Sejarah Hidup DR. Ludwig Ingwer Nommensen

0
96

 

 

 

*Masa kecil Ludwig Ingwer  Nommensen*

 

Nommensen berasal dari Pulau  Noordstrand di Schleswig, yang pada waktu itu merupakan wilayah Denmark. Keluarganya  hidup dalam kemiskinan dan  penderitaan, sehingga sejak  kecil, Nommensen terbiasa  hidup dalam kondisi yang  demikian. Maka dari itu, sejak kecil, ia sudah mencari nafkah  untuk membantu orangtuanya.  Ketika berumur 7 tahun,  Nommensen memilih  menggembalakan angsa dari pada duduk di bangku sekolah.  Pada umur 8 tahun, ia mulai  mencari nafkah untuk  membantu orang tuanya dengan  cara menggembalakan domba.  Pada usia 9 tahun, ia belajar  menjadi tukang atap. Lalu, pada  usia 10 tahun, ia bekerja pada  seorang petani yang kaya  sambil  belajar mengerjakan tanah. Ia  juga bekerja menuntun kuda  yang menarik bajak untuk  membajak tanah petani kaya  tersebut. Pada tahun 1846, saat  berusia 12 tahun, Nommensen  mengalami kecelakaan.  Sewaktu ia bermain kejar kejaran  dengan temannya, ia ditabrak  kereta kuda yang menggilas  kakinya sampai patah dan  keadaan yang demikian  memaksanya berbaring di  tempat tidur berbulan-bulan  lamanya. Waktu  itu, dalam doanya, Nommensen meminta  kesembuhan dan berjanji, jika ia  disembuhkan, maka ia akan memberitakan injil kepada orang  kafir. Setelah kakinya sembuh,  Nommensen kembali menjadi  buruh tani untuk membantu  keluarganya setelah kematian  ayahnya.

 

Pada usia 20 tahun,  Nommensen berangkat ke Barmen (sekarang Wuppertal)  untuk melamar menjadi penginjil.  Selama 4 tahun ia belajar di  seminari zending Lutheran  Rheinische Missionsgesellschaft (RMG). Sesudah lulus, ia kemudian ditahbiskan menjadi  pendeta pada tahun 1861.

 

*Berikut ini sejarah singkat Ingwer Ludwig Nommensen :*

 

*_Tahun 1854,_* _Ibu Nommensen merestui anaknya,  satu-satunya lelaki di antara  empat orang bersaudara,  menjadi seorang missionaris._

 

*_Tahun 1857,_* _Masuk sekolah  pendeta di  RMG Barmen  setelah menunggu sekian lama._

 

*_Tahun 1858,_* _Januari Ibunya  meninggal dunia di Nordstrand._

 

*_Tahun 1861,_* _Oktober.  Ditahbiskan sebagai pendeta dan  langsung diberangkatkan oleh  missi Barmen menjadi missionaris  ke tanah Batak. Tetapi selama  beberapa waktu dia masih  belajar bahasa Batak dan budaya  Batak dari Dr. Van Der Tuuk di Belanda. Sumber lain mengatakan ia juga belajar  untuk lebih mendalami tentang  Batak di Batavia._

 

*_Tahun 1861,_* _Desember.  Berangkat dari Amsterdam  menuju Sumatera dengan kapal  Pertinar. Pelayaran itu memakan  waktu selama 142 hari._

 

*_Tahun 1862,_* _14 Mei.  Mendarat di Padang.  Selanjutnya dia tinggal di Barus.  (Kapal Pertinar kemudian tenggelam dalam lanjutan  pelayaran ke arah timur di sekitar Laut Banda dekat Irian Barat)._

 

*_Tahun 1862,_* _November.  Bersama beberapa orang Batak,  mengadakan perjalanan ke  pedalaman Sumatera melalui  Barus dan Tukka. Dari Barus,  Nommensen pergi ke Prausorat  dan kemudian tinggal dengan  Van Asselt di Sarulla._

