Abad Terbesar Misi (Protestan)

0
1030

Hotben Lingga

Memenangkan Dunia Bagi Kristus

“Semua ujung bumi akan mengingat dan berbalik kepada Tuhan; dan semua kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapanNya” (Maz 22:28).

misionarisAbad ke-19 merupakan era terbesar kemajuan misi, abad terbesar misi. Kadang-kadang Abad ke-19 disebut Abad Protestan Kaum Protestan mendirikan misi-misi di seluruh dunia. Organisasi-organisasi seperti British and Foreign Bible Society, The American Bible Society, The Sunday School Union, dan The American Board of Commissioners of Foreign Missions memimpin usaha penyebaran Injil. David Livingstone dan misionaris yang lain membuka benua Afrika bagi Kristus, sementara itu para misionaris dari China Inland Mission yang didirikan Hudsay Taylor menyebarkan Injil keseluruh Cina.Misionaris-misionaris Kristen Protestan memenangkan banyak suku bangsa dan bangsa-bangsa bagi Kristus, di daerah-daerah paling terpencil dunia ini.

Energi yang hebat dan momentum gerakan misionaris Protestan di abad ke 19 tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia. Gerakan misionaris Protestan abad ke-19 mempunyai pengaruh revolusioner terhadap kebudayaan-kebudayaan: Para misionaris Protestan membuat ratusan  bahasa buta huruf menjadi tulisan, menghasilkan perpustakaan-perpustakaan buku, mempelopori puluhan ribu sekolah, mengembangkan gerakan-gerakan untuk  pertolongan dan pencegahan penderitaan manusia, memperkenalkan keterampilan medis modern untuk menyelamatkan berjuta-juta nyawa dari penyakit-penyakit tropis dan lain-lain, memperkenalkan metode-metode maju bagi pertanian untuk menyediakan makanan yang cukup untuk berjuta-juta orang yang sebelumnya kekurangan gizi; mengakhiri kanibalisme, praktek pengkorbanan manusia,  pembunuhan anak-anak, membakar pasian-pasien  kusta,  pembakaran janda-janda, dan banyak kejahatan-kejahatan sosial lazim lainnya. Mereka membaharui bentuk-bentuk masyarakat dengan berusaha menghapus perbudakan, budaya mabuk, mengusahakan perbaikan penjara dan memajukan pendidikan. Hasil dari usaha misionaris yang penting ini adalah perkembangan Kekristenan yang cepat di seluruh Afrika, Asia dan kepulauan-kepulauan Pasifik. Mereka berusaha memuridkan bangsa-bangsa. Banyak negara mengalami kebangunan rohani yang dramatis.

Sejarawan gereja terkemuka Kenneth Scott Latourette menyatakan,”Tidak pernah ada kumpulan gagasan, baik religius maupun sekuler, yang disebarkan ke seluruh dunia oleh begitu banyak agen-agen professional yang dibiayai oleh donasi-donasi yang sukarela dari berjuta-juta orang”. Abad 19 juga merupakan abad penemuan-penemuan besar dan kemajuan spektakuler dalam teknologi.

 

Pionir-Pionir Pemberani

Abad 16 dan 17 merupakan pertarungan untuk bertahan bagi kaum Protestan.  Sementara mereka berhasil memenangkan banyak bangsa bagi Kristus (Hesse, Saxony, Prussia, Inggris, Skotlandia, Belanda, Norwegia, Swedia, Denmark) mereka harus berjuang untuk jiwa mereka melawan penindasan, invasi dan opposisi Roma.

Selama abad pertama sejarah Protestan, kekuatan-kekuatan dunia adalah Spanyol dan Portugal. Kekaisaran-kekaisaran Roma Katolik ini

mendominasi laut-laut dan properti luar negeri Eropa. Hanya sesudah Inggris mengalahkan Armada Spanyol (1588) membuat para missionaris Protestan bisa menyeberangi laut-laut.  Baru setelah Belanda dan Inggris berkembang dalam militer dan kekuatan angkatan laut, mereka mampu menantang dominasi Katolik atas laut-laut dan benua-benua baru.

Beberapa orang Protestan tanpa rasa takut menerobos lautan-lautan yang ganas untuk memperluas Kerajaan Allah, termasuk John Eliot (1604-1690). Eliot menguasai bahasa Algorquim kaum Indian di Massachusetts dan menjadi seorang pelopor penerjemah Alkitab. Biografi Eliot yang ditulis oleh Cotton Mather dan diterbitkan pada tahun 1702 “The Triumphs of the Reformed Religion in America: or the Life of the Renowned John Eliot” telah menginspirasi banyak orang untuk pekerjaan misi untuk generasi-generasi berikutnya, termasuk David Brainerd dan William Carey.

