Eropa Kini Menjadi Sarang Teroris: Sudah 50.000 Orang Eropa Menjadi Jihadis ISIS!

0
539

Oleh: Hotben Lingga

 

Jakarta, Suaraktisten.com.

 

“Ada sekitar 50.000 orang Eropa yang menjadi laskar jihad (tentara/pejuang) ISIS  saat ini.” demikian disampaikan Shared Kumar, Komandan badan  kontra-terorisme India, seperti yang ia nyatakan kepada Harian Hindustan Times. (16/11/15).

Shared Kumar menyatakan bahwa informasi tersebut dia peroleh dari sebuah konferensi para pimpinan polisI se Eropa pada bulan September 2015 lalu yang membahas kontra-terorisme dan deradikalisasi. India diundang ke konferensi tersebut karena terorisme kini menjadi ancaman global dan karena India juga bisa berpotensi menjadi “ladang subur kampanye, propaganda dan perekrutan kelompok radikal”.

“Eropa sudah dalam keadaan bahaya (lampu merah) saat ini. Gampang mengalami serangan teror kelompok jihadis. Belum lagi anggota-anggota dan sel-sel teroris kelompok Alqaida dan kelompok-kelompok teroris lainnya yang jumlahnya juga puluhan ribu orang di  Eropa. Hanya tinggal menunggu waktu saja, Eropa dam AS akan menjadi sasaran empuk serangan kaum radikal-ekstrimis ini,”tegas Kumar.

Sementara itu secara terpisah, kepada Suarakristen.com, pengamat masalah terorisme dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), Angel Damayanti, M.Sc, M.SI., menyatakan,”Ada beberapa faktor dan alasan mengapa kelompok ISIS melakukan serangan teror ke Perancis (Paris khususnya).

 

Pertama, ISIS menganggap Perancis dan Jerman (yang juga menjadi target serangan di Stadium Perancis ketika sedang ada pertandingan sepakbola antara tim Perancis melawan tim Jerman) adalah negara-negara Barat yang merupakan bagian dari Perang Salib, bersama-sama dengan Amerika Serikat (AS). Sebagai negara anggota NATO, serangan terhadap Perancis ini akan dianggap juga sebagai serangan kepada seluruh anggota NATO lainnya, terutama AS. Sama seperti Osama bin Laden (pemimpin Al Qaeda) yang mengeluarkan fatwanya di tahun 1996 dan 1998, ISIS juga menganggap musuh mereka saat ini adalah kelompok negara-negara Barat yang dianggap sebagai pendukung dari Perang Salib.

 

Kedua, Perancis adalah salah satu negara yang ikut mendukung AS dan terlibat aktif dalam perang melawan terorisme, khususnya terhadap ISIS belakangan ini. Sejak September 2014 lalu, Perancis menggelar operasi Chammal yang bertujuan untuk menghentikan pergerakan ISIS di Irak dan Suriah serta menghancurkan kelompok ISIS dengan melakukan serangan-serangan udara terhadap basis pertahanan ISIS di Mosul, Fallujah dan Kirkuk. Serangan di beberapa tempat di Paris pada hari Jumat (13/11) lalu dan menewaskan lebih dari 120 orang ini, dianggap sebagai balasan dari kelompok ISIS terhadap pemerintah Perancis.

 

Ketiga, ISIS mulai berani melakukan penyerangan di luar Irak dan Suriah, dengan Paris sebagai target pertamanya karena Perancis merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di Eropa. ISIS mengerti benar bahwa tindakan keras yang nantinya akan digunakan oleh pemerintah AS, Perancis dan negara-negara Eropa lainnya terhadap umat Islam, dapat dijadikan sebagai alat propaganda untuk mendapatkan dukungan dari umat Islam di Perancis, Eropa dan seluruh dunia. Dengan memanfaatkan media online dan sosial seperti youtube, ISIS kemudian akan menyebarkan berita kekejaman negara-negara Barat terhadap umat Islam untuk memperoleh dukungan finansial dan melakukan rekrutmen terhadap anak-anak muda yang siap melakukan jihad dan menjadi martir.

 

Keempat, Selama ini ISIS dianggap hanya berani melakukan aksinya di Irak dan Suriah. Namun serangan di kota Paris beberapa hari lalu, akan menjadikannya sebagai kelompok terorisme internasional atau global jihadist. Bisa jadi, serangan yang ditujukan ke Perancis ini dilakukan sebagai bentuk persaingan dan perebutan pengaruh dengan Al Qaeda, di kalangan kelompok-kelompok radikal Islam.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here