PERKEMBANGAN PROTESTANTISME DI KOREA SELATAN: SEBUAH REFLEKSI

0
3821

Hotben Lingga

Pertumbuhan Protestantisme di Korea Selatan sangat luar biasa, banyak yang menyebutnya sebagai sebuah mujizat. Pada tahun 1900 tidak ada satupun Gereja Protestan. Pada tahun 1920, jumlah penganut Protestan hanya 1, 4 % dari total penduduk. Pada tahun 1995 meledak menjadi sekitar 20 %. Sensus penduduk terakhir menunjukkan bahwa kekristenan di Korea Selatan kini telah menjadi agama mayoritas. Populasi Kristen kini telah melewati angka 30 % (Protestan 25 %, Katolik 6,6 %, Budhis 23, 2 %, sekitar 40 % lebih masih belum beragama (atheis/animis)). Penganut Protestan di Korea Selatan saat ini berjumlah sekitar 12.500.000 dari total penduduk Korea Selatan sekitar 50 juta jiwa. Sejak diperkenalkan pada tahun 1884, Gereja Protestan tetap bertumbuh. Saat ini pertumbuhan Protestantisme mencapai 10 % setiap tahun. Setiap hari ada enam gereja yang dibangun Saat ini di Seoul saja terdapat paling sedikit 7000 gereja. Dengan pertumbuhan yang begitu pesat, secara demografis Korea Selatan saat ini telah menjadi Negara Kristen (Protestan) di Asia, selain Filipina yang Katolik.

Kisah sukses Protestantisme di Korea Selatan telah menarik banyak sejarawan untuk menyeledikinya dan banyak menjadi sumber inspirasi dan refleksi bagi dunia. Apa yang menyebabkan Kekristenan di Korea Selatan mengalami pertumbuhan yang begitu spektakuler dan mengesankan? Faktor-faktor apa yang menyebabkan Korea Selatan seolah-olah ditakdirkan menjadi Negara Kristen di Asia? Apa dampak/pengaruh kehadiran gereja di Korea Selatan?

Misionaris Protestan yang pertama kali menginjakkan kaki di Semenanjung Korea adalah Horace N. Allen dari Gereja Presbyterian Amerika, pada tahun 1884. Allen tiba di Korea tepat 100 tahun setelah misi Katolik diintrodusir di Korea. Allen diutus dan diperkenalkan kepada pihak kerajaan Korea sebagai seorang dokter kedutaan, bukan sebagai misionaris. Setahun kemudian Henry Appenzeller dari Gereja Methodist Amerika dan H. G. Underwood, seorang Presbyterian masuk ke Korea. Para misionaris Presbyterian dan Methodist inilah yang menjadi rasul-rasul bagi bangsa Korea. Merekalah yang meletakkan dasar, spirit, strategi dan paradigma yang strategis bagi pertumbuhan Gereja Protestan kelak.

 

Faktor Pertumbuhan dan Strategi Misi

Kekristenan khususnya Protestantisme berkembang di Korea karena strategi yang diterapkan sangat sesuai dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat Korea.Misi diterjemahkan sebagai transformasi dan partisipasi, yaitu gereja yang berbuat (doing church), gereja yang membumi dan mengakar di masyarakat. Gereja yang hadir dalam pergumulan masyarakat dan bangsa Korea, Gereja yang mau bekerja keras untuk membangun, mendidik, menghidupkan, menginspirasi dan memberi pengharapan kepada rakyat Korea.

 

