GBI: Gereja Protestan Multi Kompleks & Pertarungan Faksi-Faksi

0
889

 

 

Oleh:  Paul Titihalawa

 

GBI adalah  Protestan Multi Complex Church. Ciri Utama dari Gereja seperti ini ialah:

 

1. Laju Pertumbuhan diatas rata-rata skala normal Pertumbuhan Gereja,

 

2.  Laju  Permintaan Pelayanan di atas rata-rata, yakni Pertambahan anggota Jemaat Baru dan Penanaman Gereja Baru Cenderung Meningkat Tajam dan Stabil,

 

3. Laju Intensitas Penawaran Program Pelayanan di setiap level Kepemimpinan (Jemaat Lokal/ BPD/Sinode), Sangat Tinggi dan MultiVariatif

 

4. Laju Sinergitas Jejaring Pelayanan Sarat dengan Kolaborasi Kepentingan  (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Keamanan), adalah suatu keniscayaan.

 

Pada Level ini seringkali nampak “Agenda” Pribadi Anggota Jemaat ataupun Agenda Pribadi Pejabat Gereja Lokal, Maupun Agenda Pribadi Pejabat Organisitoris Gereja, sering mewarnai berbagai Kebijakan dan respon Gereja terhadap segala realitas yang  berdampak langsung dengan Gereja

 

5. Laju Lonjakan Pertambahan dan Pertumbuhan Umat Menjadikan Gereja sebagai “Mega Church”, yakni: SwaKelola, Memiliki Nama Besar, Harga Diri Sosial yang Sangat Tinggi, Nilai Jual yang Sangat Tinggi,  Organisasi Pelayanan yang Bergengsi, Maka secara otomatis telah Menempatkan atau memposisikan  Pejabat dan Gembala Lokal maupun Gereja Lokal/BPD/Sinode maupun Pemimpin Organisasi tersebut di tempat yang Tinggi dan  Terhormat.

 

Dengan demikian, Tantangan Utama dalam Kepemimpinan GBI saat ini  ialah bagaimana bijak dalam Megelola Suatu Organisasi yang Memiliki Kedudukan Tinggi dan Terhormat itu. Bagaimana Bijak dalam Meramu dan Mengakomodir Berbagai Bentuk  “Atualisasi Diri” yang dipertotonkan oleh setiap Anggota Jemaat ataupun Pejabat GBI.

 

Ada yang berkepentingan pada Pengembangan Diri,  Pengembangan Pelayanan, Pengembangan Jemaat Lokal, Pengembangan Jaringan, Pengembangan Kelompok, Pengembangan Organisasi, Pengembangan Nama Besar, Pengembangan Pengaruh, bahkan tidak menutup kemungkinan atau ada kecenderungan bersinggungan dengan Tarik Menarik Politik dari luar gereja.

 

Pada dimensi inilah maka anggota Gereja dan Pejabat Gereja mulai “terfragmentasi” kedalam kelompok-kelompok berdasarkan beban, visi, misi dan Tujuan Pelayanan  yang berbeda dari masing-masing kelompok. Inilah yang Saya sebut dengan Pertarungan Faksi-Faksi yang menghadirkan “Spirit of Competition”.

 

Fenomena “Spirit of Competition” ini awal mula berhembus kencang dari Gd. Balai Samudera, Kelapa Gading, di saat Pagelaran Sidang Sinode 2004 dan Gaung bersambut pada Sidang MD DKI 2014 di Central Park dan Sidang Sinode 2014 di Sentul Convention Center.

 

Di 2004, Para Pejabat GBI mulai mengerucut dan terhisap ke dalam Tiga (3) Poros, yakni: Poros Pdt. Yakob Nahuway, Poros Pdt. Niko Nyotoraharjo dan Poros Pdt. Ferry Kakiay dan baru di tahun 2014 lahirlah Poros Pdt. Japarlin Marbun.

 

Berbicara mengenai Faksi-Faksi di Tubuh GBI, maka  Saya Mencoba Membagi Faksi-Faksi tersebut kedalam Empat (4) Poros, yakni:

Poros Karismatik Tradisional, Poros Karismatik Modern, Poros Kharismatik Naturalis dan Poros Kharismatik Primordial.

 

1. Poros Kharismatik Tradisional

 

Poros Kharismatik Tradisional ialah  sekumpulan Pejabat dan Gereja Lokal. Diantara Mereka  mempunyai Ikatan Historis dan Emosional Pribadi dan Pelayanan yang kuat, khususnya dengan Pendiri GBI, yakni HL.Senduk. Kelompok ini senantiasa merawat Pola-Pola Kepemimpinan dan Pelayanan dari Pdt.Dr.HL.Senduk. Poros ini melahirkan banyak Tokoh, diantaranya: Pdt.Soehandoko, Pdt.Andreas Sorjadi, Pdt.Mesakh, Pdt.Yakob Nahuway, Pdt. Yosia Abdisaputra, Pdt.Gilbert Lumoindong, Pdt. Kiki Tjahyadi

 

Poros ini Terpusat dan Terpancar dari Link GBI Petamburan dan turunannya ke GBI-GBI satelit. Poros ini sangat kuat mengakar di GBI.

 

2. Poros Kharismatik Modern

 

Poros Kharismatik Modern ialah  sekumpulan Pejabat dan Gereja Lokal, walaupun mereka tidak mempunyai Ikatan Historis Pendirian Gereja dan tidak ada ikatan Emosional Pribadi dengan Pendiri GBI, yakni HL.Senduk, tapi atas tuntunan Roh Kudus terhisap ke dalam GBI dan senantiasa mengedepankan  prinsip pelayanan GBI yang Puritan dan Kharismatik.