 

*_Tahun 1863,_* _November.  Pertama kali mengunjungi  Lembah Silindung._

 

*_Tahun 1864,_* _Mei. Setelah  berkordinasi dengan pihak  penguasa (Belanda) memulai  misinya ke Silindung._

 

*_Tahun 1864,_* _Juli.  Membangun rumahnya di  Saitnihuta._

 

*_Tahun 1864,_* _30 Juli.  Menjumpai Raja Panggalamei ke  Pintubosi, Lobupining. Raja  Panggalamei beserta rombongannya 80 orang  membunuh Pendeta Hendry  Lyman dan Samuel Munson  (missionaris yang diutus oleh  Zending Gereja Baptis dari  Amerika) di Sisangkak._

 

*_Tahun 1864,_* _25 September.  Konflik yang menyebabkan  Nommensen akan dipersembahkan ke Sombaon  Siatas Barita di Onan Sitahuru.  Ribuan orang datang.  Nommensen akan dibunuh  menjadi kurban persembahan. Nommensen tegar menghadapi  tantangan, dia berdoa, angin  puting beliung dan hujan deras  membubarkan pesta besar tersebut. Nommensen selamat,  sejak itu terbuka jalan akan  Firman Tuhan di negeri yang sangat kejam dan buas. Nommensen pantas dijuluki  “Apostel di tanah Batak”  (Rasul  di tanah Batak)._

 

*_Tahun 1865,_* _27 Agustus.  Pembaptisan pertama di Silindung terhadap 4 pasang  suami-istri beserta 5 orang anak-anaknya. Di antara keluarga  yang dibaptis pertama adalah  Si  Jamalayu yang diberi nama Johannes dengan istrinya yang  dibawa dari Sipirok sebagai  pembantu Nommensen diberi nama Katharina._

 

*_Tahun 1866,_* _16 Maret. Nommensen diberkati menjadi  suami-isteri dengan  tunangannya Karoline di Sibolga.  Karoline datang dari Jerman  beserta rombongan Pdt.  Johansen yang dikirim kongsi Barmen untuk membantu  Nommensen di Silindung._

 

*_Tahun 1871,_* _Nommensen  mengalami penyakit disentri dan  dibawa oleh Johansen berobat  ke Sidimpuan._

 

*_Tahun 1864,_* _Karoline  melahirkan anak pertama diberi  nama Benoni, namun beberapa  hari kemudian meninggal dunia._

 

*_Tahun 1872,_* _Pargodungan  Saitnihuta yang disebut Huta  Dame pindah ke Pearaja.  Setelah Gereja baru hampir  selesai dibangun, putri pertama  Nommensen yang bernama  Anna meningal dunia. Keluarga  Nommensen telah kehilangan  dua anak pertama, sungguh  suatu ujian berat bagi missionaris  dalam memulai misinya._

 

*_Tahun 1873,_* _Sikola  Mardalan-dalan (Sekolah  dengan  tempat  tidak  tetap)  diciptakan Nommensen  agar orang Batak bisa secepatnya  menjadi guru. Siswa mendatangi  Nommensen di Pearaja,  Johansen di Pansurnapitu dan  Mohri di Sipoholon dimana para  missionaris tersebut bertugas.  Atau, missionaris mendatangi  siswanya di tempat tertentu._

 

*_Tahun 1875,_* _Missionaris Nommensen, bersama  Johansen dan Simoneit  bekunjung ke Toba._

 

*_Tahun  1876,_* _Selesai  menterjemahkan  Perjanjian  Baru  ke  dalam  bahasa  Batak  Toba. Diceritakan  pula bahwa telah dibaptis lebih dari 7000  orang di Silindung._

 

