PDT. WEINATA SAIRIN: UMAT BERIMAN TEGUH MELAWAN FITNAH DENGAN SUNGGUH

0
87

 

 

_”Audacter calumniare semper aliquid haeret. Memfitnah secara gegabah selalu (akan) menggoreskan sesuatu (yang buruk)”_.

 

Kata “fitnah” yang acap kita dengar atau kita gunakan dalam percakapan sehari-hari adalah sebuah kata populer yang sudah lama kita kenal. Buku “Logat Ketjil Bahasa Imdonesia” yang disusun WJS Poerwadarminta (Jb Wolters, Groningen-Jakarta, 1951) menjelaskan makna kata itu sebagai berikut. *fitnah*, ( *pitnah*,  *pitenah*), perkataan yang menghinakan nama orang; memfitnahkan, menghinakan, memburukkan nama orang. Itu bunyi penjelasan dalam buku tersebut. Lepas dari kita setuju atau tidak setuju terhadap penjelasan yang diungkapkan buku yang terbit lebih dari setengah abad yang lalu di Betawi, yang penting dicatat bahwa masyarakat di zaman itu sudah mengenal kata _fitnah_.

 

Kata _fitnah_ menjadi sangat populer, sesudah munculnya ungkapan dalam sebuah film yang menyatakan : “fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”. Film layar lebar yang setiap tahun ditayangkan di televisi, bercerita tentang peristiwa pemberontakan G.30 S./PKI, sebuah film berdarah-darah yang mengungkapkan kekejian peristiwa lubang buaya, kini tidak lagi ditayangkan di televisi karena aspek edukasinya yang tidak terlalu signifikan.

 

Fitnah berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah “cobaan” atau “ujian”. Fitnah adalah informasi bohong tanpa berbasis kebenaran yang secara sengaja disebarluaskan untuk menjelekkan atau memburuk-burukan nama orang lain. Dalam masa-masa kampanye pemilihan kepala daerah, pemilihan pimpinan organisasi atau rekrutmen tenaga baru di kantor pemerintah atau swasta, biasanya isu, fitnah, berita hoax itu beredar cepat dan luas.

 

Di zaman medsos marak seperti sekarang ini konon cerita fitnah dan info hoax dikemas secara canggih dan profesional oleh orang-orang yang ahli dibidangnya dan diproduk dengan cepat, dishare ke berbagai lembaga/pribadi untuk membunuh karir lawan politik.

Baca juga  KUASA ALLAH ROH KUDUS DAN KUASA INJIL TIDAK BISA DIBATASI ATAU DIHAMBAT

 

Sebagai umat yang beragama, kita seharusnya menjauhi dan melawan fitnah, bahkan tidak sekali-kali memproduk fitnah. Kita harus menyatakan tentang diri kita dan tentang orang lain sesuai dengan fakta yang sebenarnya; tidak _lebay_ menambah data baru yg tidak benar dan atau menghilangkan data yang ada.

 

Agama-agama dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan perintah yang jelas dan tegas kepada umatnya masing-masing agar mereka melakukan perbuatan yang baik, mengatakan kebenaran dan tidak memfitnah. Persoalan yang selalu muncul adalah bahwa untuk kepentingan sesaat seseorang (beragama) acap tergoda untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agana, termasuk melakukan fitnah. Hal yang memprihatinkan adalah bahwa ada banyak orang yang melakukan perbuatan yang notabene bertentangan dengan agama, tidak menampakkan wajah/sikap rasa bersalah. Mereka terlihat enjoy dan senyum-senyum saja. Persis seperti mereka yang terkena OTT oleh KPK, mereka terlihat enjoy dan dishoot tv mereka melambailambaikan  tangan

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menegaskan bahwa “memfitnah secara gegabah akan selalu menggoreskan sesuatu yang buruk”. Sebenarnya memfitnah itu sendiri adalah perbuatan negatif karena dilarang oleh agama. Artinya fitnah itu dikakukan dengan gegabah atau tidak gegabah ya tetap fitnah yang negatif dari perspektif agama.

 

Sebagai kaum beriman yang taat menjalankan ajaran agama kita mesti menampilkan sikap beragama yang konsisten, taat dan setia. Dalam konteks itu kita harus berani untuk tidak memfitnah, melawan konten fitnah dan juga mengingatkan orang lain untuk tidak melakukan fitnah.

 

Bersama dengan banyak orang yang yang berkehendak baik kita harus berjuang membebaskan negeri ini dari fitnah, hoax, terorisme, begal, koruptor, intoleransi; radikalisme, penebar ujaran kebencian, dan sebagainya.

Baca juga  Siapa PemenangNya

 

Kita harus membuktikn kepada dunia, bahwa NKRI adalah negara yang warganya taat beragama sebab itu aman, damai sejahtera dan berkeadaban.

 

Selamat berjuang. God bless

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here