Refleksi 500 Tahun Gerakan Reformasi: Mengapa Kita Menjadi Protestan?

0
2790
Doshisha University: Universitas Protestan Terbaik di Jepang
Prof.Dr. Martin Luther, Bapa Protestantisme

Oleh: Hotben Lingga

Ketika umat Tuhan dan para pemimpin umat tersesat, lemah iman, buta rohani, terasing dari kebenaran Firman Tuhan dan mengalami krisis rohani yang gawat, Allah senantiasa mengutus hamba-hambaNya untuk menyadarkan umatNya agar kembali bertobat padaNya.

Pada abad 16 Allah membangkitkan Martin Luther untuk memurnikan dan “membebaskan” umat Tuhan/Gereja dari kuasa kegelapan. Selama seribu tahun lebih Gereja dan Umat Tuhan hidup dalam kegelapan, kebodohan, pembodohan, tahyul, belenggu filsafat-filsafat dunia dan kesalahan teologis.

Tepatnya pada tanggal 31 Oktober 1517, Gerakan Pembaharuan/Pemulihan Gereja Sedunia dimulai. Martin Luther memakukan 95 tesis/dalil di pintu Gereja Universitas Wittenburg, di Jerman, sebagai protes atas penyimpangan dan KKN Gereja dalam banyak hal/segi, baik dari sudut teologis/ajaran, keuangan (ekonomi), moral, administrasi gereja, hukum, politik, ritual dan praktek kehidupan sehari-hari.

Ada 3 alasan, dasar, faktor utama, penyebab Reformasi terjadi dan harus dilakukan.

1. Gereja telah menyimpang/menyeleweng, salah, keluar dari rel kebenaran Firman Tuhan secara doktrinal. Karena itu harus dikoreksi dan direformasi. Gerakan Reformasi ingin memurnikan, meluruskan, mengoreksi dan mengevaluasi doktrin-doktrin Gereja apakah sesuai, benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara alkitabiah atau tidak. Doktrin-doktrin seperti devosi kepada orang-orang suci (khususnya kepada Maria, Ibu Yesus), doktrin tentang Api Penyucian dan doktrin tentang Paus (kepausan) ditolak karena tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Bagi Gerakan Reformasi, satu-satunya sumber otoritas/kebenaran adalah Kitab Suci (Alkitab). Semua doktrin, pengalaman rohani, kesaksian dan tradisi harus dinilai, dihakimi dan diukur dari kaca-mata dan terang Firman Tuhan (karena Firman Tuhan tidak bisa salah atau keliru dan diatas segalanya). Menurut pihak Reformasi, Gereja, tradisi, pendeta atau Paus bisa salah, keliru dan tersesat, tetapi Firman Tuhan tidak bisa salah/keliru.

Jadi, acuan, titik tolak, ukuran, standar, paradigma dan pedoman untuk mereformasi Gereja adalah ketaatan, kesetiaan, dan ketundukan pada otoritas Firman Tuhan (Alkitab).

Jadi, Gerakan Reformasi berusaha membangun (kembali) dan mereformulasi seluruh ajaran, kredo, kepercayaan, tradisi dan iman Kristen hanya di atas dasar/standar/patokan yang kokoh, absolut, yaitu Firman Allah (Alkitab). Gerakan Reformasi Protestan ingin menaklukkan dan menawan semua pemikiran, ajaran, tradisi, filsafat, ideologi, seluruh aspek kehidupan dunia dan peradaban di bawah otoritas Firman Allah/Alkitab. Prinsip ini disebut Sola Scriptura.

Karena itu, Gerakan Reformasi mempopulerkan istilah “Back to The Bible” (Kembali ke Alkitab) dan “Supremasi Absolut Firman
Tuhan”, sehingga Gereja/Umat Tuhan didorong dan diwajibkan untuk membaca, mengetahui dan mempelajari keseluruhan Alkitab secara individual setiap hari.