*_Tahun 1877,_* _Nommensen  dan Johansen mendirikan  Sekolah Guru Zending di Pansurnapitu. Tempat berdirinya  sekolah tersebut adalah tempat  yang dulunya dikenal sebagai Pasombaonan (tempat angker),  yang sekarang tempat berdirinya  STM Pansurnapitu dan Gereja  HKBP Pansurnapitu._

 

*_Tahun 1877,_* _Raja  Sisingamangaraja ke-XII  mengancam akan  membumihanguskan kegiatan  missionaris, ancaman ini tidak  menjadi kenyataan. Silindung  masuk kolonisasi Belanda._

 

*_Tahun 1880,_* _Nommensen  beserta istri dan anak-anaknya  pergi ke Eropa._

 

*_Tahun 1881,_* _Menjelang  natal, Nommensen kembali ke  Pearaja. Dia kembali sendirian, isterinya tinggal di Jerman karena masih perlu perawatan.  Anak-anaknya juga tinggal di  sana agar bisa sekolah dengan  baik._

 

*_Tahun 1881,_* _Kongsi  Barmen menetapkan Nommensen menjadi Ephorus (Pemimpin tertinggi) pertama HKBP, dia digelari  ‘Ompu’._

 

*_Tahun 1887,_* _Karoline isteri Nommensen, meninggal di  Jerman, sebulan kemudian baru Nommensen mengetahuinya._

 

*_Tahun 1890,_* _Nommensen  memulai misinya ke Toba, dia  pindah ke Sigumpar._

 

*_Tahun 1891,_* _Mei. Christian,  anak Nommensen, mati  terbunuh di Pinang Sori oleh 5 orang kuli Cina di area  perkebunan._

 

*_Tahun 1892,_* _Bersama  Pdt Johansen yang juga sudah  menduda pergi ke Jerman untuk  berlibur, menjenguk anak-anaknya, dan mencari pasangan  baru untuk masing-masing  misionaris yang telah menduda. Nommensen mendapatkan  jodohnya anak tuan Harder yang bernama Christine, Johansen mendapatkan  jodohnya anak tuan Heinrich yang bernama  Dora. Mereka kembali ke tanah  Batak dengan masing-masing  pasangan  barunya._

 

*_Tahun 1900,_* _Permulaan  Zending Batak._

 

*_Tahun 1903,_* _Permulaan  misi Zending ke Medan._

 

*_Tahun 1904,_* _Fakultas  Theologi Universitas Bonn,  Jerman, menganugerahkan  gelar Doktor Honouris Causa di  bidang theologi kepada Nommensen. Dalam  pengukuhan tersebut, ratu Wilhelmina dari Belanda ikut  diundang sebagai tamu._

 

*_Tahun 1905,_* _Berkunjung ke  Eropa bersama Reitze, dia  mengunjungi misi Zending di  Belanda dan berkunjung kepada  ratu Wilhelmina._

 

*_Tahun 1909,_* _Christine  Harder, isteri Nomensen  meninggal dunia, setelah  melahirkan 3 orang  anak. Dia  dimakamkan di Sigumpar. Dua  anak perempuannya tinggal di  Jerman dan belum menikah  sewaktu Nommensen meningal  pada umur 84 tahun._

 

*_Tahun 1911,_* _Pesta  Jubileum 50 tahun HKBP.  Pesta  besar di Onan Sitahuru dihadiri  puluhan ribu orang, di tempat  dimana 47 tahun sebelumnya Nommensen mau dibunuh dan  dipersembahkan kepada  Sombaon Siatas Barita. Ratu  Wilhelmina dari Belanda  menganugerahkan bintang jasa  ‘Order  Of  Orange  Nassau’  kepada Nommensen, sebuah  bintang jasa yang hanya  diberikan kepada orang yang  dianggap luar biasa jasanya di  bidang kemanusiaan._

 

*_Tahun 1912,_* _Berlibur ke  Eropa, kembali ke tanah Batak  bersama tuan Pilgram yang  telah lama bertugas di Balige._

 