Dibawah Oliver Cromwell, pada tahun 1649, DPR Inggris mendirikan The Society for the Propagation of the Gospel di New England. Lebih dari £15 900 (suatu jumlah uang yang sangat besar pada waktu itu) disumbangkan pada Badan Misi Injili yang pertama ini. Cromwell mengusulkan rencana menyeluruh untuk penginjilan sedunia- yang membagi dunia menjadi empat ladang misi besar. Sayang sekali kematian Cromwell dan restorasi Monarki di Ingris di bawah Charles II membuat mundur rencana misi ini.

Selama abad ke-18 ada beberapa orang Protestan berusaha menjangkau orang-orang yang jauh dengan Injil. Usaha-usaha ini kebanyakan dilakukan oleh kaum Pietis seperti orang-orang Moravia pengikut Pangeran Von Zinzendorf. Pekerjaan mereka berfokus pada mentobatkan pribadi-pribadi yang ada di atau dekat suatu koloni Eropa. Kelompok-kelompok Protestan yang diciptakan oleh para Pietis ini merupakan kelompok-kelompok kecil orang percaya ditengah-tengah samudera kaum kafir.

Menjelang akhir tahun 1800-an, Kekristenan telah menjadi agama dunia dengan gereja-gereja didirikan di hampir setiap negara di bumi.  Pada permulaan abad ke-19, Kekristenan Protestan terkonsentrasi di Eropa dan Amerika Utara. Kecuali kantong-kantong Kristen yang kecil, Asia hampir tak terjangkau oleh Injil. Afrika masih merupakan “Benua yang Gelap”- kecuali orang-orang Koptik purba di Mesir, Etiopia dan Sudan dan sejumlah kecil pendatang Orang Belanda di ujung paling selatan Afrika, di Cape.

 

Mission Imposible

Sekalipun tidak ada kepastian bahwa rencana penginjilan sedunia untuk memenangkan bangsa-bangsa bagi Kristus ini bisa berhasil. Dan walaupun dari sejak awal para skeptis menertawakan keberanian para pionir ini. Misalnya, sikap The British East India Company tentang usaha misi diungkapkan dengan bahasa sinis.’Pengiriman misionaris kedaerah usaha dagang kami di Timur adalah kegiatan paling gila, paling boros, paling mahal, paling tidak bisa ditoleransi yang telah dianjurkan para pendeta fanatik! Rencana seperti itu tidak baik, kurang akal, tak berguna, berbahaya, tak ada untungnya, penuh khayalan”. Misionaris pelopor, William Carey dan para rekan sekerjanya dicemoohin sebagai “Orang-orang tolol, gila, gak ada kerjaan, Kalvinis dan pemecah-belah”. Kotbah-kotbah mereka disebut “omong besar kaum saleh yang paling buruk”. Koran Koran sekuler seperti Edinburgh Review menyatakan,”Kami tidak melihat ada sedikitpun kemungkinan untuk berhasil; kami melihat banyak bahaya dalam usaha penginjilan ke bangsa-bangsa di luar”

Dipandang dari sudut rintangan yang luar biasa, jarak yang sangat jauh, bahaya-bahaya yang sangat nyata dan perlawanan yang keras yang ada,

bagaimana kita menjelaskan ledakan energi misi Protestan yang begitu berkobar-kobar yang bertujuan untuk memenangkan dunia bagi Kristus pada abad ke 19?

 

Visi Kemenangan

Dalam buku Calvin “Institutes”, sang  Reformator dari Swiss itu menulis “Kebesaran “ pemerintahan Kristus dinubuatkan dalam Daniel 2:32-35, Yes 11:4, Maz 2:9 dan Maz 72, dimana Kristus akan memerintah seluruh bumi. “Doktrin kita harus menjulang tinggi tak terkalahkan mengatasi semua kemuliaan dan mengatasi semua kekuatan dunia, karena bukan dari kita, tetapi karena (dari) Allah yang hidup dan KristusNya” yang akan “memerintah dari samudera ke samudera dan dari sungai bahkan sampai ke ujung-ujung bumi”. Semangat misionaris Calvin dibuktikan oleh fakta bahwa dalam 25 tahun – dari saat John Calvin memulai pelayanannya- ada 2000 gereja-gereja Calvinis dan sekitar setengah juta orang Kalvinis, di Perancis saja! Calvin mensponsori misi-misi di seluruh Eropa dan bahkan sampai sejauh ke Brazil.

