“The whole of government consist in the art of being honest” (Thomas Jefferson)

0
678

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

Menurut buku “Logat Ketjil Bahasa Indonesia”, WJS Poerwadarminta, JB Wolters, Groningen, Jakarta, Tjetakan Ketiga, 1951, kata “djudjur”memiliki 2 arti yaitu I.wang jang dibajarkan kepada bakal pengantin perempuan II. lurus hati, tulus hati; kedjudjuran, sifat djudjur (tidak tjurang).

Dalam konteks kehidupan praktis makna ‘jujur’ yang kedua yang lebih populer yaitu ‘lurus hati, tidak tjurang”. Kejujuran, sikap berterus terang, tidak “back street”, mengatakan apa adanya sangat perlu dalam sebuah komunitas. Kualitas dan kedalaman sebuah relasi akan ikut dipengaruhi bahkan ditentukan oleh faktor kejujuran itu.

Dalam sebuah dunia modern yang didalamnya manusia hampir-hampir jatuh menjadi robot yang dikendalikan secara digital kejujuran tetap saja sangat penting. Kejujuran adalah sebuah sikap dari manusia ciptaan Allah yang mulia. Kejujuran adalah ibarat sebuah mata uang yang berlaku dimana-mana; jujur berkaitan dengan moralitas, realitas dan fakta. Itulah sebabnya kejujuran berangkat dari hati nurani seseorang.Keluhuran budi seseorang bisa dinilai antara lain dari aspek kejujuran yang ia miliki. Apakah ia seorang yang jujur, yang terus-menerus bersikap jujur ataukah kejujuran itu hanya mengenai hal-hal tertentu saja.

Kejujuran sangat diperlukan di semua aras, dalam kehidupan rumahtangga, dalam komunitas yang lebih luas, dalam kantor, di perusahaan, di bidang politik, di bidang ekonomi ya disegala bidang dan disemua aras. Dalam sebuah organisasi untuk menetapkan seorang Bendahara biasanya dicari orang yang jujur. Dengan seorang Bendahara yang jujur maka keuangan organisasi akan dapat dikelola secara sehat dan mandiri.

Berdasarkan pengalaman empirik sikap tidak jujur banyak ditemukan, a.l. dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, sosial kemasyarakatan, hukum. Maraknya terpidana kasus korupsi memberikan gambaran yang jelas bahwa praktek manipulasi / ketidakjujuran masih menjadi bagian dari sikap hidup manusia Indonesia. Hal yang menyedihkan praktek ketidakjujuran terjadi juga dalam bidang keagamaan, pada orang per orang dan atau pada lembaga yang mengurus bidang keagamaan. Jika ajaran agama terinternalisasi dengan baik dalam diri manusia Indonesia dan diwujudkan konsisten dalam kehidupan praktis maka sikap jujur itu mestinya benar-benar nyata ada dalam kehidupan kita membangsa dan menegara.

Realitas paradoks yang kita temui sekarang ini disebabkan agama-agama baru menjadi sekadar status, ciri pembeda, pegangan formalitas bahkan mungkin asesori, kosmetik dan apendiks dalam kehidupan kita. Adalah tugas lembaga agama tokoh agama untuk menjadikan agama sebagai roh dan nafas manusia Indonesia. Menarik pepatah yang kita kutip diawal tulisan ini bahwa keseluruhan pemerintahan itu semestinya berisikan seni menjadi jujur. Kejujuran memang seharusnya juga lahir di dunia government , bukan di dunia lain!

Selamat berjuang mewujudkan kejujuran ! God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here