 

Luar biasanya Kelompok ini sangat GBI walaupun dengan model Otonomisasi yang sangat ketat dengan pemantapan sistem pelayanan modern.

 

Poros ini Terpusat dan Terpancar dari Link GBI Gatot Subroto dan turunannya ke Jemaat Lokal dibawahnya.

 

Poros ini sangat kuat mengakar di GBI dengan Pdt.Niko Nyotoraharjo Sebagai Tokoh Sentral.

 

3. Poros Kharismatik Naturalis

 

Poros Kharismatik Naturalis ialah  sekumpulan Pejabat dan Gereja Lokal, Tidak Memiliki Gereja Cangkang dan karena alasan tertentu, Tidak Tergabung ke dalam Poros apapun juga, namun secara tidak sadar mereka terakomodir ke dalam Poros Kharismatik Naturalis.

 

Kelompok ini selalu memposisikan diri sebagai Poros Penyeimbang disetiap perhelatan Pengambilan Kebijakan Sidang-Sidang MD maupun dalam Sidang-Sidang Sinode.

 

Poros ini sangat kuat mengakar di GBI dengan Pdt.Ferry Kakiay Sebagai Tokoh Sentral. Kemampuan Mengelola Jaringan Kepemimpinan di GBI itulah Kekuatan Luar Biasa yang mengantar beliau menjadi Kekuatan Penyeimbang.

 

3. Poros Kharismatik Primordial

 

Poros Kharismatik Primordial ialah  sekumpulan Pejabat dari Gereja Lokal, berasal dari satu suku tertentu, Membangun Persekutuan dan menjadikan ikatan kesukuan  sebagai kekuatan penyeimbang dalan distribusi pelayanan di GBI.

 

Kelompok ini selalu memposisikan diri sebagai Poros Penyeimbang disetiap perhelatan Pengambilan Kebijakan Sidang-Sidang MD maupun dalam Sidang-Sidang Sinode dengan “Agenda Khusus”, Memunculkan Tokoh bagi GBI dari suku tersebut.

 

Sebenarnya isu atau fenomena kehadiran Poros seperti ini akan menjadi bahaya laten bagi Kepemimpinan di GBI

 

Poros ini mulai mengemuka di kancah faksinisasi GBI Tatkala dalam Sidang MD DKI Jakarta, di Central Park, beberapa hamba Tuhan dari Suku Batak bermanufer hingga menempatkan beberapa hamba Tuhan sesuku mereka kedalam posisi penting di GBI.

 

Suka atau Tidak Suka,  Pdt.Japarlin Marbun telah diposisikan Sebagai Tokoh Sentral di Poros Kharismatik Primordial ini.

 

Inilah GBI, Gereja yang Dinamis dan  Futuristik.

 

Ketika Seorang Pejabat terbeban atau terpanggil untuk mengaktulisasikan dirinya ke dalam barisan kepemimpinan GBI, maka Pemetaan Faksi-Faksi yang ada di GBI akan membantu Anda untuk bisa Memposisikan Diri Secara Bijak dalam Budaya Organisasi   GBI yang sudah Tersistem dengan Baik.

 

Dalam Catatan  Sejarah  Kepemimpinan Sinodal di GBI, Para Ketua Sinode, mulai dari Pdt.HL.Senduk, Pdt.Andreas Surjadi, Pdt.Soehandoko Wirhaspati, Pdt.Jacob Nahuway dan hingga kini Pdt.Japarlin Marbun, semuanya unsur Poros Kharismatik Tradisional.

 

Sama halnya dengan Para Ketua BPD DKI Jakarta, umumnya dijabat oleh Unsur Poros Kharismatik Tradisional. Namun, di dua periode kepemimpinan dijabat dari unsur Poros Kharismatik Modern, yakni: Pdt. Paul Wijaya dan Pdt.Jonathan Sudarjadi. Kini Kembali pada Poros Kharismatik Tradisional, yakni Pdt.Kiki Tjahyadi.

 

Menariknya, dalam Sidang MD DKI Jakarta 2014, barisan Poros Kharismatik Modern membuka diri berkolaborasi dengan Poros Kharismatik Tradisional Mengusung Pdt.Samuel Gunawan sebagai Calon Ketua DKI Jakarta, tapi Sayangnya Gagal berhadapan dengan Calon yang diusung oleh Poros Kharismatik Naturalis, yakni Pdt.Jonathan Sudarjadi, padahal  beliau adalah bagian dari-dan tidak didukung oleh Poros Kharismatik Modern.

 

Menariknya, di Sidang MD DKI Jakarta 2018, Pdt.Paulus Sugiharto, yang Saya tahu tidak terhisap pada salah satu poros yang ada, mencoba tampil sebagai salah satu calon unsur pimpinan tertinggi di GBI, tapi Gagal.

 

Kesimpulannya, Segala hal yang berhubungan dengan Kehidupan Organisasi GBI, secara real terpolarisasi didalam hubungan kolegial Lintas Poros, sehingga Menciptakan “satu sistem” Kepemimpinan Gereja Betjel indonesia yang Profesional. Inilah Realitas Faksinisasi di Tubuh Gereja Bethel Indonesia (GBI).

 

*Paul Titihalawa, Analis Gereja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here