Sebuah Visi Komprehensif

Bagaimanapun, gerakan misionaris yang diluncurkan oleh William Carey adalah usaha komprehensif untuk menginjili seluruh negara dan memuridkan seluruh penduduk dunia. Carey adalah orang pertama menyatakan perlunya Kekristenan benar-benar berakar dalam kebudayaan dan tradisi-tradisi di tanah-tanah dimana Injil ditanam. Karena prakarsa-prakarsa dan banyak alasan lainnya Carey disebut Bapa Misi Modern dan Bapak Misi Protestan Modern.

 

Memobilisasi Orang-orang yang berbahasa Inggris untuk Penginjilan Sedunia

Peluncuran gerakan misionaris modern oleh William Carey dan “Particular (Calvinist) Baptist Society for the Propagation of the Gospel Amongst the Heathens” menandai masuknya Inggris Raya kedalam dunia misi.  Sepanjang abad ke-19 Inggris menjadi negara yang paling banyak mengirimkan dana dan orang untuk mensponsori misi Protestan sedunia dibandingkan negara manapun. K.S. Latourette dalam buku “A History of the Expansion of Christianity” (1945) mencatat bahwa dalam tahun 1900, dari 13.607 misionaris asing Protestan, 5901 berasal dari Kepulauan Britania dan 4110 berasal dari AS. Pada tahun 1900 saja, dari $17,161,092 yang didonasikan untuk misi Protestan, $8,225,645 berasal dari Inggris dan $5,403,048 dari AS. Pada abad 19 mayoritas Inggris memandang diri mereka sebagai bangsa Kristen Protestan yang diberikan Tuhan tanggung-jawab untuk menginjili dunia.

 

Terobosan Kisah Rasul 13

Cara-cara yang digunakan untuk menyelesaikan tugas maha besar untuk penginjilan dunia diinovasikan oleh William Carey (dan diinspirasikan oleh Kisah Rasul-rasul 13). Ketika ia menulis bukunya “Enquiry” dia bertanya: Apa yang harus kita lakukan? Carey membentuk badan badan misi yang terdiri dari pendeta-pendeta dan kaum awam yang berdedikasi! Badan-badan usaha misi ini harus mengangkat komite-komite untuk mengumpulkan dan menilai informasi, untuk mencari dana dan memilih misionaris-misionaris yang cocok untuk dikirim ke ladang-ladang misi luar negeri.

 

Masyarakat-masyarakat Relawan

Masyarakat-masyarakat atau kaum awam relawan ini yang mentransformasi masyarakat abad 19. Kaum awam “imamat rajani” sebagaimana yang ditekankan para Reformator Protestan, membikin mungkin aksi interdenominasi bersama untuk maksud misi. Ia menekankan dan mendorong pemimpin-pemimpin awam dan mengetuk hati kaum awam Protestan untuk terbeban bagi misi dunia. Ia juga menginspirasi masyarakat-masyarakat relawan lain yang tak terhitung banyaknya untuk melawan perdagangan budak, memperbaiki nasib kaum miskin, buruh dan anak-anak, mendirikan Sekolah-sekolah minggu dan banyak hal lain.

 

Dengan Ajakan Bukan Paksaan

Gerakan misionaris Protestan abad 19 juga luar biasa karena ia maju tanpa pengawasan negara maupun dukungan negara (dengan pengecualiaan yang sangat sedikit).

Tidak seperti misi-misi Katolik seperti Xaverius, Las Cases dan Ricci, para misionaris Protestan didanai oleh sumbangan-sumbangan sukarela dan hanya dimajukan dengan kuasa doa dan Injil. Sejak zaman Kaisar Konstantinus, penyebaran kepercayaan agama cenderung dilakukan dengan dukungan aktif dari raja-raja dan ratu-ratu. Pertobatan massa, seperti dibawah Clovis, Raja dari Franks, Pangeran Vladimir dari Rusia atau Raja Olaf dari kaum Viking, merupakan cara yang diterima untuk memperluas iman. Para misionaris Protestan abad 19, akan tetapi, telah menemukan sebuah cara untuk terlibat dalam misi dengan menjunjung tinggi kebebasan beragama.