Selama 1000 tahun lebih jemaat/umat Kristen tidak mengenal kebenaran Firman Tuhan, tidak mempunyai Alkitab secara pribadi (karena waktu itu Alkitab hanya boleh dimiliki dan dipelajari kaum klerus). Berkat Gerakan Reformasi dan atas dorongan para Reformatorlah Alkitab diterjemahkan ke dalam hampir seluruh Bahasa di dunia saat ini.

Gerakan Protestanlah yang membuat Alkitab tersedia bagi semua orang melalui publikasi Firman Tuhan dalam sebanyak mungkin bahasa manusia dan pengembangan pendidikan umum. Lembaga-lembaga Alkitab Protestan, misalnya LAI, sangat berjasa dalam penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah.

2. Gerakan Reformasi Protestan adalah Gerakan Pembaharuan Iman dan spritualitas. Esensi dan pusat dari Kekristenan bagi Gerakan Reformasi Protestan adalah iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi dan dunia,-bukan tradisi dan ritualisme. Gerakan Reformasi Protestan menekankan agar setiap orang Kristen memiliki hubungan, komunikasi dan pengalaman pribadi yang intim, langsung dan kudus dengan Tuhan. Seseorang tidak perlu lagi pergi (menghadap, berbicara atau berdoa) kepada Tuhan melalui perantara orang-orang suci, imam atau pendeta. Setiap orang/individu memiliki hak dan akses yang sama untuk berkomunikasi dengan Tuhan.Karena setiap orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus adalah imam rajani. Tembok pemisah/penghalang manusia untuk berkomunikasi dan hidup dalam/dengan Allah telah diruntuhkan dan disingkirkan.

Baca juga  PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA DANAU TOBA: DALAM PERENUNGAN SEORANG AWAM!

Gerakan Reformasi Protestan menekankan doktrin kejatuhan manusia dalam dosa sebagai kerusakan manusia secara total, yang memisahkan, menjauhkan dan memutuskan hubungan manusia dari Allah. Sehingga tidak ada jalan selain “pertobatan kepada Tuhan, pengalaman lahir baru, pengudusan dan dengan beriman pada Kristus” yang bisa menyelamatkan orang berdosa, memulihkan hubungan ilahi dan mengembalikan derajat ilahi manusia sebagai “Citra/Gambar Allah (Imago Dei). Setiap orang percaya adalah “Imam Rajani” (semua orang beriman sesungguhnya adalah imam), “anak Allah”, “anak Raja”.

Gerakan Reformasi Protestan menekankan bahwa manusia dipulihkan, dibenarkan, diselamatkan dan dikuduskan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus. Dan, keselamatan, pembenaran dan pengudusan itu adalah semata-mata karya, anugerah, pemberian Allah bagi manusia.

Gerakan Reformasi Protestan mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara/mediator antara Allah dan manusia. Hanya Yesus Kristus jalan, Keselamatan dan hidup. Tidak ada Perantara dan Jalan yang lain kepada Allah selain melalui dan di dalam Yesus Kristus, Anak Allah Yang Maha Kuasa.

Doktrin “Sola Fide” (Hanya Iman), “Sola Gratia” (Hanya Anugerah) dan Solus Christus/Solo Christo (Hanya Kristus atau hanya melalui Kristus) dan Soli Deo Gloria (Segala sesuatu yang dilakukan oleh setiap orang percaya dan Gereja adalah hanya untuk kemuliaan Allah Tritunggal adalah dan menjadi spirit, tonggak, ukuran (standar) dasar bagi iman Kristen Protestan. Jatuh bangunnya, lurus-melencengnya Gereja bertitik-tolak dari prinsip-prinsip tersebut.