*_Tahun 1916,_* _Nathanael  anak Nommensen, mati  tertembak di arena Perang Dunia  ke I di Perancis._

 

*_Tahun 1918,_* _23 Mei. Pukul  6 pagi hari Kamis,  Nommensen  pergi menghadap Tuhan di  sorga. Dia menutup mata untuk  selama-lamanya setelah berdoa  ‘Tuhan  kedalam  tangan-Mu kuserahkan  rohku,  amin’._

 

_Pada Jumat sore, 24 Mei 1918. Nommensen dikubur di  Sigumpar. Puluhan ribu orang  datang melayatnya untuk  mengucapkan salam perpisahan.  Ada  orang  berkata “Inilah  kumpulan manusia yang paling  banyak yang pernah terjadi di  tanah Batak.”._

 

Selama di tanah Batak,  Nommensen telah mendirikan  510 sekolah dengan murid  32.700 orang menterjemahkan  Perjanjian Baru dalam bahasa  Batak tahun 1876. Dalam  pekerjaan pekabaran Injil, ia menyadari perlunya  mengikutsertakan orang Batak  pribumi. Maka untuk kebutuhan  guru-guru sekolah, ia membuka pendidikan guru. Karena  kecakapan dan jasa-jasanya  dalam penginjilan, maka  pimpinan RMG mangangkatnya  menjadi Ephorus pada tahun  1881 dan pada ulang tahunnya ke 70, Universitas Bonn  memberikan gelar Doktor  Honoris Causa kepada  Nommensen. Walaupun bukan  merupakan missionaris pertama  untuk tanah Batak tetapi  Nommensen adalah missionaris  yang memerang peranan paling  penting dalam pengabaran Injil  disana.Orang Batak memberikan  gelar “Ompungta”; bapak kita-tidak gentar walau diracuni,  ditangkap dan hendak  dipersembahkan kepada dewa,  dituduh mata-mata Belanda  sehingga layak mendapatkan julukan “Rasul  orang  Batak”.*Sejarah hidup DR. Ludwig Ingwer Nommensen*

 

*Masa kecil Ludwig Ingwer  Nommensen*

 

Nommensen berasal dari Pulau  Noordstrand di Schleswig, yang pada waktu itu merupakan wilayah Denmark. Keluarganya  hidup dalam kemiskinan dan  penderitaan, sehingga sejak  kecil, Nommensen terbiasa  hidup dalam kondisi yang  demikian. Maka dari itu, sejak kecil, ia sudah mencari nafkah  untuk membantu orangtuanya.  Ketika berumur 7 tahun,  Nommensen memilih  menggembalakan angsa dari pada duduk di bangku sekolah.  Pada umur 8 tahun, ia mulai  mencari nafkah untuk  membantu orang tuanya dengan  cara menggembalakan domba.  Pada usia 9 tahun, ia belajar  menjadi tukang atap. Lalu, pada  usia 10 tahun, ia bekerja pada  seorang petani yang kaya  sambil  belajar mengerjakan tanah. Ia  juga bekerja menuntun kuda  yang menarik bajak untuk  membajak tanah petani kaya  tersebut. Pada tahun 1846, saat  berusia 12 tahun, Nommensen  mengalami kecelakaan.  Sewaktu ia bermain kejar kejaran  dengan temannya, ia ditabrak  kereta kuda yang menggilas  kakinya sampai patah dan  keadaan yang demikian  memaksanya berbaring di  tempat tidur berbulan-bulan  lamanya. Waktu  itu, dalam doanya, Nommensen meminta  kesembuhan dan berjanji, jika ia  disembuhkan, maka ia akan memberitakan injil kepada orang  kafir. Setelah kakinya sembuh,  Nommensen kembali menjadi  buruh tani untuk membantu  keluarganya setelah kematian  ayahnya.