  1. Gereja sebagai pionir/pelopor pendidikan modern di Korea. Para misionaris Protestanlah yang memperkenalkan dan memajukan dunia/sistim pendidikan modern di Korea. Dalam kurun waktu 25 tahun sejak misi dimulai tahun 1884, para misionaris telah membangun paling sedikit 800 sekolah Kristen dari TK sampai perguruan tinggi,yang mendidik 50 ribu siswa. Para misionaris Protestanlah yang juga memperkenalkan dan pertama sekali membangun universitas, yaitu Universitas Yonsei dan Ehwa Women University. Saat ini 3 dari 5 universitas terbaik/top dibangun oleh Gereja. Universitas yang dibangun para misionarispun berskala besar/global. Yonsei misalnya dibangun diatas lahan seluas 220 HA dan memiliki 37.000 mahasiswa, saat ini merupakan salah satu universitas terbaik dunia. Hanya di Korea Selatan jugalah terdapat dua universitas Protestan yang besar khusus wanita, yaitu Ehwa Women University (58 HA; 24.000 mahasiswa) dan Seoul Women University (50 HA; 10.000 mahasiswa). Universitas Protestan yang lain seperti Chongshin University, Korea Nazarene University, Sahmyook University, Seoul Jangsin University, Luther Theological University, Soongsil University, Keimyung University, Hannam University, Handong Global University, Calvin University, Hanil University, Hansil University, Hoseo University, Korea Christian University, Korea Baptist Theological University, Korean Bible University, Margaret Pritchard University, Seoul Christian University, dll. Gereja juga memberikan banyak beasiswa bagi putra-putri Korea untuk kuliah di AS. Banyak sarjana dan politisi Korea, termasuk presiden pertama Korea Selatan, Rhee Syngman, yang mendapat beasiswa dari Gereja.

Usaha, pelayanan dan partisipasi Protestan dalam bidang pendidikan di Korea Selatan inilah yang meletakkan fondasi dan tiang dan menjadi mesin, bensin, energi besar, dan katalis bagi transformasi, modernisasi, industrialisasi dan kemajuan bangsa Korea Selatan. Gereja berhasil menjadi agen pembangunan dan spirit kebangkitan/kemajuan  bangsa. Bangsa Korea melihat dan merasakan pendidikan yang diselenggarakan para misionaris sebagai berkat dan kasih Allah yang dapat membebaskan, memerdekakan dan merevitalisasi bangsa Korea dari kebodohan, kemiskinan, penderitaan dan ketertinggalan dari dunia Barat. Sekaligus sebagai peluang emas untuk mendapatkan kemajuan, kesejahteraan dan pembebasan.

