Makna Kenaikan Yesus ke Surga

0
241

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Lukas 24:50-53

(50) Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. (51) Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. (52) Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. (53) Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.

 

Hari Raya Kenaikan adalah memperingati saat di mana Tuhan Yesus meninggalkan murid-murid-Nya. Ia naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa-Nya. Hari Raya Kenaikan jarang dirayakan rame-rame, seperti Natal, Jumat Agung atau Paskah. Kebaktiannya pun kadang sepi dari pengunjung. Barangkali jemaat berpikir kenaikan Yesus ke surga tidak terlalu ‘seru’ dibandingkan peristiwa lainnya. Mungkin juga kita berpikir: Ah, itu urusan Dia dan untuk Dia. Kalau Natal, Jumat Agung dan Paskah kita rayakan dong karena terkait langsung dengan kita. Natal: Dia datang untuk kita, Jumat Agung: Dia menderita untuk kita, Paskah: Dia bangkit untuk kita. Kenaikan? Ya, kenaikan untuk Dia. Bukan begitu?

Hari Raya Kenaikan memang tidak perlu dirayakan rame-rame, tapi maknanya tidak kalah penting dengan Natal, Jumat Agung dan Paskah. Inti dari makna Kenaikan Yesus adalah: Periode baru dari kehidupan manusia kini telah dimulaikan. Periode sebelum Yesus naik ke surga memperlihatkan segala apa yang Allah lakukan bagi manusia. Periode setelah kenaikan, apa yang akan dan harus manusia lakukan bagi Allah. Selain itu, periode sebelum kenaikan merupakan masa penggembelengan dan masa pembinaan murid-murid (umat) Tuhan. Setelah kenaikan, murid-murid (umat) Tuhan diminta untuk terjun ke masyarakat luas untuk mempraktekan apa yang telah diajarkan dan dicontohkan-Nya.

Baca Juga  Bersukacitalah dalam Suka-Duka

Meskipun Yesus sudah naik ke surga, merninggalkan kita, bukan berarti Dia tidak bersama dengan kita lagi. Sebelum kenaikan Dia bersama kita secara fisik, tapi setelah kenaikan Dia menyertai kita melalui Roh-Nya Yang Kudus. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Ingat janji-Nya dalam Yohanes 14:18: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Juga dalam Matius 28:20: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Penyertaan Tuhan secara rohani ini berlangsung supaya kita sanggup bekerja bagi-Nya.

Tapi kita sering lupa bahwa kita sudah berada dalam masa dan periode di mana kita harus bekerja dan bertindak bagi Tuhan. Cara beriman kita masih seperti sebelum periode kenaikan. Kita terus menuntut apa yang harus Tuhan lakukan bagi kita, bukan apa yang harus kita lakukan bagi Tuhan. Pada hal setiap hari minggu kita mengikrarkan pengakuan iman untuk mengingatkan kita tentang periode baru ini. Salah satu butir pengakuan itu menyatakan: “Dia telah naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa.” Artinya, Dia sekarang sudah ada di surga, menilai dan mengamati apa yang kita kerjakan bagi-Nya. Jangan katakan bahwa kita tidak mampu bekerja bagi-Nya. Jaminan-Nya sudah diberikan: Ia selalu mengangkat tangan-Nya untuk memberkati kita. Ia melakukan itu melalui tangan para hamba-hamba-Nya yang setiap minggu terbuka untuk menyampaikan berkat-Nya. Ia juga melakukan itu melalui pertolongan Roh Kudus dalam setiap perjuangan kita. Jaminan itu juga dapat kita baca dalam Lukas 24:49: “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”

Baca Juga  Terbebas dari Belenggu

Memang, setelah kenaikan Dia tidak tampak secara fisik lagi, tapi jangan lalu kita berbuat seenak hati kita. Seperti karyawan yang bebal, atasan terlihat dia pura-pura berbuat rajin, atasan tak tampak dia ongkang-ongkang kaki. Atasan memang tidak dapat mengamati karyawannya dari jauh, tapi Yesus tahu persis apa yang kita lakukan. Tidak mungkin dan tidak akan dapat kita mengelabui-Nya.

Saudara-saudara, ada hal lain yang perlu kita pahami dalam rangka memperingati Kenaikan Tuhan Yesus. Iman kita sering seperti Tomas, tidak percaya kalau tidak melihat. Tapi kata Yesus: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29).

Iman Tomas adalah iman fisikal, harus melihat dulu, harus terbukti dulu baru percaya. Banyak gereja sekarang terperangkap dalam iman fisikal (material). Mereka mengajarkan bahwa orang beriman itu harus makmur dan kaya. Kalau tidak, ia tidak beriman. Ini keliru dan dapat menyesatkan. Dalam Matius 5:3 (baca!), siapa yang disebut berbahagia di sana? Bukan orang yang bergelimang harta! Kita semua tentu memerlukan materi, tapi jangan sampai itu dijadikan ukuran beriman, dan jangan sampai itu dijadikan ukuran untuk memilih gereja. Yesus pasti akan sedih.

Yesus kini tidak ada lagi secara fisik bersama kita, tapi Dia menyertai kita secara rohani. Ia mengharapkan iman kita semakin dewasa dan tidak terjebak pada iman fisikal. Iman fisikal adalah iman kanak-kanak. Ingat waktu kita masih di Sekolah Minggu? Kalau diberi hadiah, kita senang datang ke Sekolah Minggu, bukan? Apakah kita masih harus seperti itu?

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here