Pdt. Weinata Sairin: Menghidupi Hidup Tanpa melukai

0
127

 

 

“Laedere facile, mederi difficile. (Untuk) menyakiti hati itu mudah, tetapi (untuk) menyembuhkannya susah”.

 

Dalam pergaulan antar manusia yang majemuk selalu saja ada kasus-kasus yang membuat seseorang itu sakit hati. Bisa saja hal itu disebabkan karena kata-kata kasar berisi makian atau hujatan yang ditujukan kepadanya, bisa sikap seseorang yang bertendens penghinaan, bisa perilaku seseorang yang cenderung diskriminatif. Sakit hati tidak memandang tempat; tidak memperhitungkan lokasi. Bisa terjadi dirumah, dengan sang pendamping setia, atau dengan anak-anak; bisa juga terjadi di kantor RT/RW, bisa terjadi di kantor, bisa terjadi dalam interaksi kita dengan masyarakat, bisa terjadi dimana saja dan dengan siapa saja. Sakit hati juga tidak terlalu mempersyaratkan umur terlalu ketat. Seorang anak SD kelas 2 pernah mrnyatakan kekesalannya dan sakit hatinya karena permintaannya untuk membeli game tidak dipenuhi. Orang tua yang sudah sepuh bisa juga mengungkap rasa sakit hati tatkala mereka kurang memperoleh perhatian dari anak-anak mereka.

 

Dari pengalaman praktis, seseorang yang sakit hati dan belum terjadi ‘perdamaian’ dengan saling memaafkan diantara kedua belah pihak, tidak mengalami kehidupan yang nyaman. Selalu timbul amarah, sangat emosional, sulit tidur dan mempengaruhi pekerjaan.

 

Kemarahan, sakit hati, rasa dendam kesemuanya tidak nyaman bagi kita, bahkan mengganggu metabolisme tubuh. Sebab itu agama-agama mengajarkan untuk segera saling berdamai dan bermaaf-maafan jika pada suatu saat kita terlibat konflik dengan seseorang. Padamkan kemarahan sebelum matahari terbenam dan jangan biarkan kemarahan menggumpal menjadi dendam, itu pesan tokoh agama yang acap kita dengar. Kita harus mengembangkan sikap hidup yang saling memaafkan dan mengampuni karena kita juga membutuhkan pengampunan dari Tuhan.

Baca Juga  Selalu Fokus

 

Voltaire pernah berucap “memaafkan musuh musuh kita adalah mujizat yang sangat luar biasa”. Mengapa mujizat Ya sebab hal itu amat sulit dilakukan. Bagaimana kita sanggup memaafkan dan mengasihi musuh kita yang selama ini menghina kita bahkan yang berusaha mencelakakan kita.

 

Selaku orang beragama yang setiap saat memohon doa kepada Tuhan, kita bisa belajar terus untuk memaafkan dan mengasihi musuh tanpa mengingat-ngingat perbuatan permusuhan yang pernah ia lakukannya untuk kita. Hal yang harus kita ingat dalam niat memaafkan dan mengasihi musuh adalah bahwa sebagai sesama manusia ciptaan Allah kita harus saling mengasihi, tidak menyimpan dendam dan marah berkepanjangan. Kita ingin membuktikan kepada Voltaire, paling tidak, bahwa memaafkan dan mengasihi musuh itu tidak lagi sebuah *mujizat* tetapi sesuatu yang biasa dan standar sebagai perilaku umat beragama.

 

Hidup kita sebagai makhluk fana, memiliki limit waktu yang jelas. Oleh karena itu hidup yang fana ini mesti di dayagunakan dan di isi dengan hal-hal positif, konstruktif dan kontributif. Hindari konflik dan jangan menyakiti hati siapapun juga. Andaikata memang marah itu tak terhindarkan maka janganlah hingga matahari terbenam marah itu masih tersimpan aman di kedalaman nurani. Selesaikan semuanya dengan baik sebelum rembang senja datang menjelang. Menyakiti hati itu mudah, tetapi menyembuhkannnya susah. Mari hidupi hidup ini dengan curahan kasih dan pengertian bagi orang banyak disekitar kita agar dunia lebih damai dan “amazing”.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here