3. Gerakan Reformasi Protestan adalah Gerakan Kesaksian. Inti dari Gerakan Reformasi Protestan adalah Kristosentrisme (Kristus sebagai dasar dan pusat seluruh hidup kekristenan, dunia dan pemikiran) atau Salibsentrisme (penekanan pada ajaran yang memproklamasikan kematian dan kebangkitan Yesus). Panggilan dan tugas utama setiap orang Kristen adalah untuk memuliakan Allah, bersaksi dan menjadi saksi Kristus dimana saja, kapan saja dan kemana saja (Itulah sebabnya Gerakan Reformasi disebut juga Gerakan Kesaksian atau Pro Testimony, dan orang-orang atau Gereja yang mengikuti spirit dan azas ini disebut Protestan). Soli Deo Gloria

DAMPAK UTAMA REFORMASI PROTESTAN

Reformasi Protestan merupakan salah satu tonggak/peristiwa penting yang menandai tersingkapnya fajar abad modern, yang menjadi landasan utama, titik tolak bagi perkembangan sejarah peradaban Barat modern yang mengutamakan akal dan kebebasan dalam berpikir.

Ada beberapa dampak utama Reformasi Protestan.

Pertama, Reformasi Protestan membentuk kembali seluruh nilai-nilai politik, budaya dan keagamaan di seluruh Eropa. Reformasi Protestan secara radikal merevolusi (merubah ) cara berpikir masyarakat dan merubah cara masyarakat memandang/menjalankan iman, dari yang irasional menjadi rasional, dari ritual-formalistik-birokratis-hirarkis menjadi praktis-pragmatis-sederhana, dari budaya pasif/nrimo menjadi budaya kritis. Gerakan Reformasi Protestan membongkar, mengusir dan membuang semua mitos-mitos, tahyul-tahyul, ajaran-ajaran yang tidak alkitabiah,dan roh-roh penyembahan berhala (paganisme, setanisme, ilmu-ilmu sihir) (di Eropa Barat khususnya) dengan paradigma iman Kristen yang biblikal dan Kristosentris. Gerakan Reformasilah yang menjadi akar utama sejarah pemikiran modern seperti modernisme, humanisme, rasionalisme, pragmatisme, dan liberalisme.Gerakan Reformasi Protestan juga menjadi spirit, agen, fajar baru, motor, fondasi dan pendorong bagi berkembangnya sains modern.

Baca juga  PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA DANAU TOBA: DALAM PERENUNGAN SEORANG AWAM!

Kedua, Gerakan Reformasi Protestan adalah tahapan awal perkembangan modernitas. Gerakan Reformasi telah menumbuhkan kesadaran individual (individualisme) akan pentingnya/otonomnya hak-hak politik, individual conscience, dan kebebasan individu. Kesadaran inilah yang menjadi dasar dan acuan yang kokoh bagi lahirnya gerakan-gerakan demokratisasi dan anti kekuasaan totaliter dan keberanian rakyat untuk melakukan pengawasan terhadap kekuasaan. Gerakan Reformasi merupakan fajar lahirnya gagasan demokrasi yang dijiwai oleh etika, budaya dan nilai-nilai keagamaan.

Secara sosial politik, Reformasi Protestan mengakibatkan terpecah-pecahnya Kekristenan Barat (Western Christendom) menjadi negara-negara nasional kecil dan terbentuknya Negara modern. Dimana Paus tidak lagi menjadi “pusat kekuasaan” atau “gembala politik”.

Ketiga, Gerakan Reformasi Protestan memiliki dampak ekonomi, di antaranya, kaum Protestan—terutama Kalvinisme— dengan “Etos Kerja Protestan” telah memberikan andil besar kepada spirit kapitalisme.

Keempat, Gerakan Reformasi Protestan berdampak besar dalam pengembangan dan kemajuan musik secara keseluruhan, musik Gereja khususnya. Sebelum Reformasi, Musik hanya dinyanyikan para klerus di stan khusus Gereja dan hanya dinyanyikan dalam bahasa Latin, jemaat pasif dalam pujian.

