Kekristenan (Protestan) Merupakan Bidan, Bunda dan Spirit Sains Modern!

0
501
Universitas Pelita Harapan, Sebuah Universitas Protestan Reformed yang paling berkembang pesat di Indonesia

 

Universitas Pelita Harapan, Sebuah Universitas Protestan Reformed yang paling berkembang pesat di Indonesia

 

Oleh:  Hotben Lingga

 

Akar supranatural dari sains modern adalah iman Kristen

Mengapa sains modern berkembang di Eropa, bukan di tempat lain? Mengapa Peradaban Romawi, Cina, India dan Mesir tidak menciptakan Revolusi Ilmiah? Mengapa sains modern tidak berkembang atau berakar dalam agama-agama lain? Mengapa sains modern lahir di dalam masyarakat Kristen Eropa?

Menurut Stanley Jaki, dalam beberapa budaya kuno seperti Cina, Yunani dan Hindu, ilmu pengetahuan memang pernah berkembang, bertunas dan memiliki “pucuk” permulaan. Para filsuf Yunani juga membuat prestasi-prestasi mengagumkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Akan tetapi, mengapa prestasi-prestasi ini tidak menghasilkan Revolusi Ilmiah atau perkembangan sains dengan pesat? Mengapa semuanya mengalami “jalan buntu” tidak bisa berkembang menjadi displin ilmu yang “terlahir hidup”?

Ini karena pandangan dunia (teologi dan filsafat) dan pendekatan mereka keliru tentang natur Tuhan dan realitas (natur dunia fisik). Dunia ini dalam filsafat/pemikiran Yunani adalah versi rendahan/murahan, hanya sebuah bayangan yang tidak nyata dari dunia yang lebih tinggi, kekal dan sempurna. Kebenaran tentang dunia natural tidak bisa ditemukan oleh observasi dan percobaan melalui panca indera tetapi hanya melalui proses akal budi dan mental. Karena itu observasi dan percobaan kecil nilainya. Bangsa Yunani juga percaya pada doktrin reinkarnasi sehingga tidak bisa lepas dari pandangan tentang waktu yang bersifat siklus/lingkaran.

Demikian juga di Asia, penekanan Hinduisme dan Budhisme bahwa dunia fisik ini bersifat maya (tidak nyata) tidak kondusif bagi studi obyektif pada alam. Budhisme misalnya memandang kosmos ini secara intrinsik adalah jahat, sumber penderitaan. Bagi Budha misalnya pencerahan didapat apabila kita menutup mata kita pada dunia luar dan menarik diri dari indera-indera fisik kita. Dan, mengapa Sains tidak berkembang di dunia Arab? Sekalipun Arab juga memberikan kontribusi positif tertentu, khususnya dalam astronomi dan matematika, namun karena kaum ortodoks Arab begitu menekankan fatalisme dan kehendak Allah, bahwa segala sesuatu sudah ditentukan secara fatalistik oleh kehendak Tuhan, maka tidak perlu berusaha menggerakkan dunia natural untuk mengubah benda-benda.

Adanya ajaran teologis tertentu tentang “lingkaran kekal/siklus abadi” tidak bisa membuat sains bertumbuh subur. Pandangan dunia yang bersifat siklus abadi/lingkaran kekal, pantheistik, animistis, fatalistis seperti yang dianut kebudayaan Hindu, Cina dan Yunani kuno; dan pandangan dunia yang materialis dan atheistis seperti yang dianut oleh Kaum Komunis di Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur terbukti tidak pernah mampu menghasilkan budaya superior secara ilmiah, dan terbukti menghalangi perkembangan ilmiah. Jadi, karena agama-agama dunia yang lain menganut paham fatalisme (segala sesuatu sudah ditentukan secara fatalistis) dan menganut pandangan bahwa dunia fisik itu hanya ilusi; mereka semua mandek/stagnan sesudah membuat perolehan awal dalam pengetahuan, pada langkah pertama saja! Ilmu pengetahuan tidak bisa timbul dari pandangan dunia seperti ini. Ini karena kecondongan manusia yang alami adalah menginginkan hasil yang segera/langsung. Kalau riset tidak menghasilkan keuntungan yang cepat dan masuk akal, maka minat risetpun menyusut/berkurang.

Dalam kepercayaan-kepercayaan primitif, tidak ada rasionalitas, keteraturan, dan konsistensi dalam dunia natural yang bisa kita ungkapkan dalam istilah “hukum-hukum alam”. Kalau dunia diresapi dan dihuni oleh sekumpulan dewa-dewi yang tak beraturan dan dikontrol oleh roh-roh yang kelakuannya tidak jelas/berubah-ubah, maka tidak ada ruang untuk sains. Ini merupakan kelemahan sistem pemikiran dunia.

