IBADAH RAYA 100 TAHUN RUMAH SAKIT HKBP BALIGE DIPIMPIN EPHORUS HKBP PDT. DR. DARWIN LUMBANTOBING

0
502
Keterangan Foto : Ephorus HKBP/Ketua Pembina Yayasan Kesehatan HKBP, bersama Bupati Tobasa Ir. Darwin Siagian, Sekjend HKBP/Anggota Pembina Yayasan, Wakil Ketua Pengurus Yayasan Kesehatan St. Edison Manurung, Tokoh Masyarakat, dan utusan lainnya, hendak meniup lilin ulang tahun ke 100 Rumah Sakit HKBP Balige.

 

Keterangan Foto :
Ephorus HKBP/Ketua Pembina Yayasan Kesehatan HKBP, bersama Bupati Tobasa Ir. Darwin Siagian, Sekjend HKBP/Anggota Pembina Yayasan, Wakil Ketua Pengurus Yayasan Kesehatan St. Edison Manurung, Tokoh Masyarakat, dan utusan lainnya, hendak meniup lilin ulang tahun ke 100 Rumah Sakit HKBP Balige.

 

Balige 5 Agustus 2018,

 

 

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) merayakan Jubileum 100 Tahun Rumah Sakit HKBP Balige dipimpin oleh Ompu i Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing di kompleks gereja HKBP Balige tepat di depan Rumah Sakit HKBP Balige.

 

Kehadiran Rumah Sakit HKBP Balige yang dipahami menjadi bukti pelayanan kesehatan yang digagasi I.L.Nommensen di Tanah Batak.  Ephorus HKBP telah menetapkan tahun 2018 menjadi Orientasi Pelayanan Kebersihan dan Kesehatan Dalam Lingkungan Hidup sejak 5 Januari 2018 yang lalu. Sehubungan dengan itu, Ephorus HKBP juga mengajak seluruh Praeses HKBP agar memaksimalkan pelayanan di seluruh tirket jemaat, ressort, dan distrik, sebagaima orientasi pelayanan yang ditetapkan periode 2016 – 2020.

 

Dalam pertemuan formal dan informal, Ephorus HKBP menegaskan periode ini waktu bagi seluruh pelayan dan jemaat HKBP untuk merevitalisasi program pelayanan. Ada 4 Pilar pelayanan membesarkan HKBP dalam kehidupan jemaat misioner yaitu Pendidikan, Kesehatan, Diakonia Sosial, dan Pekabaran Injil.

 

Rumah Sakit HKBP Balige merupakah Rumah Sakit Swasta yang berdiri tanggal 1 Agustus 1918 yang dipimpin oleh Misioner K.H. Weissenburch dengan kapasitas 10 tempat tidur, yang saat itu Ephorus adalah Ompu i I.L.Nommensen dengan memberikan Filsafat kesehatan dari Lukas 9 : 2. Kemudian tahun 1928, Rumah Sakit HKBP Balige menjadi Rumah Sakit Sending kedua dengan kapasitas 250 tempat tidur pada masa kepemimpinan dr. W. Wagner, yang kemudian didirikan rumah sakit pembantu dan 12 poli linik di Balige. Adapun beberapa dokter Jerman yang pernah melayani diantaranya dr.W.Wagner, dr. Julius, dr. Werner Gross, dr. Aalbers, dr. Yohannes Winklerr, dr. Loewnstein, Zr. Ida Graeber, Zr. Mafdalena Albrech, yang kemudian para dokter dipenjarakan dikarenakan perang dunia kedua sehingga rumah sakit dilayani oleh Bataj Nias Sending (BNS). Kemudian tahun 1942 diambil alih oleh Jepang, yang kemudian diserahkan ke Pemerintah RI setelah merdeka. Tahun 1945 – 1955 sending Barmen mengirim dr. Otto Hueck, dr. A. Fritz, dr. C.Shible(Pimpinan RS Balige). Dikarenakan persyaratan yang berat maka HKBP hanya menerima kembali Rumah Sakit Balige pada masa Ephorus Justin Sihombing. Era kepemimpinan dr. Otto Hueck tahun 1960 – 1970, Rumah Sakit ini maju dengan bertambahnya Bangsal, Apotik, dan Pompa Air.

Baca juga  YOU.C1000 GELAR FASHION & MAKE UP CONTEST 2018

 

Setelah masa dr. Otto Hueck, RS HKBP dipimpin oleh dr. C.H.Wester Hausen yang dibantu dr. Barbara Warsing. Hingga dikarenakan banyak faktor pelayanan menurun dan masa Ephorus Pdt. SAE Nababan terbentuk kerjasama dengan RS PGI Cikini, yang dilanjut dengan pergantian para pimpinan Rumah Sakit, yang kini dibawah naungan Yayasan Kesehatan HKBP.

