalam menjalani kehidupan ini. Salah tulis, salah ucap apalagi khilaf ingatan punya dampak amat besar dalam kehidupan kita.

 

Pepatah kita sungguh memberi pengingatan yang cerdas bagi kita di zaman modern seperti sekarang. Mari berlaku cermat dalam hidup jangan membuat kesalahan.

 

Selamat berjuang. God bless

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here