Akan tetapi, kita masih harus bertanya: Apa yang menginspirasi kebulatan tekad yang begitu meresap pada gereja-gereja Protestan abad 19 untuk sungguh-sungguh menanam Injil di setiap bangsa di bumi? Apa daya pendorong Abad Terbesar Misi? Jawabannya adalah: Kalvinisme dan Post-Milenialisme.

 

Reformasi dan Revival/Kebangunan Rohani

Gairah untuk memberitakan Injil ke seluruh bangsa dan untuk memenangkan suku-suku kafir pada Kristus bertumbuh dari Gereja-gereja Reformed, di Inggris dan Amerika, yang telah sangat dipengaruhi oleh Kebangunan Besar kaum Injili abad 18. Kebangunan rohani (Revivalisme) ini didasarkan atas studi dan proklamasi ajaran-ajaran Reformed kaum Puritan. Dua hamba Tuhan tokoh kebangun rohani Protestan abad 18 yang dipakai Tuhan secara luar biasa adalah Jonathan Edwards dan George Whitefield.

 

Kekuatan Puritanisme

Jonathan Edwards adalah seorang Kalvinis yang buku-bukunya menegaskan kembali iman dan tingkah laku Puritan. Kotbahnya yang berjudul “Sinners in the Hands of an Angry God”, digunakan oleh Allah untuk mencetuskan Kebangunan Rohani Besar. Buku Edward “The Life and Diary of Rev. David Brainerd” (diterbitkan tahun 1749) sangat banyak digunakan untuk menginspirasi Gerakan Misionaris Abad ke 19. Jonathan Edwards sendiri mempersembahkan tujuh tahun terakhir hidupnya sebagai misionaris diantara Orang-orang Indian dan di daerah-daerah perkampungan di AS.

 

Doa yang Luar Biasa

Salah satu buku Jonathan Edwards adalah ““A Humble Attempt to Promote an Explicit Agreement and Visible Union of God’s People through the World, in Extraordinary Prayer, for the Revival of Religion and the Advancement of Christ’s Kingdom on Earth…” (judul yang agak panjang, tetapi sangat deskriptif). Ketika William Carey berlayar menuju India salah satu buku yang dibawanya adalah buku yang ditulis Jonathan Edwards.

 

Akar Reformed

Semua pendiri dan misionaris Misi Baptist yang pertama yang diluncurkan oleh William Carey pada tahun 1792 adalah penganut teologi Reformed. Ketika mereka dikritik karena “Kalvinisme mereka yang keras” dan karena menjadi pengikut-pengikut Jonathan Edwards, kolega Carey Andrew Fuller menjawab bahwa misi ke Timur berasal dari orang orang yang menganut ajaran Reformed.

 

Doktrin Anugerah

Prinsip-rinsip misi Serampore secara tegas menyatakan komitmen misionaris mereka pada ajaran Reformed tentang anugerah. Sama juga, the London Missionary Society (didirikan tahun 1795), yang sepenuhnya interdenominasi, secara terang-terangan menyatakan bahwa “doktrin anugerah Reformed yang biasanya dikenal sebagai Kalvinisme, memberikan vitalitas dan tenaga besar untuk kegiatan misi yang terbaik. Generasi pertama London Missionary Society menganut Pengakuan Iman Wesminster.

 

Pelopor-pelopor

Robert Morrison, misionaris pelopor ke Cina pada tahun 1807 adalah seorang Kalvinis yang kuat dari Gereja Skotlandia. Henry Martyn yang berlayar ke India pada tahun 1805 juga seorang Reformed. Henry Martyn yang pertama menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Persia.

 

George Whitefield

George Whitefield yang pelayanannya bersama Jonathan Edwards begitu tak terpisahkan yang berkaitan dengan kebangunan besar dimana gerakan misionaris abad 19 diluncurkan, adalah seorang Kalvinis. Dia menganut teologi Reformed sebagaimana yang dirumuskan dalam Pengakuan Iman Wesminster dan 39 Pasal  Gereja Inggris. Whitefield bersaksi bahwa dia  belajar banyak dari buku-buku kaum Puritan seperti Komentar Matthew Henry atas Injil.

 

Publikasi Puritan

Selama kebangunan besar abad 18 banyak buku-buku Puritan yang dicetak ulang: John Owen, John Bunyon, Hooker, Shephard, Guthrie dan banyak lagi lainnya. Kebangkitan minat pada Puritanisme membuat Augustus Toplady (pengarang “Rock of Ages”), John Newton (yang menulis lagu “Amazing Grace”), Charles Spurgeon dan banyak gerejawan lainnya menjadi Kalvinis. Katalog  Musium Inggris membuat daftar sebelas edisi Komentar Matthew Henry pada Injil dan cetak-cetak ulangnya. Disebutkan bahwa  dari 1 buku Henry tersebut dicetak  200.000 eksemplar pada tahun 1840 saja.