 

Pada usia 20 tahun,  Nommensen berangkat ke Barmen (sekarang Wuppertal)  untuk melamar menjadi penginjil.  Selama 4 tahun ia belajar di  seminari zending Lutheran  Rheinische Missionsgesellschaft (RMG). Sesudah lulus, ia kemudian ditahbiskan menjadi  pendeta pada tahun 1861.

 

*Berikut ini sejarah singkat Ingwer Ludwig Nommensen :*

 

*_Tahun 1854,_* _Ibu Nommensen merestui anaknya,  satu-satunya lelaki di antara  empat orang bersaudara,  menjadi seorang missionaris._

 

*_Tahun 1857,_* _Masuk sekolah  pendeta di  RMG Barmen  setelah menunggu sekian lama._

 

*_Tahun 1858,_* _Januari Ibunya  meninggal dunia di Nordstrand._

 

*_Tahun 1861,_* _Oktober.  Ditahbiskan sebagai pendeta dan  langsung diberangkatkan oleh  missi Barmen menjadi missionaris  ke tanah Batak. Tetapi selama  beberapa waktu dia masih  belajar bahasa Batak dan budaya  Batak dari Dr. Van Der Tuuk di Belanda. Sumber lain mengatakan ia juga belajar  untuk lebih mendalami tentang  Batak di Batavia._

 

*_Tahun 1861,_* _Desember.  Berangkat dari Amsterdam  menuju Sumatera dengan kapal  Pertinar. Pelayaran itu memakan  waktu selama 142 hari._

 

*_Tahun 1862,_* _14 Mei.  Mendarat di Padang.  Selanjutnya dia tinggal di Barus.  (Kapal Pertinar kemudian tenggelam dalam lanjutan  pelayaran ke arah timur di sekitar Laut Banda dekat Irian Barat)._

 

*_Tahun 1862,_* _November.  Bersama beberapa orang Batak,  mengadakan perjalanan ke  pedalaman Sumatera melalui  Barus dan Tukka. Dari Barus,  Nommensen pergi ke Prausorat  dan kemudian tinggal dengan  Van Asselt di Sarulla._

 

*_Tahun 1863,_* _November.  Pertama kali mengunjungi  Lembah Silindung._

 

*_Tahun 1864,_* _Mei. Setelah  berkordinasi dengan pihak  penguasa (Belanda) memulai  misinya ke Silindung._

 

*_Tahun 1864,_* _Juli.  Membangun rumahnya di  Saitnihuta._

 

*_Tahun 1864,_* _30 Juli.  Menjumpai Raja Panggalamei ke  Pintubosi, Lobupining. Raja  Panggalamei beserta rombongannya 80 orang  membunuh Pendeta Hendry  Lyman dan Samuel Munson  (missionaris yang diutus oleh  Zending Gereja Baptis dari  Amerika) di Sisangkak._

 

*_Tahun 1864,_* _25 September.  Konflik yang menyebabkan  Nommensen akan dipersembahkan ke Sombaon  Siatas Barita di Onan Sitahuru.  Ribuan orang datang.  Nommensen akan dibunuh  menjadi kurban persembahan. Nommensen tegar menghadapi  tantangan, dia berdoa, angin  puting beliung dan hujan deras  membubarkan pesta besar tersebut. Nommensen selamat,  sejak itu terbuka jalan akan  Firman Tuhan di negeri yang sangat kejam dan buas. Nommensen pantas dijuluki  “Apostel di tanah Batak”  (Rasul  di tanah Batak)._

 

*_Tahun 1865,_* _27 Agustus.  Pembaptisan pertama di Silindung terhadap 4 pasang  suami-istri beserta 5 orang anak-anaknya. Di antara keluarga  yang dibaptis pertama adalah  Si  Jamalayu yang diberi nama Johannes dengan istrinya yang  dibawa dari Sipirok sebagai  pembantu Nommensen diberi nama Katharina._

 