 

Maka, pengetahuan dan situasi apa yang diperlukan agar bisa terjadi revolusi ilmiah?

Pandangan dunia Kristenlah yang memberikan kerangka berpikir, pendekatan, paradigma dan landasan di mana sains modern bisa berkembang.

Dari sejak lahirnya, iman Kristen yang historis telah memiliki akar dalam dirinya tentang  realitas ontologis akan adanya seorang Tuhan Sang Pencipta dan alam ciptaanNya. Ada status obyektif pada realitas, yang ditegaskan dalam kata-kata pembukaan Alkitab (“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”). Pernyataan ini menempatkan keberadaan Pencipta yang kekal, bebas dan tak terbatas yang secara ontologis dapat diperbedakan dari alam semesta yang terbatas yang keberadaan dan keberlangsungannya bergantung padaNya saja. Alam bisa dijelaskan secara matematis dan rasional karena alam diciptakan dan didesain oleh seorang Pencipta yang rasional. Allah menciptakan sebuah kosmos yang memancarkan kebaikanNya yang melekat dalam “ketertiban, keberagaman, pertalian dan rasionalitas yang dapat dimengerti”. Asal-usul sains modern berasal dari tuntutan/klaim teologis Alkitab tentang rasionalitas Tuhan, dan kreasionisme biblikal.

Alkitab menekankan bahwa Kosmos bisa dikenal. Di Perjanjian Lama misalnya, umat Tuhan dipanggil untuk memandang langit dan bumi sebagai ciptaan yang beraturan oleh Allah penebus, daripada sebagai tempat bermain dewa-dewi. (Lihat Yes. 40:25-26; 42:5; 44:24; Maz 8; dsb).

Alkitab mengundang dan mengajak setiap orang untuk terbuka, jujur dan pro-aktif menyelediki dan merefleksikan alam ciptaan Tuhan dengan tanpa rasa takut akan adanya kontradiksi.

Alkitab memerintahkan manusia untuk menaklukkan bumi, tetapi agar bisa melakukan hal ini, manusia harus memahami bagaimana caranya dunia bekerja. Sebagai tambahan lagi, Alkitab menggambarkan Tuhan sebagai seorang Pencipta yang membuat alam semesta bekerja menurut hukum-hukum yang rasional. Karena hukum-hukum Allah itu tetap/abadi, maka hukum-hukum itu bisa ditemukan dan dieksplorasi. Banyak ilmuwan yang menciptakan sains modern, termasuk Galileo dan Newton, percaya bahwa mereka sedang menghormati Tuhan dengan mempelajari ciptaanNya. Mereka memandang sains sebagai kewajiban iman dan ingin mengetahui rencana Tuhan untuk kosmos ini.

Terlebih lagi pada konsep manusia sebagai mahkota ciptaan Allah, sebagai Citra Allah (Kej 1:26, 27) yang diberikan mandat khusus oleh Allah untuk menjadi “penguasa, penakluk, pengelola, penjelajah, pengusaha, pelayan, pengembang dan penanggung-jawab atas seluruh ciptaan Tuhan, baik makhluk hidup maupun bukan makhluk hidup”. Akan tetapi manusia bukan makhluk yang tak terbatas dari segi apapun. Hanya Tuhan yang tak terbatas dan maha kuasa dalam segala sesuatu. Manusia harus bersikap rendah-hati, takluk, taat dan tunduk kepada Penciptanya dan hukum-hukum yang telah diciptakan oleh Tuhan.

Dalam pandangan PB, struktur kosmos yang bersifat rasional juga ditekankan. Yoh 1:3 misalnya menyatakan bahwa “Segala sesuatu (alam semesta, ketertiban, dan hukum-hukum alam) dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi”. Struktur rasional dunia fisik ditekankan melalui konsep “Kristus Kosmik” dan “Firman” (bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia, di dalam Dia dan untuk Dia) (Kol 1:16-17).

Kredo-kredo orang Kristen mula-mula juga menganut realisme biblikal, yang mengakui bahwa semua realitas bermula dari Allah (Bandingkan Kis 17:22-31). Pendek kata, theisme Kristen historis yang bersumber dari Alkitab memberikan pandangan dunia yang penting dan diperlukan (dan khususnya unsur epistemologis) yang bisa membuat sains berkembang secara dinamis, positif dan progresif. Sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metode-metode ilmiah dan oberservasi-observasi sistematis, obyektif, rasional dan komprehensif tentang alam dan dunia fisik. Sains merupakan penjelasan-penjelasan logis dan rasional tentang alam, di mana pengetahuan itu bisa diubah dan dikoreksi melalui observasi-observasi dan perkembangan sains berikutnya.

