Financial Management Series: Break Even Analysis

0
104

 

 

 

Oleh: P. Adriyanto

 

 

Banyak manajemen perusahaan yang pusing menghadapi masalah kerugian yang dialami perusahaan. Ada beberapa faktor penyebab kerugian, tapi yang terkait erat dengan bottom up tentu revenue dan cost.

Bila mereka memutuskan untuk meningkatkan revenue/penjualan, ada beberapa kendala  seperti keterbatasan modal kerja, persaingan/keterbatasan market share, kompetensi/produktivitas sales people atau kurang nya jumlah tenaga sales (bagi perusahaan ritel), kurangnya stock/persediaan barang, dan lain-lain.

Di samping itu, bila penjualan ditingkatkan maka pasti cost akan meningkat.

 

Bila cost akan ditekan, maka usaha ini tidaklah mudah bila tidak dilakukan tindakan drastis seperti pengetatan budget dengan memangkas secara drastis beberapa costs dan expenses, memangkas jumlah tenaga kerja (rasionalisasi/PHK).

Apabila dilaksanakan cost cutting/cost reduction program yang biasa, maka memerlukan waktu yang cukup lama.

 

Break-Even Analysis akan sangat membantu manajemen untuk membuat rencana yang lebih baik.

Apakah Break-Even Analysis itu?

Break-Even Analysis

(Analisis Titik Impas) adalah analisis untuk menetapkan volume penjualan yang dapat menutup biaya (impas), dengan konsekuensi tidak ada profit.

Analisis ini akan memberi gambaran secara tepat berapa volume penjualan harus ditingkatkan dan atau berapa cost harus di tekan.

Bila cost tidak bisa ditekan atau sedikit bisa ditekan, berapa volume penjualan harus ditetapkan agar terjadi break-even atau profit dapat ditingkatkan, demikian juga sebaliknya.

 

Breakeven-Analysis ini juga dikenal sebagai

Cost – Volume – Profit Analysis yang dapat ditetapkan berdasarkan dua metode:

* Management Accounting

* Financial Accounting.

 

Sebagai praktisi financial management, saya tidak pernah menggunakan metode berdasarkan Accounting Management dengan alasan:

#  Penggunaan.metode/cara analisis berdasarkan Accounting Management ini bersifat teoritis.

Baca Juga  BEBERAPA PILAR YANG MEMPERKOKOH CORPORATE LEADERSHIP: BAGIAN VI

 

#

Tidak mudah menetapkan secara pasti, mana yang merupakan fixed cost dan mana yang variable cost, mana yang semi fixed dan yang semi variable, sehingga memakan waktu yang.lama.

 

Dengan demikian saya selalu mempergunakan metode berdasarkan Financial Accounting.

 

I *Perhitungan Break-Even berdasarkan Accounting Management*

 

Rumus:

Pendapatan x CPS = Biaya Tetap + Laba

 

Keterangan:

CPS: Cintribution Percentage of Sales (persentase kontribusi marjin per penjualan)

 

Contoh perhitungan CPS:

– Revenue (pendapatan): 200,000

– Variable cost: 120,000

 

Kontribusi marjin:

Revenue – Variable Cost : Revenue X 100%

 

(200,000 – 120,000)/200,000 X 100%  = 40%

 

*Contoh 1*

 

Berapa biaya tetap agar terjadi BEP (Break Even Point/Titik Impas) bila diketahui:

* Pendapatan : 35.000.000

* Laba.   : 3.800.000

* CPS.     : 22%

 

*Jawab*

35.000.000 X 22% =

X x 3.800.000

35.000.000 x 22% – 3.800.000.= X

X = 3.900.009

 

*Contoh 2*

 

Berapa omzet penjualan yang harus diperoleh untuk mencapai BEP, bila diketahui:

 

CPS : 22%

 

Fixed Cost : 3.900.000

 

Laba : 3.800.000

 

*Jawab*

 

X x 22% = 3.900.000 + 3.800.000

 

O.22 X = 7.700.000

 

X = 35.000.000

 

II *Perhitungan Break-Even Berdasarkan Financial Accounting*

 

Mengingat tidak mudahnya menetapkan secara tepat mana fixed cost mana variable cost, maka perhitungan Break-Even lebih baik ditetapkan berdasarkan formula dari Financial accounting dengan mempergunakan kerangka income statement (laporan laba/rugi) dalam bentuk persentase s bagai berikut:

 

Penjlan bersih: 100%

HPP (misal).   :   52%

———-

Laba kotor.           48%

Beban usaha.       48%

———–

EBIT.                         O%

 

*Contoh*

 

Apabila HPP 52% dan biaya 50% (estimasi 58.000.000), berapa omzet penjualan yang harus dicapai agar terjadi BEP?

Baca Juga  Pentingnya Membentuk Blok Politik Sipil sebagai Motor Perubahan.

 

*Jawab*

 

X- 0.52X – 58.000.000= O

 

O.48X = 58.000.000

 

X = 120.833.333

 

*Pengujian*

 

Pnj brsh: 120.833.333

 

HPP/52%. 62.833.333

——————–

Laba ktr.    58.000.000

 

Biaya.         58.000.000

——————–

EBIT.                 0

 

*Contoh 2*

 

Bila omzet penjualan

Rp. 100.000.000, HPP 52%, berapa biaya yang harus dikeluarkan agar mencapai BEP?

 

*Jawab*

 

100.000.000-52.000.000 – X = 0

 

48.000.000= X-0

X = 48.000.000

 

*Contoh 3*

 

Berapa biaya harus ditekan bila dikehendaki EBIT  sebesar 7.500.000

 

*Jawab*

 

100.000.000 – 52.000.000 – X = 7.500.000

 

X = 48.000.000 – 7.500.000

 

= 40.500.000

 

*Semoga bermanfaat*

 

 

 

.

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here