 

Energi yang Luar Biasa

Protestantisme yang sudah direvitalisasi ini, yang disegarkan dengan tulisan-tulisan dan kotbah Kalvinistis, bangkit bagi tantangan untuk penginjilan dunia dengan semangat dan keberanian yang tidak pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah. Banyak orang Kristen telah terlibat dalam penginjilan dan misi sebelumnya, tetapi”tidak pernah mempunyai pengikut yang merumuskan rencana komprehensif untuk memenuhi seluruh permukaan bumi untuk membuat rencana-rencana ini berhasil”. (A History of the Expansion of Christianity, oleh Latourette)

 

Pengharapan Puritan

Ian Murray dalam “The Puritan Hope” menyimpulkan:”Daya pendorong teologis yang merevolusi era misionaris baru berasal dari buku-buku kaun Puritan Protestan abad ke-17, yang sepenuhnya bersifat Kalvinisme”

Eskatologi Protestan: Eskatologi Kemenangan

Satu satu dinamit yang menjadikan gerakan misionaris berkobar-kobar dan maju adalah eskatologi kemenangan. Pandangan optimistis tentang masa depan sering dikotbahkan oleh Whitefield “Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan Tuhan, seperti air yang menutupi dasar laut” (Hab 2:14)

Yesus akan memerintah. Salah satu lagu Isaac Watts yang dibuat tahun 1719 yang diciptakan berdasarkan Mazmur 72 menjadi salah satu himne misi revolusioner, dimana ditekankan bahwa Yesus akan memerintah menjadi Raja.

 

Memobilisasi Misi.

Generasi pertama misionaris-misionaris abad ke 19 adalah kaum post-milenialis. Kekuatan penggerak pengharapan profetis ini tampak menyolok dalam pidato-pidato dan kotbah-kotbah pada pertemuan pelantikan the Baptist Missionary Society (1792), the London Missionary Society (1795), the New York Missionary Society (1797), the Church Missionary Society (1799) and the Glasgow Missionary Society (1802), dan yang lain lain.

 

Visi Serampore

William Carey dalam satu satu tulisannya menyatakan,”Dia yang membangkitkan orang-orang Skotlandia dan Inggris sehingga duduk di tempat-tempat surgawi di dalam Kristus Yesus, bisa membangkitkan budak-budak tahyul, memurnikan hati mereka dengan iman dan membuat mereka penyembah Allah yang sejati di dalam roh dan kebenaran. Janji-janji ini sangat cukup untuk membuang keraguan-keraguan kita, dan membuat kita sadar bahwa tidak lama lagi Dia akan menghancurkan semua dewa-dewi India, dan melemparkan patung-patung mereka kepada tikus-tikus dan kelelawar dan meninggalkan pekerjaan tangan mereka.

“Tuhan akan mendahsyatkan mereka, sebab Ia akan melenyapkan para allah di bumi, dan kepadaNya akan sujud menyembah setiap bangsa daerah pesisir, masing-masing dari tempatnya” (Zef 2:11).

Himne-himne Misionaris

Abad ke-19 bukan saja menjadi abad terbesar bagi misi, tetapi juga menjadi abad terbesar kemajuan musik Protestan. Ribuan lagu-lagu pujian terbaik dikarang di abad ke-19 ini, membangkitkan spirit kebangunan rohani untuk mentransformasi bangsa-bangsa bagi Kristus. Banyak lagu-lagu pujian yang populer pada zaman itu menggemakan eskatologi kemenangan ini,

termasuk lagu-lagu,” “All Hail the Power of Jesus Name”, “Zion’s King Shall Reign Victorious”, “Jesus Shall Reign” and “From Greenland’s Icy Mountains”. Fanny Crosby, Ira Sankey, Francis Havergal dan yang lain mengarang lagu-lagu pujian yang penuh iman dan pemujaan.

