Pdt. Weinata Sairin:”Age is a very high price to pay for maturity”. (Paulo Coelho)

0
118

Salah satu materi pertanyaan yang selalu diajukan oleh mereka yang berada dalam posisi usia yang lanjut jika saling bertemu adalah tentang _umur_. “Berapa sekarang umur, kelihatannya belum berubah sejak dulu!”. “Berapa jumlah anak dan cucu?” Pertanyaan-pertanyaan _klise_ seperti itu acap muncul dalam pertemuan-pertemuan kaum usia lanjut. Umur menjadi amat penting dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan praktis kita mendengar berbagai kisah tentang orang–orang yang melakukan “modifikasi/pengubahan” (bisa juga dibaca sebagai “pembohongan) terhadap umurnya, baik menambah maupun mengurangi umur jika seseorang memasuki sebuah lembaga yang secara ketat mempersyaratkan umur sebagai salah satu kriteria.

Dalam konteks pembicaraan tentang umur/usia, kita mengenal istilah ‘umur harapan hidup’ atau acapkali lebih teknis disebut “Angka Harapan Hidup” (AHH). Angka harapan hidup adalah rata-rata perkiraan ekspektasi tentang seseorang dari usia bayi yang baru lahir hingga mencapai kematiannya. Tentu saja AHH ini amat bersangkutpaut dengan tingkat kemakmuran negeri, kualitas kesejahteraan masyarakat secara ekonomis. Di negara-negara berkembang AHH itu berada pada kisaran 40-60, namun dinegara maju bisa mencapai angka 90. Sementara itu AHH di Jepang berada pada posisi 82,25 ; Prancis 81,19 ; Singapura 82,14. Data beberapa tahun yl posisi Indonesia berada pada angka 65,5. Data yang lebih up to date pasti akan berada pada angka yang lebih tinggi. Angka Harapan Hidup (Age Specific Rate) akan selalu dinamis sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam kehidupan suatu bangsa terutama yang berkaitan dengan aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya.

Dalam perspektif sosial dan budaya kita, orang-orang yang berusia lanjut memiliki tempat yang terhormat. Mereka dianggap telah memiliki jam terbang yang cukup dalam menjalani kehidupan. Mereka dianggap telah banyak makan garam kehidupan. Banyak dari antara mereka yang usianya lanjut dilibatkan baik dalam institusi Pemerintah maupun dalam organisasi non Pemerintah dan Civil Society sebagai penasihat atau majelis pertimbangan. Pemikiran, solusi dan wisdom dari mereka amat dibutuhkan dalam organisasi, bahkan figur mereka yang sepuh memiliki makna khusus dalam organisasi tersebut.

Baca juga  JANGAN PERNAH  MENYERAH

Dalam beberapa tahun terakhir, dalam konteks pengembangan profesionalisme dan mengakomodasi generasi muda ada banyak organisasi yang mensyaratkan batas umur bagi personalia pembina, pengurus dan pengawas atau juga penasihat, majelis pertimbangan. Secara umum biasanya organisasi seperti itu memberi persyaratan usia maksimal antara 60-65 tahun.

Ada baiknya jika ada ketentuan seperti itu di sebuah organisasi, pemberlakuannya tidak terlalu ketat. Artinya jika ada seseorang yang sudah berusia diatas 65 tahun, namun secara fisik dan mental masih cukup sehat dan masih berkerinduan untuk mendedikasikan dirinya bagi pelayanan organisasi institusi itu, ia masih bisa diberi kesempatan.

Kematian setiap orang sama sekali tidak pernah diketahui oleh siapapun, termasuk oleh orang itu sendiri. Kematian datang tanpa salam, tanpa mengetuk pintu. Kematian juga tidak mengenal usia: muda, tua, usia lanjut tidak berhubungan secara otomatis dengan *kematian*. Kematian bisa mendatangi seseorang dalam usia berapa pun.

Umur berhubungan dengan tumbuhnya sikap mandiri, dewasa, matang, penuh wisdom. Makin bertambah umur seseorang, makin bijak, makin berhikmat, makin dipenuhi wisdom. Umur adalah harga yang amat tinggi yang mesti dibayar untuk sebuah kematangan, sebuah _maturity_. Sebagai umat beragama kita bersyukur atas umur yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Kita mesti memanfaatkan dan mengisi umur yang Tuhan anugerahkan itu dengan tindakan dan karya yang positif, serta bertanggungjawab.

Selamat Berjuang. God Bless.

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here