*_Tahun 1866,_* _16 Maret. Nommensen diberkati menjadi  suami-isteri dengan  tunangannya Karoline di Sibolga.  Karoline datang dari Jerman  beserta rombongan Pdt.  Johansen yang dikirim kongsi Barmen untuk membantu  Nommensen di Silindung._

 

*_Tahun 1871,_* _Nommensen  mengalami penyakit disentri dan  dibawa oleh Johansen berobat  ke Sidimpuan._

 

*_Tahun 1864,_* _Karoline  melahirkan anak pertama diberi  nama Benoni, namun beberapa  hari kemudian meninggal dunia._

 

*_Tahun 1872,_* _Pargodungan  Saitnihuta yang disebut Huta  Dame pindah ke Pearaja.  Setelah Gereja baru hampir  selesai dibangun, putri pertama  Nommensen yang bernama  Anna meningal dunia. Keluarga  Nommensen telah kehilangan  dua anak pertama, sungguh  suatu ujian berat bagi missionaris  dalam memulai misinya._

 

*_Tahun 1873,_* _Sikola  Mardalan-dalan (Sekolah  dengan  tempat  tidak  tetap)  diciptakan Nommensen  agar orang Batak bisa secepatnya  menjadi guru. Siswa mendatangi  Nommensen di Pearaja,  Johansen di Pansurnapitu dan  Mohri di Sipoholon dimana para  missionaris tersebut bertugas.  Atau, missionaris mendatangi  siswanya di tempat tertentu._

 

*_Tahun 1875,_* _Missionaris Nommensen, bersama  Johansen dan Simoneit  bekunjung ke Toba._

 

*_Tahun  1876,_* _Selesai  menterjemahkan  Perjanjian  Baru  ke  dalam  bahasa  Batak  Toba. Diceritakan  pula bahwa telah dibaptis lebih dari 7000  orang di Silindung._

 

*_Tahun 1877,_* _Nommensen  dan Johansen mendirikan  Sekolah Guru Zending di Pansurnapitu. Tempat berdirinya  sekolah tersebut adalah tempat  yang dulunya dikenal sebagai Pasombaonan (tempat angker),  yang sekarang tempat berdirinya  STM Pansurnapitu dan Gereja  HKBP Pansurnapitu._

 

*_Tahun 1877,_* _Raja  Sisingamangaraja ke-XII  mengancam akan  membumihanguskan kegiatan  missionaris, ancaman ini tidak  menjadi kenyataan. Silindung  masuk kolonisasi Belanda._

 

*_Tahun 1880,_* _Nommensen  beserta istri dan anak-anaknya  pergi ke Eropa._

 

*_Tahun 1881,_* _Menjelang  natal, Nommensen kembali ke  Pearaja. Dia kembali sendirian, isterinya tinggal di Jerman karena masih perlu perawatan.  Anak-anaknya juga tinggal di  sana agar bisa sekolah dengan  baik._

 

*_Tahun 1881,_* _Kongsi  Barmen menetapkan Nommensen menjadi Ephorus (Pemimpin tertinggi) pertama HKBP, dia digelari  ‘Ompu’._

 

*_Tahun 1887,_* _Karoline isteri Nommensen, meninggal di  Jerman, sebulan kemudian baru Nommensen mengetahuinya._

 

*_Tahun 1890,_* _Nommensen  memulai misinya ke Toba, dia  pindah ke Sigumpar._

 

*_Tahun 1891,_* _Mei. Christian,  anak Nommensen, mati  terbunuh di Pinang Sori oleh 5 orang kuli Cina di area  perkebunan._

 

*_Tahun 1892,_* _Bersama  Pdt Johansen yang juga sudah  menduda pergi ke Jerman untuk  berlibur, menjenguk anak-anaknya, dan mencari pasangan  baru untuk masing-masing  misionaris yang telah menduda. Nommensen mendapatkan  jodohnya anak tuan Harder yang bernama Christine, Johansen mendapatkan  jodohnya anak tuan Heinrich yang bernama  Dora. Mereka kembali ke tanah  Batak dengan masing-masing  pasangan  barunya._