 

Diberdayakan dan diberi kuasa

Digerakkan dengan ajaran-ajaran, visi dan lagu-lagu pujian yang bersifat “eskatologi kemenangan dan penaklukan dunia”, Gereja-gereja Protestan di abad ke-19 diinspirasi untuk “mengharapkan perkara-perkara besar dari Allah dan berusaha melakukan hal-hal besar bagi Allah”

 

Hal Paling Mulia

Dalam kata-kata Alexander Somerville pada tahun 1886, ini merupakan “usaha baru atas nama hal yang paling mulia yang bisa menarik antusiasme manusia: Keselamatan berjuta-juta orang”.

 

Memindahkan Gunung-gunung

Misionaris Protestan pertama Skotlandia, Alexander Duff, menyatakan,” Oh Tuhan, inilah janji kami untuk merebut jiwa-jiwa. Memenuhi Amanat AgungMu “Pergi sampai keujung-ujung bumi untuk menjadikan segala bangsa murid-muridMu! Kami akan pergi untuk membawa beratus-ratus juta jiwa dari segala bangsa kepadaMu; Sekalipun kami menghadapi raksasa-raksasa, penyembah-penyembah berhala, gunung-gunung yang menjulang tinggi. Kami memiliki iman yang bisa meruntuhkan menara-menara, benteng-benteng dan memindahkan gunung-gunung!”

 

Mentransformasi Bangsa-Bangsa

Jadi mereka pergi- puluhan ribu misionaris Protestan pionir. Mereka mengharapkan iman dan Injil Kristus yang bisa mengubah kehidupan manusia mengubah sejarah, dan mereka berhasil melakukannya!

Memasuki permulaan abad ke 20, Kekristenan semakin berkembang dan tampaknya pasangnya tak bisa terhentikan. Kekristenan mendapat momentum luar biasa ketika para misionaris dari Eropa menginjili dan memuridkan setiap suku dan bangsa dengan sungguh-sungguh. Iman Protestan jauh melampaui aliran Katolik dan Ortodoks dalam kegiatan, vitalitas dan prakarsa misi. Iman Protestan telah menjadi iman yang dominan dari bangsa-bangsa yang paling produktif, paling kuat dan paling makmur di belahan bumi Utara maupun Selatan. Ditengah-tengah optimisme yang tidak terbendung, banyak yang dengan terang-terangan berbicara tentang Kerajaan Allah dibangun di bumi ini.

“ Kiranya keadilan berkembang dalam zamanNya…Kiranya Ia memerintah dari laut ke laut dan dari sungai ke sungai sampai ke ujung-ujung bumi. Kiranya penghuni padang belantara berlutut di depanNya, dan musuh-musuhNya menjilat debu…Kiranya semua raja sujud menyembah kepadaNya, dan segala bangsa menjadi HambaNya…. Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namaNya, dan menyebut Dia berbahagia…. Dan terpujilah kiranya namaNya yang mulia selama-lamanya, dan kiranya kemuliaanNya memenuhi seluruh bumi. Amin ya Amin. (Maz 72:7-19)

Sejarah telah memberi kesaksian bagaimana Tuhan telah memberkati dan menggunakan bangsa-bangsa Kristen untuk memberkati banyak bangsa di bumi. Bangsa-bangsa Protestan Eropa Barat memiliki warisan Kristen yang sangat besar. Meskipun menghadapi perlawanan sengit, Kaum Protestan muncul dari api penganiaan untuk mengubah jiwa-jiwa, membuat sejarah

dan mentransformasi bangsa-bangsa. Orang-orang percaya yang setia berjuang untuk iman, bertahan dan menerjemahkan Firman Tuhan, membaharui Gereja dan memberitakan Firman Tuhan dengan penuh semangat kepada semua bangsa.

Peradaban Kristen mencapai tingkat produktivitas tertinggi, inovasi, penemuan-penemuan ilmiah, kemajuan medis, kemajuan misi, karya-karya amal, berhasil berkampanye untuk mengakhiri perdagangan budak dan membebaskan tawanan-tawanan, meletakkan dasar-dasar untuk keadilan melalui negara hukum. Warisan iman dan kebebasan melalui Eropa Kristen tak ada bandingannya di dalam sejarah dunia untuk mentransformasi dunia bagi Kristus.

Kita tidak boleh pernah membiarkan gangguan apapun menghalangi kita dari menaati Amanat Agung Kristus. Tujuan kita di bumi adalah “Memuridkan bangsa-bangsa…mengajarkan ketaatan” (Mat 28:19-20). Sumber hidup Gereja adalah semangat penginjilannya. Apapun situasinya, atau betapa bermusuhan lingkungannya, perintah Tuhan Kita kepada kita: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Tim 4:2) (DBS)