Sekilas Tentang Revivalisme (Gerakan Kebangunan Rohani) Protestan

0
10043

 

logo copy

Oleh: Hotben Lingga

Revivalisme (Kebangunan Rohani) atau Great Awakening (Kebangunan Rohani Besar) merupakan istilah yang biasanya menunjuk pada suatu periode/zaman tertentu dimana minat dan antusiasme terhadap hal-hal rohani meningkat dan terjadi gelombang pembaharuan rohani dalam kehidupan jemaat gereja (umat Tuhan), baik secara lokal maupun global. Revivalisme menunjuk pada periode kebangkitan agama dalam sejarah keagamaan bangsa Amerika. Revivalisme yang terjadi pada awal abad 18 sampai akhir abad 20, yang dipimpin pendeta-pendeta Protestan Injili, merupakan gerakan yang ingin menghasilkan praksis kekristenan dan suasana iman yang hidup, dinamis, penuh kuasa, dewasa dan alkitabiah/injili. Revivalisme bertujuan untuk membaharui/menyegarkan, membangkitkan kembali atau merevitalisasi iman Kristen (yang suam-suam kuku, buta, loyo, sekarat, statis, merosot dan stagnan) serta untuk meyakinkan orang yang belum percaya maupun orang Kristen KTP agar bertobat menjadi murid Kristus. Revivalisme biasanya ditandai dengan terjadinya pertobatan massal dan bangkitnya gerakan/semangat penginjilan/misi. Ciri Revivalisme lain adalah kotbah yang bersemangat/berapi-api, doa syafaat dan jemaat menyanyi lagu-lagu rohani/pujian dengan penuh semangat dan emosional.

 

Dalam sejarah gereja, Revivalisme adalah fenomena khas Protestan, khususnya Protestantisme di Amerika Utara dan Eropa. Dimana pengkotbah-pengkotbah (pendeta) “terbang” mendesak para pendengarnya untuk menerima pengampunan atas dosa-dosa pribadi mereka melalui iman di dalam Yesus Kristus dan berkomitmen untuk hidup kudus/suci, rajin membaca Alkitab dan mendukung gereja.

 

Revivalisme terjadi karena mayoritas gereja arus utama (mainline churches) dan umat mengalami krisis rohani/iman yang gawat Gereja-gereja sangat dipengaruhi oleh filsafat pencerahan, rasionalisme, humanisme sekuler dan teologi liberal, yang mengakibatkan Gereja menyimpang secara doktrin dan tidak berpegang lagi pada doktrin dan prinsip-prinsip iman alkitabiah yang dirumuskan para Reformator. Teologi liberal antara lain mengajarkan bahwa Yesus Kristus bukan Tuhan, hanya seorang manusia biasa, jadi bukan Juruselamat dunia; manusia tidak memerlukan penebusan dosa atau keselamatan melalui Yesus karena manusia pada dasarnya baik dan kisah kejatuhan manusia dalam dosa hanya mitos saja; Alkitab bukan Firman Allah yang diinspirasikan oleh Roh Kudus dan derajatnya sama seperti buku sejarah, buku agama yang lain. Jadi Alkitab bukan merupakan otoritas tertinggi yang penuh kuasa dalam kehidupan orang Kristen; mujizat dan perkara-perkara supernatural juga adalah fiksi dan rekaan manusia saja. Teologi sesat inilah yang menghancurkan gereja dan membuat gereja dan umat Tuhan mengalami krisis, kemunduran/degradasi iman/moral secara luar biasa. Dengan teologi liberal, umat Tuhan dicabut dari akar/sumber kehidupan. Gereja dan umatpun mati rohani, murtad dan dihancurkan oleh kuasa kegelapan.

 

Karena itu, Revivalisme merupakan reaksi terhadap eksistensi ajaran, teologi, ideologi, kompromi kegersangan rohani dan gereja status-quo yang telah terhilang. Dan merupakan campur-tangan Tuhan untuk membaharui iman umatNya. Jadi Revivalisme adalah pencurahan Roh Kudus dan lawatan Allah pada umatNya agar bangkit dan hidup kembali. Para pengkotbah dan pendeta yang menjadi tokoh-tokoh kebangunan rohani sebenarnya hanya mengingatkan, menghidupkan dan menegaskan kembali formula-formula iman yang diajarkan para Reformator, seperti tentang perlunya pertobatan pribadi, kelahiran kembali, mengalami keselamatan, beriman/percaya kepada Kristus, kuasa iman, kuasa Firman Tuhan, memikul salib, komitmen dan ketaatan kepada Kristus, bersaksi, doa bersama, mempelajari Alkitab bersama, hidup kudus, menekankan doktrin imamat rajani dan hubungan pribadi yang intim dengan Roh Kudus. Para pelopor dan pionir kebangunan rohani Protetsan adalah kaum Puritan Inggris dan Pietis Kontinental di akhir abad 17.