Gerakan Reformasi menciptakan bentuk ibadah yang baru berbasiskan musik vokal (soprano, alto, tenor dan bass), paduan suara, lirik-lirik baru, dan menekankan bahwa musik harus bisa didengar, dipahami (dalam bahasa lokal), berpusatkan Firman Tuhan (Logosentris), bernilai sastra tinggi, melayani Firman Tuhan, “menghasilkan keuntungan” dan dilakukan oleh seluruh umat (termasuk wanita dan anak-anak).

Kelima, dampak Gerakan Reformasi Protestan secara teologis adalah perpecahan di dalam agama Kristen. Perpecahan ini telah memperlemah struktur agama Kristen yang telah terbangun. Ditambah lagi ketika pihak Roma berusaha memerangi kaum Reformis, maka hal ini kemudian mengakibatkan perang saudara yang membumi-hanguskan Eropa.

Gerakan Reformasi menyebabkan Kekristenan kembali terpecah menjadi tiga aliran besar: Kristen Katolik Roma, Kristen Ortodoks Yunani/Timur dan Kristen Protestan.

Protestantisme kemudian terpecah-pecah lagi ke banyak denominasi seperti Lutheran, Reformed, Presbyterian, Baptist/Ana-Baptist, Methodis, Wesleyan, Anglikan, Episkopal, Bretheren, Quaker, Mennonite, Unitarian, Advent, Kongregasional, Bala Keselamatan, Holiness, Pentakosta, Karismatik, Full Gospel, Apostolik Baru, dan Gereja-gereja independen.

Keenam, Gerakan Reformasi Protestan berdampak besar dalam bidang Pendidikan, baik di bidang pemikiran/gagasan (pendidikan untuk semua orang dan sekolah minggu) dan pengembangan sekolah khususnya universitas modern. Denominasi-denominasi Protestanlah yang mempelopori pendirian ratusan universitas terbaik di AS yang saat ini menjadi universitas-universitas terbaik di dunia seperti Harvard, Princeton, Yale, MIT, Brown, Cornel, Columbia, Rutgers, Caltech, Chicago, Boston, USC, Syracue, Vanderbit, Duke, Ohio, dll. Saat ini dimana Protestantisme disebarkan disana pendidikan dimajukan.

Mengapa Kita Menjadi Protestan?

Gerakan Reformasi Protestan kini berumur 500 tahun. Dibanding dengan agama-agama besar lainnya, Protestantisme merupakan agama paling muda dan saat ini merupakan agama yang paling progresif/paling cepat pertumbuhannya.Gereja-gereja Protestan saat ini terdiri dari ratusan bahkan ribuan denominasi yang berakar dari gerakan Reformasi. Masing-masing denominasi berbeda dalam doktrin dan praktek, tetapi semua denominasi Protestan mempunyai persamaan teologis dalam hal menolak gagasan suksesi apostolik versi Katolik dan otoritas Paus. Hampir semua gereja Protestan mempunyai persamaan teologis dalam pemahaman tentang doktrin dasar (prinsip) yang dikenal sebagai Lima Sola (The Five Solas), yaitu: Sola Scriptura (Alkitab saja/Hanya Alkitab): Hanya Alkitab otoritas satu-satunya untuk masalah-masalah iman, kehidupan dan doktrin; Sola Fide (Iman saja/hanya iman): Keselamatan hanya melalui iman dalam Yesus Kristus saja; Sola Gratia (Anugerah saja): Keselamatan itu hanya oleh anugerah Allah saja; Solus Christus (Kristus saja): Keselamatan hanya ada/ditemukan dalam Yesus Kristus karena korban penebusanNya; Soli Deo Gloria (Untuk kemuliaan Allah saja): Keselamatan hanya dikerjakan oleh Allah saja, dan hanya untuk kemuliaanNya)

Baca juga  PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA DANAU TOBA: DALAM PERENUNGAN SEORANG AWAM!

