Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo: Gereja-gereja di Indonesia Perlu Revival!

0
2742

Pdt. DR. Niko Nyotorahardjo merupakan salah seorang tokoh terbesar dalam Kekristenan kontemporer di Indonesia. Ia termasuk salah seorang “Pemegang Kunci”, “PemegangTongkat Komando” kebangunan/kegerakan rohani di Gereja-gereja Indonesia selama dua dekade ini. Pengaruh dari berbagai pelayanannya, baik melalui KKR-KKR, seminar-seminar, pengembangan musik rohani (yang berkarakter Pujian dan Penyembahan), penanaman/pengembangan Gereja dan keterlibatannya dalam pelbagai jaringan organisasi gerejawi baik di aras nasional maupun internasional, telah membuat Pdt. Niko menjadi salah satu Pemimpin visioner-fenomenal garda depan dan “Nabi” bagi umat Kristen di tanah air saat ini, yang dipilih Tuhan untuk mengobarkan api kebangunan rohani, kuasa Firman Tuhan, kuasa iman, peperangan rohani dan gerakan transformasi bangsa.

Untuk lebih mengenal hamba Tuhan multi-talenta ini, Tabloid Tritunggal berkesempatan mewawancarai Pdt. Niko secara ekslusif beberapa waktu lalu.

“Di tengah-tengah gelombang krisis global saat ini, umat Kristen harus tetap berjalan dan hidup dengan iman yang kokoh kepada Kristus.  Karena iman adalah fondasi, penyangga, tenaga atau “power”nya  kehidupan Kristen. Iman adalah potensi dan kuasa yang Allah berikan pada kita  agar kita bisa mengenal Dia dan rencana-rencanaNya dan melakukan semua  perintah dan kehendak Tuhan. Karena itu, iman kita harus selalu “hidup”, “menyala”, “aktif”, dimanifestasikan, dan diekspresikan  dalam kehidupan sehari-hari. Iman harus menjadi “kata kerja” dalam kekristenan kita.”demikian papar Pdt. Niko mengawali pembicaraan dengan Tritunggal.

Berikut petikan lengkap wawancara Tritunggal dengan Pdt. Niko Nyotorahardjo.

Tritunggal: Banyak orang yang ingin mendengar langsung kisah pertobatan dan bagaimana sejarahnya Bapak terpanggil menjadi seorang hamba Tuhan. Bisa diceritakan kesaksian tentang kasih Tuhan dalam hidup Bapak?

 

Pdt. Niko:

Kesaksian saya menjadi seorang Hamba Tuhan dimulai ketika saya sebagai seorang pengusaha yang mengalami kebangkrutan yang kalau orang Jawa bilang ludes..des..des yang artinya sudah bangkrut ditambah dengan hutang. Pada saat itu seorang Hamba Tuhan senior yang juga penginjil di Indonesia, yaitu Almarhum Bapak Pdt. S. Damaris secara khusus datang ke rumah saya mengatakan bahwa Tuhan memanggil dan menetapkan saya sebagai Hamba Tuhan sepenuh waktu di bidang pujian penyembahan. Bahkan beliau sempat menanyakan apakah saya siap apabila dapur kehidupan keluarga saya ‘tidak berasap’ mengingat pelayanan tersebut adalah yang pertama kali ada di Indonesia. Beliau katakan, penginjil yang fulltime sudah biasa, namun yang fulltime dalam bidang pujian penyembahan belum pernah ada di Indonesia. Saya langsung menjawab, ‘ya saya siap!’ Hal ini kemudian diteguhkan oleh seorang Hamba Tuhan dari Belanda yaitu Almarhum Rev.Schenk yang dalam suatu kebaktian di Surabaya setelah saya selesai memimpin pujian secara khusus mendatangi saya dan menyatakan bahwa Tuhan memanggil saya untuk melayani sepenuh waktu untuk dalam bidang restorasi Pondok Daud, yaitu membawa jemaat Tuhan masuk ke dalam hadirat-Nya. Setelah mendapatkan Firman Tuhan dan peneguhan secara pribadi, maka sejak tahun 1985 saya memulai pelayanan saya sepenuh waktu dalam bidang restorasi Pondok Daud atau restorasi pujian penyembahan.

 

Tritunggal: Bapak sering mengadakan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani). Dalam pemikiran Bapak, apa itu Kebangunan Rohani (Revival) dan mengapa Gereja-gereja di Indonesia perlu Revival?

Pdt. Niko:

Kebangunan Rohani bagi saya merupakan kegerakan gelombang Tuhan untuk membawa umat dan gerejaNya masuk dalam rencanaNya yang sempurna. Karenanya, kebangunan rohani tidak dapat diusahakan dengan kekuatan sendiri, melainkan hanya dengan cara mengijinkan Tuhan mengerjakannya di dalam kita, dalam arti kita hanya fokus melakukan apa yang menjadi kehendakNya pada zaman kita. Gereja-gereja di Indonesia – bahkan juga di dunia – perlu revival karena perlu masuk ke dalam rencana Tuhan yang sempurna.

 

Tritunggal: Bapak senantiasa menekankan perlunya manifestasi kuasa Tuhan dalam kehidupan setiap orang percaya, khususnya dalam pelayanan pekabaran Injil dan KKR-KKR. Mengapa perlu ditekankan “Kuasa Tuhan dan mujizat kesembuhan ilahi dalam pelayanan misi Bapak?