 

Ephorus HKBP dalam khotbahnya katakan yang tertulis di Almanak harus dikoreksi karena usia Rumah Sakit sudah 100 Tahun yang berdiri sejak 1 Agustus 1918. Di Tanah Batak dulunya, ada banyak wabah penyakit seperti munmen, cacar, diare, tetapi orang batak selalu bilang itu karena “beguantuk”, lalu itu disisihkan dari masyarakat “dibeanghon”. Makanannya dimasukkan ke dalam kurungan, kalau habis berarti masih hidup, tetapi kalau sudah tidak habis, berarti sudah mati, kemudian dikuburkan. Pernah dulu dijual garam dari tapanuli sampai ke wilayan sumatera timur karena dianggap sangat mujarab, bahkan pusing dianggap garam lah obatnya. Mendengar ini, Misionar turun tangan dengan meminta bantuan dari RMG sehingga didirikan barak – barak atau pos kesehatan di berbagai daerah tapanuli raya, dan inilah cikal bakal menjadi pusat pelayanan Rumah Sakit. Pemerintah memberikan perhatian menjadikan tempat itu bangsal tepat 1 Agustus 2018 di tempat ini.

 

Orang benar dan orang yang beriman adalah orang – orang yang juga mementingkan kesehatan jasmani dan rohani. Orang Batak sejak dulu telah diajarkan pentingnya pelayanan holistik, jelas seperti ungkapan *”pir ma pongki, bahul bahul pancalongan, pir ma tondi, lujuluju ma pangomoan”.* Sangat penting menjadi sehat jasmani dan rohani, tidak ada larangan menjadi kaya, tetapi pujilah Tuhan, tolonglah orang yang menderita.

 

Baca juga  Mari Bicara Data Bukan Hoax

Orang benar dan orang yang beriman adalah orang – orang yang juga mementingkan kesehatan jasmani dan rohani. Orang Batak sejak dulu telah diajarkan pentingnya pelayanan holistik, jelas seperti ungkapan *”pir ma pongki, bahul bahul pancalongan, pir ma tondi, lujuluju ma pangomoan”.* Sangat penting menjadi sehat jasmani dan rohani, tidak ada larangan menjadi kaya, tetapi pujilah Tuhan, tolonglah orang yang menderita. Yesus Kristus mati demi kita, dilanjut dengan pelayanan para Misionar ke Tanah Batak. Seperti Misionar Gustav Pillgram yang mau meninggalkan kampung halamannya, keluarganya, tanahnya, hanya datang ke Tanah Batak sampai meninggal di Balige ini. Bagaimana kita menghargai perjuangan para Misionar dan Kasih Tuhan kepada Bangsa Batak? Apakah sudah cukup sudah berdiri Rumah Sakit? Apakah sudah selesai berdirinya HKBP? Apakah sudah cukup misi kita sebagai Orang Kristen Batak? Belum, jawablah panggilan itu di dalam hidup kita masing – masing.

 

Ephorus HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing sedang menyampaikan Firman Tuhan

Jubileum 100 Tahun ini dilayani oleh Ephorus HKBP (pengkhotbah), Kadep Koinonia Pdt. Dr. Martongo Sitinjak dan Kadep Marturia Pdt. Dr. Anna V. Pangaribuan (Liturgist), Sekjend Pdt. David Farel Sibuea, M.Th,D.Min (Pendoa Syafaat). Turut hadir, Pengurus Yayasan Kesehatan HKBP, Pengawas Yayasan Kesehatan HKBP, Mitra dari Jerman Kon – Suld Mr. Radloff, Anak Rantau Toba – pemerhati dan pendukung pengembangan Rumah Sakit, Para Pelayan Praeses, Pendeta Jemaat, Bibelvrouw, Guru Huria, Diakones, dari beberapa distrik, dan utusan jemaat HKBP.

 

Sebelum Puncak Jubileum ini, juga diadakan Seminar Kesehatan Jantung dan pola hidup sehat, donor darah, jalan santai yang dikoordinir oleh Panitia, distrik dan Pemkab Tohasa. Usai Ibadah, dilanjut dengan Kata Sambutan oleh Ketua Panitia Praeses Pdt. Donda Simanjuntak, Wakil Ketua Yayasan Kesehatan Prof. Posman Sibuea, Perwakilan Keluarga Pardede dan Siahaan, Mewakili Praeses HKBP (Toba) Pdt. Mangantar Tambunan, Mitra Jerman Distrik Kon – Suld oleh Reinhard Radloff, dan Bimbingan Pastoral Ompu i Ephorus HKBP.  Dalam bimbingannya, Ompu i Ephorus HKBP menegaskan Rumah Sakit ini adalah milik HKBP, anugerah Tuhan menjadi berkat bagi banyak orang, dan mengucapkan terimakasih kepada Pemkab Tobasa secara khusus Bupati Ir. Darwin Siagian atas perhatian dan dukungan yang luar biasa.

Baca juga  *Penyegelan dan Pelarangan Penggunaan Rumah Ibadah, GMKI: Negara Lalai Melindungi Hak Setiap Warga Negara*

 

Horas HKBP…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here