Populasi Protestan di seluruh dunia (dari semua aliran) saat ini diperkirakan telah mencapai paling sedikit 800 juta jiwa. Secara fragmen teologis dan organisasi, Protestantisme kontemporer terdiri dari tiga fraksi/kelompok besar, yaitu Protestan Ekumenikal (Dewan Gereja Sedunia/PGI), Protestan Injili (Persekutuan Injili Sedunia/PGLII) dan aliran Pentakosta/Karismatik (PGPI).

Kita (memilih) menjadi Protestan karena:

Protestantisme (ingin) membawa kita kembali kepada kekristenan yang sejati, rasuli dan alkitabiah; dengan menekankan hubungan/persekutuan yang intim/kudus dengan Tuhan dan sesama manusia, penebusan dosa, pertobatan pribadi, kelahiran baru, kekudusan hidup, kehidupan/kekristenan yang berpusat pada Kristus, salib dan Firman Allah, iman/spiritualitas/mentalitas yang penuh kuasa sebagai “Imam Rajani, Anak Raja, anak Allah”, dan kehidupan yang penuh doa.

Protestantisme mengajarkan kepada kita bahwa Allahnya Alkitab adalah satu-satunya Allah yang benar/sejati. Protestantisme menekankan bahwa hanya Alkitab Firman Allah yang dapat dipercaya dan benar secara historis dan ilmiah.

Protestantantisme mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias/Juruselamat yang dijanjikan dan Anak Allah.

Dengan prinsip Sola Gratia, Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Christus dan Soli Deo Gloria, kekristenan akan tetap menjadi kuat, bertumbuh, missioner dan memiliki fighting spirit yang terus berkobar.

Protestantisme adalah agama yang berjiwa pembaharu, idealis, transformatif, progresif, rasional dan humanis. Protestantisme ingin membaharui, mencerahkan, membebaskan dan merekonstruksi seluruh aspek hidup manusia secara komprehensif dengan kuasa Firman Tuhan.

Protestantisme ingin membangun dan menata kembali peradaban manusia yang telah tercemar oleh dosa, dengan mengajarkan humanisme sejati, yaitu re-kreasi manusia baru sebagai “Imago Dei” melalui dan di dalam Kristus (sebagai pusat sejarah dan pusat kekristenan), yang mempunyai otonomi (individualisme) yang tercerahkan, rasionalitas superior, otoritas dan derajat ilahi sebagai anak Allah, anak Raja dan Imam Rajani Kerajaan Allah. Protestantisme mengarahkan manusia menjadi “manusia baru” yang bebas, kritis, superior, revolusioner dan reformatif di dalam Kristus.

Protestantisme yang alkitabiah, injili (sebagaimana yang diajarkan para Reformator) adalah agama yang paling rasional, otonom, individualis, (oto-)kritis, humanis, sosialis, dan liberatif. Spirit, dogma, prinsip dan pemikiran Protestan paling sesuai dengan semangat/prinsip sains/ilmu pengetahuan, filsafat dan peradaban modern yang mengutamakan rasionalitas, akal budi, kebebasan individu dan kebebasan dalam berpikir. Protestantisme adalah agama yang paling relevan dan dibutuhkan manusia modern.

Sejarah telah membuktikan bahwa spirit Protestantisme merupakan katalisator, motor dan agen transformasi, modernisasi, industrialisasi dan kemajuan negara-negara maju seperti AS, Inggris, Jerman dan Eropa Utara.

Prinsip Gerakan Reformasi Protestan yaitu Gereja harus senantiasa memperbaharui dirinya dan bersedia diperbaharui di dalam kuasa dan kebenaran Firman Allah dan Roh Kudus itulah yang harus menjadi spirit dan sentrum Protestantisme kontemporer, agar Gereja dapat terus bertumbuh, dewasa dan tetap kuat dalam menghadapi badai krisis multidimensi yang sedang dihadapi dunia saat ini. Selamat Hari Reformasi Protestan ke-500! Amin. (DBS)