  1. Gereja memajukan pelayanan dalam dunia kesehatan dan pelayanan sosial-kemanusiaan. Para dokter misi jugalah yang pertama kali memperkenalkan sistim/pelayanan kesehatan secara modern. Mereka melakukan vaksinasi dan imunisasi missal di seluruh Korea secara gratis. Dengan membangun banyak Rumah-sakit, poliklinik dan karya-karya sosial yang terbaik bagi rakyat/masyarakat, khususnya bagi kalangan rakyat miskin, lebih banyak orang yang menerima, melihat dan mengapresiasi karya misi sebagai misi kemanusiaan. Banyak RS Kristen terkenal berafiliasi dengan univeristas milik gereja. Saat ini, organisasi-organisasi Kristen merupakan LSM-LSM terbesar, terkuat dan terbanyak (melebihi organisasi pemerintah dan organisasi lainnya), yang melakukan karya-karya sosial seperti menyediakan makanan bagi kalangan miskin, tunawisma, jompo; membangun banyak panti jompo dan panti asuhan, beasiswa bagi anak-anak miskin, pelatihan kerja, konseling gratis (untuk problem keluarga, perkawinan, kehamilan remaja, penyakit dll). Pemerintah yang tidak mampu mengatasi lonjakan problem/penyakit sosial akibat industrialisasi dan urbanisasi sangat menghargai usaha/lembaga Gereja yang terlibat aktif dalam upaya mensejahterakan masyarakat!
  1. Protestantisme di Korea Selatan sangat menekankan usaha misi, kesaksian, pelayanan dan penginjilan. Spirit misi bangsa Korea Selatan sangat luar biasa, sehingga patut disebut sebagai Bangsa Misi, Bangsa Penginjil atau Pusat dan kekuatan Misi dunia. Pada tahun 1982 ada 321 misionaris Protestan. Tahun 1992 jumlah itu bertambah menjadi 2576 orang. Pada tahun 1995 Gereja Protestan di Korea Selatan telah mempersiapkan 105.000 pemuda untuk bekerja di lading misi. Saat ini jumlah misionaris Protestan yang diutus ke seluruh dunia berjumlah sekitar 20.500 orang, – sekitar 3000 orang diantaranya diutus ke China. Jumlah misionaris Korea Selatan kini adalah yang kedua terbesar di dunia setelah AS yang mempunyai tenaga misi Protestan sebanyak +000 orang. Mengalahkan jumlah misionaris Protestan dari Inggris sekitar 6000 orang. Ratusan Badan Misi Protestan Korea (khususnya denominasi besar seperti Presbyterian, Reformed, Methodis, Baptis, Sidang Jemaat Allah, Full Gospel, Advent, Bala Keselamatan, Lutheran) telah berikrar untuk melipatgandakan tenaga misi menjadi 100.000 orang dalam satu atau dua dekade mendatang. Para misionaris Protestan pertamalah yang mewariskan semangat dan roh kebangunan rohani yang luar biasa. Semua misionaris berlatar belakang Gereja Protestan yang konservatif, fundamentalis dan Injili. Para misionaris dari Amerika Serikat tersebut adalah hasil, penerus dan pengobar api kebangunan-kebangunan rohani besar (Great Awakenings) yang terjadi dalam Protestantisme (khususnya aliran Methodis, Presbyterian/Reformed, Kongregasional dan Baptis) di AS. Maka tidak aneh kalau di Korea Selatan terdapat puluhan gedung gereja terbesar (Mega-Church) dan convention center Kristen yang besar-besar dan megah. Pada tahun 2005 jumlah gedung Gereja Protestan mencapai 60.000 buah. Denominasi-denominasi terbesar adalah Presbyterian (33%), Methodis/Wesleyan (22 %), Holiness/Kesucian (Nazarene, Bretheren, Bala Keselamatan, Advent, Mennonite) (16%), Baptis (11%), Full Gospel (8%), dan 10 % gereja Independen.
  1. Sejak awal Gereja-gereja Protestan di Korea Selatan berupaya membangun dirinya sendiri menjadi gereja yang otonom, mandiri dan dewasa dalam segala hal, baik teologi, dana, pendidikan dan personil. Gereja-gereja Protestan di Korea Selatan saat ini merupakan organisasi/gereja yang paling kuat dan paling kaya di dunia, sedikit di bawah Gereja-organisasi Protestan di AS.
  1. Gereja dan umat Protestan terlibat aktif dalam perjuangan kebangsaan/kemerdekaan, nasionalisme, dan penegakan/pembangunan hak-hak asasi manusia dan demokrasi. Banyak tokoh-tokoh Kristen yang menjadi pemimpin-pemimpin partai politik, serikat buruh, ormas dan parlemen. Tidak aneh telah ada 3 orang Kristen yang terpilih menjadi  Presiden Korea Selatan  (2 Protestan dan 1 Katolik).

 

Masa Depan Protestantisme Korea Selatan

Secara statistik, Protestantisme di Korea Selatan akan terus bertumbuh. Walaupun beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan Gereja agak melambat/menurun (akibat badai krisis ekonomi global dan mulai liberalnya (?) dan semakin sekuler/menduniawinya gereja (seperti Teologi Kemakmuran/Sukses yang banyak dikembangkan/dipromosikan Pdt. Cho Yonggi); namun spirit dan teologi yang masih menguasai Protestantisme Korea Selatan adalah paham Evangelikalisme (Injili). Paham Protestan Injili (antara lain: setia kepada Injil (doktrin konservatif) dan semangat penginjilan yang membara)  inilah yang menjadi semangat perang, energi besar, motor penggerak dan mesin kebangunan rohani berkelanjutan bagi gereja. Kalau Protestantisme Korea Selatan kemudian menjadi liberal, maka Protestantisme pelan-pelan akan melemah, layu dan kritis, seperti dialami Protestantisme liberal di AS dan Eropa yang mengalami krisis besar/kebangkrutan.

Alasan untuk tetap optimis bahwa Protestantisme akan terus berkembang/bertumbuh adalah karena mayoritas Gereja dan Umat Protestan di Korea Selatan saat ini adalah orang-orang Kristen yang telah lahir baru, menganggap dirinya orang Israel Baru dan tetap berkomitmen untuk Kristus dan misi! Dengan semangat Protestan Injili yang kuat dan membara, dalam dua dekade mendatang maka Korea Selatan akan sepenuhnya menjadi pusat/poros Protestantisme Asia, dan melanjutkan misi memenangkan Korea Utara bagi Kristus! Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here