 

Ada banyak peristiwa Kebangunan Rohani Protestan yang dicatat para sejarawan, dan setiap sejarawan memiliki sistim penanggalan dan klasifikasi sendiri. Tetapi secara umum, ada empat Revivalisme (kebangunan Rohani) besar/fenomenal yang pernah terjadi dalam sejarah modern paska Reformasi Protestan, yaitu:

 

Kebangunan Rohani Besar Pertama (First Great Awakening): adalah kebangunan rohani yang berlangsung dari tahun 1727 sampai 1760an, yang menyapu Eropa Protestan dan Amerika dan dipimpin oleh Theodore J. Frelinghuysen, Jonathan Edwards, George Whitefield, David Brainerd dan John Wesley. Dampak Kebangunan/Kebangkitan Besar Pertama ini adalah dibangunnya banyak universitas seperti Rutgers, Darmouth, Princeton, dan Columbia. Kebangunan Rohani ini membuat Inggris dan Amerika terhindar dari malapetaka Revolusi seperti Revolusi Perancis.

 

Kebangunan Rohani Kedua (Second Great Awakening): Kebangunan rohani ini berlangsung dari sekitar tahun 1780 sampai 1850. Tokoh-tokohnya antara lain: Charles Grandison Finney, William Wilberforce, John Nelson Darby, Cyrus Scofield, Charles Spurgeon, Dwight L. Moody, Timothy Dwight, Peter Cartwright dan Billy Sunday. Kebangunan rohani kedua ini menghasilkan penghapusan perbudakan, mengakhiri pekerja anak, permulaan gerakan feminis, gerakan untuk melek huruf sedunia dan reformasi penjara.

 

Kebangunan Rohani Ketiga (Third Great Awakening): Kebangunan rohani ini berlangsung dari sekitar tahun 1850 sampai 1900. Kebangunan ini melahirkan aliran Pentakostalisme, Gerakan Nazarene dan Gerakan Kesucian (Holiness Movement).

 

Kebangunan Rohani Keempat: terjadi di awal abad 20, dengan tokoh-tokoh antara lain: Bob Jones, Sr., John R. Rice, Charles Woodbridge, Harry Ironside, David Otis Fuller, R.A. Torrey, Billy Graham, John Stott, Martyn Lloyd-Jones, Charles Parham, William Seymour, dan A.J. Tomlinson

 

Kebangunan rohani yang terjadi terutama di AS menyebabkan transformasi sosial dan kebangunan misi yang dahsyat. Gereja-gereja yang mengalami Kebangunan Rohani menjadi gereja-gereja Protestan terbesar di AS (seperti Baptis, Methodis dan Presbyterian), dengan jumlah jemaat yang semakin banyak. Kebangunan rohani ini menghasilkan pembentukan gerakan-gerakan keagamaan baru dan aliran-aliran Protestan yang baru. Gereja/kekristenan sangat berkembang dan menjadi paling berpengaruh dalam hampir semua bidang kehidupan. Amerika menjadi bangsa yang paling religius, paling antusias untuk Tuhan. Roh takut akan Tuhan sangat terasa. Jemaat rajin ke gereja, membaca Firman Tuhan dan berdoa. Standar moral AS sangat tinggi. Amerikapun menjadi pusat kekristenan Protestan yang paling kuat, yang paling banyak mengirim misionaris ke seluruh dunia (140.000 orang), paling banyak membantu secara finansial ke gereja-gereja di seluruh dunia. Ada ratusan universitas yang kelak menjadi universitas-universitas terbaik di dunia yang dihasilkan dari kebangunan rohani Protestan. Puluhan ribu organisasi Protestan didirikan untuk fokus penginjilan, pelayanan sosial, bantuan kemanusiaan dan pembangunan di luar negeri, misi ke luar negeri, pendidikan dan komunikasi media. Terlebih lagi, AS pun menjadi Negara adidaya/superpower terbesar di dunia. Dari AS, roh kebangunan rohani kemudian menyebar ke seluruh dunia. Di Korea Selatan, India, Indonesia, Cina, Amerika-Latin dan lain-lain, terjadi kebangunan rohani yang luar biasa. Protestan telah menjadi agama mayoritas di Korea Selatan. Umat Protestan telah mencapai 130 juta orang di Cina. Populasi Protestan di Indonesia juga meningkat drastis. Amerika Latin dalam beberapa dekade mendatang akan menjadi benua Protestan. Pertumbuhan gereja terjadi karena terjadi kebangunan rohani.

 

Kalau gereja tetap berdiri di atas batu karang yang teguh (Kristus) dan tetap hidup di dalam prinsip-prinsip iman alkitabiah/injili yang dirumuskan para Reformator, maka gereja akan selalu bertumbuh, kuat dan mengalami Kebangunan Rohani. Kalau Protestantisme tetap memegang azas Sola Gratia, Sola Scriptura, Solus Christus, Sola Fidei dan Soli Deo Gloria, maka semangat kebangunan rohani dan misi akan tetap menggelora dalam gereja dan iman umat. Karena semangat Protestan (Spirit of Protestantism) adalah Kristosentris, Salibsentris dan Alkitabsentris (Biblissentris), maka Protestantisme adalah revivalis-sentris juga.(Protestantisme adalah Revivalisme). Amin