 

*_Tahun 1900,_* _Permulaan  Zending Batak._

 

*_Tahun 1903,_* _Permulaan  misi Zending ke Medan._

 

*_Tahun 1904,_* _Fakultas  Theologi Universitas Bonn,  Jerman, menganugerahkan  gelar Doktor Honouris Causa di  bidang theologi kepada Nommensen. Dalam  pengukuhan tersebut, ratu Wilhelmina dari Belanda ikut  diundang sebagai tamu._

 

*_Tahun 1905,_* _Berkunjung ke  Eropa bersama Reitze, dia  mengunjungi misi Zending di  Belanda dan berkunjung kepada  ratu Wilhelmina._

 

*_Tahun 1909,_* _Christine  Harder, isteri Nomensen  meninggal dunia, setelah  melahirkan 3 orang  anak. Dia  dimakamkan di Sigumpar. Dua  anak perempuannya tinggal di  Jerman dan belum menikah  sewaktu Nommensen meningal  pada umur 84 tahun._

 

*_Tahun 1911,_* _Pesta  Jubileum 50 tahun HKBP.  Pesta  besar di Onan Sitahuru dihadiri  puluhan ribu orang, di tempat  dimana 47 tahun sebelumnya Nommensen mau dibunuh dan  dipersembahkan kepada  Sombaon Siatas Barita. Ratu  Wilhelmina dari Belanda  menganugerahkan bintang jasa  ‘Order  Of  Orange  Nassau’  kepada Nommensen, sebuah  bintang jasa yang hanya  diberikan kepada orang yang  dianggap luar biasa jasanya di  bidang kemanusiaan._

 

*_Tahun 1912,_* _Berlibur ke  Eropa, kembali ke tanah Batak  bersama tuan Pilgram yang  telah lama bertugas di Balige._

 

*_Tahun 1916,_* _Nathanael  anak Nommensen, mati  tertembak di arena Perang Dunia  ke I di Perancis._

 

*_Tahun 1918,_* _23 Mei. Pukul  6 pagi hari Kamis,  Nommensen  pergi menghadap Tuhan di  sorga. Dia menutup mata untuk  selama-lamanya setelah berdoa  ‘Tuhan  kedalam  tangan-Mu kuserahkan  rohku,  amin’._

 

_Pada Jumat sore, 24 Mei 1918. Nommensen dikubur di  Sigumpar. Puluhan ribu orang  datang melayatnya untuk  mengucapkan salam perpisahan.  Ada  orang  berkata “Inilah  kumpulan manusia yang paling  banyak yang pernah terjadi di  tanah Batak.”._

 

Selama di tanah Batak,  Nommensen telah mendirikan  510 sekolah dengan murid  32.700 orang menterjemahkan  Perjanjian Baru dalam bahasa  Batak tahun 1876. Dalam  pekerjaan pekabaran Injil, ia menyadari perlunya  mengikutsertakan orang Batak  pribumi. Maka untuk kebutuhan  guru-guru sekolah, ia membuka pendidikan guru. Karena  kecakapan dan jasa-jasanya  dalam penginjilan, maka  pimpinan RMG mangangkatnya  menjadi Ephorus pada tahun  1881 dan pada ulang tahunnya ke 70, Universitas Bonn  memberikan gelar Doktor  Honoris Causa kepada  Nommensen. Walaupun bukan  merupakan missionaris pertama  untuk tanah Batak tetapi  Nommensen adalah missionaris  yang memerang peranan paling  penting dalam pengabaran Injil  disana.Orang Batak memberikan  gelar “Ompungta”; bapak kita-tidak gentar walau diracuni,  ditangkap dan hendak  dipersembahkan kepada dewa,  dituduh mata-mata Belanda  sehingga layak mendapatkan julukan “Rasul  orang  Batak”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here