Jadi, Alkitab sebenarnya memberikan perintah kepada manusia untuk “berilmu pengetahuan atau mengerjakan sains”. Kekristenan yang historis dan biblikal selalu menekankan bahwa pengetahuan, rasionalitas dan kemampuan manusia bersifat terbatas, parsial, berkembang dinamis dan progresif.

Hanya cerita Alkitab yang menyediakan/memberikan proses linear dari sebuah permulaan absolut yang memampukan “tunas-tunas dan pucuk-pucuk” ilmu pengetahuan berkembang penuh.

Berbeda dengan pandangan dunia yang lain, Umat Kristen dan Yahudi percaya bahwa Tuhan telah menciptakan alam semesta menurut logika tertentu, yang bisa dijelaskan. Kepler percaya bahwa Tata Surya diciptakan sesuai dengan rencana Tuhan, yang ia berusaha singkapkan misterinya. Sir Isaac Newton juga sangat gemar mempelajari Alkitab dan banyak menulis artikel-artikel mengenai Alkitab melebihi karya ilmiahnya.

Tidak ditemukan pandangan dunia seperti ini di Asia Timur maupun di peradaban manapun.

 

Kekristenan merupakan “Bunda Sains Modern”

Baca juga  PELANTIKAN PENERIMA BEASISWA ITHB 2018

Sains modern timbul dan berkembang di/dari tanah Kristen. Tesis ini telah diakui dan dicatat oleh banyak orang, bukan hanya saja orang Kristen sendiri. Ini ditekankan oleh penulis-penulis dan pemikir-pemikir besar seperti Alfred North Whitehead, seorang ahli matematika dan filsuf terkenal dan J. Oppenheimer, seorang filsuf kontemporer terkenal lainnya. Lebih penting lagi, ini banyak diperkuat dalam bidang studi baru sejarah sains oleh sarjana-sarjana seperti Duhem, Crombie, Jaki, Nebelsick dan Kaiser.

 

Pelopor-pelopor Kristen

Pelopor-pelopor awal dalam perkembangan sains modern adalah orang-orang Kristen yang saleh dan taat. Bagi Copernicus, ahli astronomi revolusi ilmiah pertama, secara pribadi Tuhan bertanggung-jawab atas semua aktivitas di langit. Gagasan-gagasannya yang radikal ditulisnya dalam bukunya On the Revolutions of the Heavenly Spheres, yang diterbitkan pada tahun 1543, tahun dia meninggal. Bagi Copernicus, keteraturan gerakan-gerakan planet yang dia temukan merupakan manifestasi seorang Pencipta yang penuh kasih kepada ciptaanNya.

Galileo (meninggal 1642) menciptakan neraca hydrostatis dan menemukan hukum-hukum dinamika dari pengamatan benda-benda yang jatuh. Akan tetapi, Galileo terutama dikenal atas prestasi-prestasinya dalam astronomi. Penemuannya atas empat satelit Jupiter pada 7 Januari 1610, dengan bantuan teleskop yang baru diciptakan, merevolusi studi astronomi. Dia disebut sebagai ilmuwan modern pertama dan karyanya memperkuat observasi-observasi Copernicus. Dia menganggap sainsnya memperjelas/mengiluminasi karya sang Pencipta. Meskipun ia berselisih dengan Gereja ia tetap menjadi seorang Kristen yang taat sampai ia meninggal dunia.

Kepler, astronom Jerman, tokoh sejaman Galileo, adalah juga seorang Kristen yang taat. Penemuannya tentang tiga hukum gerak planet meletakkan dasar bagi teori gravitas Newton. Ia menganggap studinya tentang alam fisik sebagai “memikirkan pikiran-pikiran Tuhan di hadapan Tuhan”. Kepler berkata,”Semakin banyak kita memahami dengan benar alam dan bidang yang Tuhan kita dirikan, semakin hormat, kagum dan taat kita kepada Sang Maha Pencipta.”

