Mengenang D.L. Sitorus

0
953

Oleh Yonge L.V. Sihombing, SE, MBA.

A. Latar Belakang
Sutan Raja Darianus Lungguk Sitorus, yang lebih dikenal dengan sebutan D.L. Sitorus, lahir 12 Maret 1938, di sebuah desa terpencil bernama Parsambilan, kecamatan. Silaen, Toba Samosir, Sumut.

Anak tunggal (anak sasada). Sejak kecil sudah ditinggal oleh sang bapa, karena meninggal dunia. D.L. Sitorus adalah anak yatim.

Ketika saya mewawancarai almarhum pada tahun 2000, di kantor PT. Torganda Jl. Iskandar Muda, alm. pernah bercerita tentang kisah perjalanan hidupnya kepada saya (Yonge Sihombing), bahwa ia hidup dalam kepahitan.
D.L. Sitorus, bercerita, bahwa dia selalu diejek, dicerca teman-teman masa kecilnya dengan sebutan anak ‘hatoban’ (anak pembantu). Memang diakuinya bahwa ibunya bekerja membantu di ladang orang, untuk mendapatkan upah, untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya.

D.L. Sitorus berkata dia tak sanggup mendengar ejekan, dan cercaan tersebut. Kadangkala orang-orang dewasa dan orang tua disekitar rumahnya juga mengejeknya demikian.

D.L. Sitorus juga bercerita bahwa mereka tinggal di sebuah rumah dimana mereka menempati bagian belakang rumah tersebut. Artinya, mereka tinggal ‘menompang’ di bagian dapur rumah tesebut.

D.L. Sitorus pernah bercerita bahwa dia tidak tahu apa arti anak pembantu atau anak hatoban. “Maklum, saat itu saya masih kecil,” katanya.

Tapi, sesekali ibu saya mendengar ejekan itu. Ibu saya terdiam, tampak seakan marah, tapi tak kuasa berbuat apa-apa.

Suatu hari, kata D.L. Sitorus dalam ceritanya, D.L. bertanya kepada sang Oma (ibu), apa arti anak ni hatoban. Ibu saya, tersenyum, dan tidak menjawab, tapi justru memeluk saya, kata D.L.

D.L. Sitorus pun serasa gak ada masalah dengan ejekan teman-temannya tersebut.

Karena terus menerus mendengar ejekan tersebut, kata D.L, akhirnya membuat saya ingin tahu artinya dari ibu. Satu ketika ibunya berkata, ibu tidak usah menjawab, suatu saat nanti kau akan tahu

Tak lama setelah itu, ibunya memutuskan untuk pindah ke P. Siantar, dan membawa D.L. Sitorus, akhirnya D.L. sekolah hingga SMU di Siantar.

Setelah lulus dari sekolah SMU, D.L. minta ijin untuk merantau ke Jakarta, tapi sang ibu tidak mengijinkan. Ibunya berkata. “Hanya kaunya hidupku, hanya kaunya hartaku’, lalu D.L. pun mengurungkan niatnya merantau.

Tapi, setelah beberapa waktu, D.L. bermohon kembali kepada ibunya untuk diijinkan merantau. Dan, dengan berat hati, sang ibu pun mengijinkan permohonan D.L. utk merantau ke Jakarta.

D.L. akhirnya pergi merantau, dan meninggalkan sang ibu yang amat sangat disayanginya.

D.L. bercerita ke saya, sejak dia meninggalkan sang ibu, sejak itulah air mata seakan tak pernah absen dalam hidupku.

Pelukan dan air mata, serta lambaian tangan ibuku, tergiang terus dalam hidupku.

Sesampai di Jakarta, D.L. bekerja sebagai buruh kasar, di Tanjung Priok Jakarta, dan berkat kegetiran, kepahitan, hidup yang dialaminya, mengajarkan D.L. untuk tabah, tahan menderita, kerja keras, seraya berdoa, dan mengingat poda/nasehat ibunya.

Waktu terus berjalan, D.L. semakin dewasa, dan berumahtangga, serta memiliki anak.
Tak diimpikan, tak direncanakan, akhirnya berkat Tuhan datang dan terus datang dalam hidupnya.

Usaha pun tumbuh dan berkembang pesat, dan tampil sebagai pengusaha papan atas secara nasional.

Mulai dari perkebunan, pendidikan, perbankan, perhotelan, perdagangan, perumahan, rumah sakit tumbuh bagai bunga bakung.

D.L. pun semakin yakin, dengan doa, pelukan, rintihan sang ibu, bahwa anak sasada/yatim menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Puluhan ribu orang bekerja di perusahaan D.L. Hasil usahapun disalurkan untuk membantu keluarga, membangun kampung halaman, membangun tobasa, Sumut, bahkan nasional.

Ratusan juta bahkan miliaran rupiah digelontorkan untuk kegiatan sosial, membangun rumah ibadah. D.L. sang dermawan tanpa pamrih.

Tak berhenti, D.L. pun bangkit dan mendirikan partai politik (PPRN), yang juga berhasil menghantar para pimpinan daerah dan pusat, utamanya di posisi wakil rakyat.

Krismon 1998, ekonomi nasional rontok, hampir semua usaha besar, sedang runtuh, tapi berbeda dengan D.L. Sitorus. Justru disaat krismon, D.L. menuai dollar, karena ekspor minyak sawit.

Saya berkesempatan mewawancarai beliau tahun 1999, dan saat itulah saya menulis di harian SIB dengan judul,: D.L. Sitorus Menuai Dollar Saat Krismon.

Pd hari Kamis, 3 Agustus 2017, sontak Sumut terkejut, mendengar kabar meninggalnya D.L. Sitorus. Informasipun beredar melalui medsos dan media massa.

Bangso Batak kehilangan. Bangso Batak menangis. Bangso batak mengenang.

D.L. Sitorus telah pergi ke rumah Bapa di sorga, dia telah tiada, tapi karya dan bhaktinya akan selalu diingat dan dikenang.

Saya setidaknya, salah satu yang akan mengingat dan mengenang karya dan bhakti beliau, meski saya tidak secara langsung menerima manfaat dari kesuksesan D.L.
Akan tetapi, apa yang diperoleh oleh warga Sumut, khususnya bangso Batak, saya sudah merasa turut berbahagia.

Selamat jalan Pak D.L.

Saya menyebut dan menamai Bapak sebagai :
1. Enterpreneur sejati.
2. Penyedia lapangan kerja, peretas pengangguran dan kemiskinan.
3. Pendidik walau bukan berpendidikan tinggi.
4. Misionaris meski bukan pendeta.
5. Filantropis,

Terimakasih.

Yonge L.V. Sihombing, SE, MBA staf ahli ketua DPRD Sumut.
Mantan wartawan.

Horas,
Juah juah
Yahobu
Aloi
Maturnuon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here