Tanggung-Jawab Sosial Gereja itu Buah dari Iman

0
1410

Ephorus HKBP Pdt. Willem TP Simarmata M.A

Ephorus HKBP Pdt. Willem TP Simarmata M.A
Ephorus HKBP Pdt. Willem TP Simarmata M.A

“Gereja adalah mandatoris, duta-besar, pelayan dan saksi Allah bagi dunia ini dan bagi bangsa kita khususnya. Sebagai “utusan” Allah bagi bangsa ini, Gereja dipanggil untuk menggarami dunia ini, menggarami masyarakat, menjadi terang, teladan dan sumber inspirasi. Sebagai garam dunia dan terang dunia, sebagai pembawa terang/pencerahan, Gereja diberi mandat untuk menghadirkan kebajikan, kesejahteraan sosial, berkat, kedamaian, pengharapan, nilai-nilai kehidupan, keadilan sosial dan pembaharuan bagi masyarakat dan bangsa kita. Gereja harus bisa menjadi transformator sosial, pembaharu sosial, Rasul, Gembala dan Pionir Masyarakat, pendidik moral (moral educator) dan pembawa “berkat” bagi bangsa dan masyarakat.

Tanggung Jawab Kristen kepada masyarakat adalah buah dan aplikasi dari iman. Gereja dan umat Kristen dipanggil untuk berbuah dan “berbuat”, untuk berbagi dan berempati, untuk bersaksi dan berdoa, untuk bermitra dan bersinergi, untuk bergumul, berpikir, berkreasi dan bekerja keras untuk memperbaharui, mempengaruhi dan mentransformasi kehidupan manusia (masyarakat) sesuai dengan Firman Tuhan. Tanggung-jawab sosial Gereja (kepada masyarakat dan bangsa) merupakan bagian dari iman, perintah dasar, konstitusi dan amanat agung yang harus kita laksanakan, sebagai konsekuensi dari karunia-karunia Roh dan Kuasa yang sudah diberikan oleh Roh Kudus kepada semua orang percaya. Dan terinspirasi dari teladan, pelayanan, pengajaran dan kesaksian yang Tuhan Yesus lakukan kepada dunia ini. Dari penekanan doktrin tentang “iman, kasih dan pengharapan” Kristen inilah, -Gereja, Umat dan organisasi-organisasi Kristen menjadi kontributor dan partisipator terbesar dan terkuat di dunia dalam pekerjaan/karya sosial kemanusiaan seperti dalam bidang kesehatan (RS), panti-asuhan, panti sosial, lembaga-pendidikan dan lembaga-lembaga kemanusiaan.” Ujar Ephorus HKBP Pdt. Willem TP. Simarmata, M.A., ketika menerima audiensi Tabloid Tritunggal beberapa waktu yang lalu di Jakarta sebelum berangkat ke Jerman.

“Di tengah-tengah arus globalisasi dan krisis multi dimensi yang masih mendera bangsa kita, Gereja harus semakin didorong untuk mengembangkan tanggung-jawab sosial dengan melayani kaum miskin dan masyarakat marjinal di dalam masing-masing komunitas dan kota. Gereja harus mempraktekkan tanggung-jawab sosial dengan menyediakan bantuan pendidikan bagi pemuda-pemuda yang kurang mampu. Gereja harus meningkatkan partisipasi sosial melalui pelayanan kasih dan mempromosikan keadilan dalam pelbagai konteks budaya dan politik. Gereja harus terlibat aktif untuk memperbaiki kehidupan orang miskin, tertindas dan yang kurang mampu. Gereja harus memobilisasi dirinya untuk merespons isu-isu sosial dan penyakit-penyakit sosial dalam masyarakat. Untuk itu, harus diciptakan sebuah kerangka untuk kemitraan dan aliansi strategis dengan kelompok-kelompok lokal dan organisasi-organisasi yang sudah mapan. Semua usaha, gerakan dan bentuk tanggung-jawab sosial Gereja harus berorientasi dan diawali dari dalam Gereja masing-masing. Gereja harus mentransformasi dirinya dan jemaatnya dulu, baru berorientasi keluar. Gereja harus membangun jemaatnya dulu baru berkarya keluar. Sehingga, Gereja harus saling membantu, saling memperhatikan, saling membangun. Gereja yang sudah mapan harus membantu gereja yang kurang mampu. Dengan berkarya sosial Gereja semakin mendekatkan diri kepada masyarakat dan membangun relasi yang baik dengan masyarakat. Semua Gereja harus meningkatkan kualitas SDMnya agar bisa berkembang dan bertumbuh. Harus membangun organisasi yang kuat agar bisa berkarya. Harus bertransformasi”tegas Ephorus dengan penuh antusias.

“Salah satu tanggung-jawab terbesar kita sebagai orang percaya adalah untuk membuat pengaruh yang besar pada dunia sekitar kita. Sejarah mencatat bahwa setiap perubahan/pembaharuan sosial yang besar/positif dalam dunia dan masyarakat sebagian besar dipelopori oleh orang Kristen. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan, gerakan demokrasi dan HAM dan pembangunan negara hukum misalnya dimotori oleh orang-orang Kristen yang berdedikasi dan takut akan Tuhan. Dalam konteks kehadiran Kristen di Indonesia, persatuan dan kebersamaan kita dalam memajukan gerakan ekumene sudah menjadi keniscayaan. Kita bersatu dalam pluralisme alkitabiah. Walau berbeda aliran dan organisasi, Gereja tetap harus bersatu hati, saling mengasihi, saling menghormati, saling bersinergi, agar bisa bersaksi dan berkarya dengan lebih efektif, efisien dan berkualitas. Semakin bersatu Gereja semakin besar energi dan sinergi yang bisa dieksplorasikan untuk kemajuan bersama. Pemimpin-pemimpin umat harus berwawasan ekumenis, biblikal dan progresif, mengusahakan roh persatuan, kesatuan dan kebersamaan antar Gereja dan umat, agar Gereja dan Kekristenan di Indonesia bisa menjadi semakin kuat, maju dan berbuah, sekarang dan di masa depan.”

 

 

“Jadi, Gereja harus menjadi berkat bagi dunia. Gereja tidak hanya untuk dirinya sendiri. Tanpa menjadi berkat bagi orang lain maka dia bukan gereja. Karenanya, strategi pelayanan yang harus dilakukan adalah Pembaharuan, Perdamaian dan Pemberdayaan. ”tegas Ephorus ketika mengakhiri percakapan dengan Tabloid Tritunggal. (Hotben Lingga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here