World Evangelical Alliance (WEA): AS harus Mendesak Arab Saudi untuk Menghormati Kebebasan Beragama

0
229
World Evangelical Alliance
World Evangelical Alliance

Persekutuan Injili Sedunia (World Evangelical Alliance), sebuah perhimpunan Protestan Injili terbesar di dunia yang mempunyai pengikut 600 juta orang, baru-baru ini mendesak pemerintah AS agar menekan Kerajaan Arab Saudi untuk menghormati kebebasan beragama di Negara itu.

Arab Saudi telah masuk dalam daftar negara-negara yang paling tidak demokratis dan tidak toleran dalam hal kebebasan beragama oleh pelbagai lembaga HAM dan oleh pemerintah AS sendiri (antara lain daftar Country of Particular Concern/CPC).  Negara-negara dalam daftar CPC ini bisa dijatuhkan sanksi ekonomi, akan tetapi WEA menyatakan bahwa pemerintah AS telah “menutup mata”, mengabaikan hal ini sejak tahun 2006, karena Arab Saudi merupakan “sekutu dekat” AS di Timur Tengah.

WEA menyatakan bahwa pemerintah AS tidak serius mendorong mitra strategisnya tersebut untuk memperbaiki hak-hak kebebasan beragama di Kerajaan Sunni Wahhabi tersebut. WEA menyatakan kecaman dan keprihatinan terhadap pihak Kerajaan yang baru-baru ini menghukum 7 tahun penjara dan 600 kali cambuk seorang aktivis web Raef Badawi, hanya karena Raef Badawi mendesak kebebasan beragama di Negara itu. Melalui debat publik online di websitenya Raef Badawi, seorang Muslim moderat, mengkampanyekan “toleransi beragama yang otentik” dan hak-hak asasi untuk memilih atau meninggalkan suatu kepercayaan“ dan “praktek kebebasan beragama” bagi semua orang Arab Saudi termasuk hak untuk percaya atau tidak percaya dan hak untuk berpindah agama. Akan tetapi, ide-idenya tentang Islam yang humanis, toleran, pluralis dan progresif dianggap membahayakan keamanan nasional Arab Saudi dan melecehkan tokoh-tokoh di dalam lingkaran Kerajaan. Raef Badawi dianggap “murtad”. Di bawah hukum Arab Saudi, seseorang yang “murtad” hukumannya bisa hukuman mati.

WEA juga menyatakan keprihatinan karena pihak Kerajaan juga menghukum seorang Libanon Kristen 6 tahun penjara dan 300 kali cambukan karena “membantu” seorang wanita Arab Saudi masuk Kristen. Wanita Arab Saudi tersebut juga dihukum 6 tahun penjara dan 300 kali cambukan, namun wanita itu dilaporkan melarikan diri ke Swedia.

World Evangelical Alliance
World Evangelical Alliance

WEA juga melaporkan bahwa pada bulan Februari lalu 53 orang Kristen Ethiopia, 46 orang diantaranya wanita, ditangkap oleh pihak pemerintah Arab Saudi, hanya karena “mengadakan” sebuah ibadah/persekutuan/kebaktian bersama di sebuah rumah seorang Ethiophia di Dammam.

Di Arab Saudi saat ini terdapat lebih dari 1,5 juta orang Kristen, kebanyakan Katolik, yang bukan warga Negara Arab Saudi. Orang Kristen hanya diijinkan beribadah dalam rumah pribadi mereka. Itupun harus secara tertutup. Sampai saat ini, belum ada satu gerejapun di sana.

Lobby Vatikan agar pihak Kerajaan Saudi memberikan ijin pembangunan sebuah gereja Katolik di Arab Saudi juga belum dikabulkan. Padahal, pihak Vatikan sudah mengijinkan dibangunnya sebuah masjid yang sangat besar dan megah di “Mekkah”nya umat Katolik sedunia, di Vatican City. Masjid ini merupakan salah satu masjid terbesar di Eropa.

Akan tetapi, alih-alih mengijinkan sebuah gereja dibangun di sana, bulan Maret 2013 lalu, seorang Imam Agung Kerajaan Saudi Sheikh Abdul Aziz bin Abdullah, dalam sebuah Forum Ulama secara terbuka menyerukan “perlunya menghancurleburkan semua gereja di wilayah Timur Tengah”.

“Abdullah adalah seorang ketua alim-ulama di Arab Saudi. Karena itu pernyataannya yang provokatif tersebut pasti mempunyai pengaruh luas. Akan tetapi, tak ada satupun Negara Barat yang mengutuk pernyataan ini.”tegas WEA.

Hukum Dasar Arab Saudi tidak mengenal kebebasan beragama karena menerapkan Hukum Syariah yang keras. Berpindah agama dan berdakwah selain dakwah Islam bisa dihukum mati dan merupakan pelanggaran hukum.

Arab Saudi memang telah melakukan sedikit pembaharuan dalam buku-buku pelajaran. Akan tetapi, sistim pendidikan mereka “masih mengindoktrinasi anak-anak dengan kebencian dan penghasutan”.

Meskipun Raja Abdullah membuka sebuah pusat dialog antar umat beragama di Wina dan mensponsori konferensi antar-agama di Spanyol, WEA menuduh Arab Saudi merupakan “salah satu pelanggar kebebasan beragama paling buruk di dunia”.  Karena itu, WEA mendesak Kerajaan Arab Saudi agar tidak hanya beretorika di seluruh dunia seolah olah mereka merupakan penganjur dan pendukung kebebasan beragama dan toleransi beragama, sementara mereka sendiri tidak menerapkan semangat tersebut. Sungguh ironis. Arab Saudi telah membantu membangun ribuan masjid dan pusat-pusat Islam (Islamic Center) di AS dan Eropa. Namun sampai saat ini mereka tidak mengijinkan satu gerejapun dibangun di sana. Umat Kristen di Barat sangat toleran dan terbuka terhadap perkembangan Islam, akan tetapi Arab Saudi sebagai pusat Islam sedunia justru bertindak sebaliknya.

WEA menyatakan pemerintah AS bukan tidak bisa mendesak Arab Saudi menghormati HAM universal, khususnya dalam hal kebebasan beragama, tetapi kurang mau saja. (Olavio Lutherson PL/dbs).

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here