Hari Darmawan, Saya Menyebutnya, Pengusaha Pejuang

0
273

Oleh: Kristin Samah

 

 

 

Ketika tiga tahun yang lalu diajak berkenalan dengan Hari Darmawan, pendiri Matahari Departement Store, kesan pertama saya, “wow…”. Matahari adalah toko serba ada paling tersohor di Indonesia. Pada masanya menjadi peritel yang jaringannya paling banyak di Indonesia.

 

Di sisi lain, nama Hari Darmawan tak kalah tersohornya dibanding toko yang ia dirikan. Ia maestro ritel. Tercatat sebagai seorang yang berhasil menangkal masuknya jaringan ritel besar kaliber dunia.

 

Maka ketika menuju Megamendung, aku membayangkan sebuah rumah megah. Dan layaknya “orang besar” pastilah ia dikelilingi sekretaris, ajudan, pengawal, dan bermacam-macam staf yang siap membantunya.

 

Sahabat saya Sigit Triyono yang lama berkarir di Matahari, membawa ke sebuah rumah kayu dengan dominan warna merah. Menuju rumah itu harus menyeberangi jembatan sungai Ciliwung. Bisa dikatakan persis di tengah-tengah kawasan Taman Wisata Matahari di Megamendung.

 

Berulangkali saya meyakinkan diri sendiri ketika dikatakan itulah tempat tinggal Pak Hari. Istrinya lebih banyak tinggal di Singapura atau di Bali karena harus mendapat perawatan kesehatan.

 

Bila tinggal di Jakarta, rumah di tengah Taman Wisata Matahari itulah tempat tinggalnya. Masih tak percaya, sambil menunggu Pak Hari, saya berkeliling rumah itu. Bertemu dengan sekretaris pribadi yang mengurus hampir semua kebutuhan Pak Hari baik untuk pribadi maupun bisnis. Dari Mbak Lim, sekretaris itu, saya diyakinkan bahwa Pak Hari tinggal di rumah itu.

 

Di antara debur wahana air ditimpa suara tawa dan teriakan anak-anak, Pak Hari menyapa kami setelah selesai berenang, sauna, dan mandi. Aktivitas itu dilakukannya hampir tiap hari.

 

Ramah ia menyambut kami. Tawanya lebar. Berulangkali menyatakan rasa bangga bisa berkenalan dengan saya. Justru itu membuat saya malu. Seorang maestro memuji terlalu tinggi, kalau bukan karena kematangan dan kerendahan hatinya, tak mungkin terjadi.

 

Saya masih berharap kami pindah ke ruangan lain yang bisa menunjukkan “kelas” Pak Hari. Sampai akhir pertemuan, itu tidak terjadi. Kami berbincang hingga suara anak-anak hilang dan deburan air berganti gemericik dan hembusan alam.

 

Kemudian ketika percakapan di ruang tamu itu berlanjut menjadi wawancara untuk penulisan buku “Filosofi Bisnis Matahari”, akhirnya saya tahu bahwa tinggal di tengah masyarakat itu bagian dari panggilan jiwanya.

 

Konon, kawasan Megamendung menjadi sanctuary bila Pak Hari jenuh dengan kesibukannya. Namun ketika kepemilikan Matahari beralih dan waktu lebih banyak mengusainya, ia menjadi sangat terpukul melihat banyak penduduk di sekitar tempat tinggalnya hidup miskin.

 

Belum lagi dilihat banyaknya anak-anak perempuan yang dinikahkan belia karena kesulitan ekonomi. Andai ada lapangan pekerjaan, tentu kualitas hidup mereka bisa meningkat. Lambat laun ia mendirikan Taman Wisata Matahari. Kontraktornya penduduk sekitar. Pekerjanya penduduk sekitar, pengelolanya penduduk sekitar. Singkatnya, sebagian besar operasional didedikasikan untuk penduduk sekitar.

 

Sampai di situ saya menarik nafas panjang. Betapa tidak mudah cara Pak Hari membangun Taman Wisata Matahari ketika usianya sudah tidak lagi di puncak stamina. Mengapa ia tak memanggil kontraktor profesional, operator profesional, management profesional? Jawabannya sudah pasti. Ia berbisnis bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk masyarakat.

 

Lalu kami mulai berbincang tentang Filosofi Bisnis Matahari. Dan ini yang membuat saya terkesan. Ia membangun bisnis ritel di saat negeri ini masih terpuruk didasarkan pada kesadaran bahwa bisnis ritel merupakan salah satu cara mendidik masyarakat Indonesia. Ketika pendidikan belum merata, lapangan pekerjaan belum ada, mendidik anak-anak muda masuk ke dunia ritel berarti mendidik generasi muda karena dalam bisnis ritel, faktor sumber daya manusia merupakan kunci.

 

Ia mendorong pengusaha untuk melakukan produksi. Dan ia berhasil. Sebutlah merek Hammer atau Yongky Komaladi, dan sejumlah brand lainnya yang berjaya pada masanya. Itu antara lain hasil bimbingan Hari Darmawan.

 

Saya penasaran mengapa Hari Darmawan begitu ingin turut serta memberdayakan masyarakat? Lalu dikatakannya, bisa saja ia mengikuti jejak kedua orang tuanya, atau mertuanya, meninggalkan Indonesia ketika kerusuhan rasial terjadi. Namun ketika itu, darah mudahnya mendidih saat mendengar pidato Bung Karno. Ia merasa Bung Karno adalah motivator terbesar yang dimiliki Indonesia. Saat itu, ia memahami, pebisnis juga pahlawan ekonomi yang mendukung pembangunan suatu bangsa.

 

Kalau Bung Karno meneriakkan perlunya philosophishe grondslag untuk menjadi bangsa yang besar, di awal meniti bisnis. Ia mendasarkan pada Filosofi Bisnis Matahari. Dan di tahun-tahun terakhir hidupnya, Hari Darmawan ingin saya ikut menggelorakan filosofi bisnis yang sudah dirumuskannya dalam sebuah buku.

 

Selamat Jalan Pak Hari…

 

(Kristin Samah, bersama Sigit Triyono menuliskan “Filosofi Bisnis Matahari, Jakarta, 2017)

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here