 

Pdt. Niko:

 

Sejak bulan Agustus tahun 2006, Tuhan menyuruh saya untuk berkeliling ke kota-kota, desa-desa, daerah-daerah di Indonesia dan juga bangsa bangsa untuk mengadakan KKR (Kebaktian Kesembuhan Rohani) – Healing Movement Ministry (HMM). Untuk hal itu, Tuhan menyuruh saya untuk mengumpulkan gereja-gereja dan membawa orang-orang sakit, orang-orang yang kesusahan, dan orang-orang miskin yang tidak punya uang untuk ke dokter agar datang ke KKR yang diadakan dan dengan catatan: ‘biayanya bawa sendiri’. Puji Tuhan, sampai dengan saat ini hal tersebut sudah berlangsung sebanyak 209 kali dan sudah ada ribuan orang yang mengalami kesembuhan di dalam KKR-KKR tersebut, antara lain orang yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, juga penyakit kanker, tumor, diabetes, dan penyakit-penyakit lainnya disembuhkan Tuhan seketika. Belum lagi mujizat-mujizat yang terjadi karena KKR-KKR tersebut diadakan di lapangan-lapangan terbuka dan stadion yang sebelumnya tidak pernah dilakukan di sana. Ditambah pula dengan penyertaan dan perlindungan Tuhan yang sangat nyata, meskipun dengan keterbatasan yang ada, KKR-KKR tersebut dapat berjalan dengan baik dan tetap dipenuhi dengan mujizat kesembuhan.

 

Saya teringat dengan KKR-HMM di Batam bulan November 2012 yang lalu dimana sejak sore hari terjadi hujan yang sangat lebat dan angin ribut yang sangat keras sehingga aliran listrik semua mati dan lapangan menjadi sangat gelap. Sepertinya sudah tidak mungkin diadakan KKR lagi karena orang-orang tidak akan hadir. Namun di luar dugaan, ternyata dari sejak awal sebelum hujan sudah banyak jemaat yang hadir dan sewaktu hujan ada sebagian yang pulang dan setelah hujan berhenti, masih ada sekitar 10.000 orang yang bertahan dan antusias memuji Tuhan dalam keadaan yang gelap diterangi oleh sinar dari handphone dan lampu kecil. Saya tetap menyampaikan Firman Tuhan dan mendoakan orang-orang yang sakit meskipun keadaan gelap dan kotbah dengan sound system portable TOA yang sangat sederhana. Yang luar biasa, mujizat tetap terjadi karena ada banyak yang maju ke depan bersaksi atas kesembuhan yang diterimanya malam itu. Segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus!

 

Tritunggal: Belakangan ini ada gerakan transformasi dalam/melalui dunia kerja (market place). Menurut Bapak, kehadiran, partisipasi dan terobosan Kristen dalam dunia kerja (market place) itu seperti apa?

Pdt. Niko:

Sebagaimana Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dan terang dunia (Matius 5:13 16), menurut saya, kehadiran, partisipasi dan terobosan Kristen dalam dunia kerja (marketplace) harus terjadi secara alamiah tanpa dipaksakan ataupun diusahakan dengan kekuatan sendiri. Gereja yang sesungguhnya bukanlah hanya di hari Minggu saja (sebagai nuclear church), namun juga di hari Senin sampai dengan Sabtu di dunia kerja atau marketplace (sebagai extended church). Hal ini tidak akan terjadi apabila individu/pelaku dunia kerja (marketplace) Kristen belum mengalami pemulihan dan kebangunan rohani. Karena itu harus diusahakan agar para pelaku dunia kerja/bisnis juga mengalami kebangunan rohani dan memiliki kehidupan yang intim dengan Tuhan sehingga prinsip-prinsip Kerajaan Allah dan Firman Tuhan dapat sepenuhnya diterapkan di dunia kerja/bisnisnya serta berdampak di dalam 7(tujuh) wilayah (spheres) cakupan marketplace, yaitu: 1.Arts, Sports & Entertainment, 2.Business & Finance, 3.Church & Religion, 4.Development of the poor & Delivery of Media, 5.Education & School,

6.Family & Home, 7.Government & Law.

 

Tritunggal: Bagaimana pandangan Bapak tentang masalah Kepemimpinan Kristen di Indonesia saat ini?

 

 

Pdt. Niko:

Marilah kita sungguh-sungguh melayani dengan baik dan benar serta dapat bertanggung jawab atas semua kasih karunia dan segala hal yang Tuhan telah percayakan kepada kita secara berlimpah, agar pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali nanti kita dapat mendengar Dia berkata: ‘Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu’ (Matius 25:21).

 

Tritunggal: Menurut Bapak, apa tantangan-tantangan yang dihadapi Gereja-gereja di era globalisasi ini?

Pdt. Niko:

Saya percaya tantangan terbesar yang dihadapi Gereja-gereja di era globalisasi ini adalah adanya peperangan rohani yang dahsyat di akhir zaman menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali ini. Iblis berusaha masuk dan merasuk anak-anak kecil, orang-orang muda, orang dewasa dan orangtua bahkan Hamba-hamba Tuhan sekalipun melalui teknologi canggih berupa keterikatan dengan pornografi, percabulan, perzinahan, obat-obatan dan seks bebas. Belum lagi situasi kondisi ekonomi yang masih belum stabil; situasi politik yang kian memanas; pengangguran, kemiskinan dan kebodohan yang masih menguasai sebagian besar manusia; juga keserakahan, korupsi dan kejahatan yang semakin merajalela serta perkelahian dan tawuran di kalangan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Hal-hal ini merupakan tantangan-tantangan yang harus siap dihadapi oleh gereja masa kini. Kita berdoa, sesuai dengan Firman Tuhan di Yoel 2:28-30, Tuhan akan mencurahkan Roh-Nya atas setiap manusia sehingga gereja Tuhan dapat hidup sama seperti Kristus telah hidup, yaitu gereja yang penuh dengan Firman dan Roh Kudus;

gereja yang menang atas setiap pencobaan dan tantangan zaman; serta gereja yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus dan melakukan kehendak Bapa di Sorga! (Hotben Lingga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here