Tongkat kepemimpinan akademis generasi sesudah Kepler dipegang oleh Newton, yang lahir pada tahun wafatnya Galileo. Newton juga seorang Kristen yang taat. Sebagai seorang Protestan Anglikan, dia aktif berpartisipasi dalam penyebaran Alkitab pada kaum miskin dan pembangunan gereja-gereja baru. Newton sebenarnya lebih banyak menulis artikel-artikel tentang Alkitab/kekristenan daripada tentang sains. Newton menjadi matematikawan paling terkenal di Eropa. Newton menerbitkan buku “Principia Mathematica” pada tahun 1667, sebuah buku yang mentransformasi arah sains Barat. Karyanya memberikan arah baru bagi Optika, Mekanika dan Dinamika Luar Angkasa. Karyanya tentang gravitasi mengangkat reputasi Universitas Cambridge untuk ilmu Matematika. Studinya tentang cahaya menghasilkan teleskop pemantul cahaya yang pertama. Penemuannya tentang Kalkulus memberikan pada sains alat matematis untuk penjelahan yang lebih jauh tentang jejak-jejak yang ia singkapkan.

 

Dasar-dasar Biblikal

Bagaimana iman Kristen membantu pendekatan ilmiah banyak pemikir-pemikir orisinil masa-masa itu dan memampukan mereka memutuskan hubungan dengan prakonsepsi masa lampau? Dalam kuliah-kuliahnya pada tahun 1925, ahli filsafat terkenal, Alfred North Whitehead, menegaskan bahwa Kekristenan merupakan Bundanya sains karena “penekanan dan tuntutan Abad Pertengahan atas rasionalitas Tuhan”. Karena kepercayaan ilmuwan-ilmuwan awal atas rasionalitas ini, mereka mempunyai “kepercayaan yang tidak bisa dihapus bahwa setiap kejadian detil bisa dihubungkan dengan anteceden-antecedennya dalam cara tertentu yang sempurna, yang menunjukkan prinsip-prinsip umum. Tanpa kepercayaan ini, pekerjaan ilmuwan-ilmuwan luar-biasa ini akan menjadi tanpa harapan. Newton berkata,”Sistem matahari, planet dan komet yang paling indah, hanya bisa berasal dari/disebabkan dari nasehat dan kekuasaan suatu Makhluk cerdas dan penuh kuasa. Makhluk ini memerintah segala sesuatu, bukan sebagai jiwa dunia, tetapi sebagai Tuhan atas segala sesuatu”

Tuhan ini tidak saja cerdas, tetapi setia dan layak dipercaya, sebagaimana yang Alkitab sering nyatakan. KesetiaanNya terungkap dalam keteraturan dan ketertiban dunia yang diciptakan, suatu keteraturan yang bisa diungkapkan secara ilmiah sebagai “hukum-hukum”. Newton terkenal atas formulasinya tentang hukum yang mengatur gerak benda-benda langit- hukum gravitasi universalnya yang terkenal.

Allah ini juga menyatakan bahwa semua yang Ia ciptakan itu baik, sebuah kata yang terdapat tujuh kali dalam Kejadian 1. Karena itu karya-karyaNya layak dipelajari. Ini berlawanan dengan ide tentang ketidaknyataan atau inferioritas dunia natural, yang lazim bagi filsafat Yunani dan agama-agama lain. Tema sentral teologia Protestan pada waktu itu adalah kemuliaan Allah (Soli Deo Gloria), dan mereka memandang ini sebagai bagian dalam memahami ciptaanNya. Ilmuwan-ilmuwan Kristen yang awal juga memandang ini sebagai tugas mereka untuk melaksanakan secara serius perintah yang diberikan dalam Kejadian 1:28 untuk menaklukkan tatanan alam semesta, untuk kemuliaan Allah!

Faktor lebih lanjutnya tentunya tidak perlu diragukan lagi, pandangan Kristen tentang perkembangan (Progres) dalam sejarah yang dinyatakan secara tidak langsung dalam perintah Tuhan yang pertama untuk “beranak-cucu dan bertambah banyak memenuhi bumi dan menaklukkannya”. Ide perkembangan merupakan sifat sains terapan. Pandangan Kristen tentang maksud/tujuan dalam sejarah, yang memiliki sebuah permulaan, dan yang akan berakhir pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya, sangat berbeda dengan pandangan siklus, dengan pengulangan tetap, yang lazim bagi agama-agama utama lainnya. Arti rasionalitas Tuhan, kesetiaan Tuhan, kebaikan ciptaanNya dan rencana-rencana/maksudNya dalam sejarah mendasari banyak hal yang muncul di permukaan dalam abad ke-16 dan -17 dan sebagian besar timbul dari Reformasi Protestan, walaupun kita telah melihat bahwa permulaan-permulaannya sesungguhnya berasal dari abad-abad Kristen yang pertama, pada Alkitab itu sendiri.

Alkitab menegaskan bahwa planet kita (bumi) dalam kosmos ini diciptakan khusus untuk dijelajahi dan untuk menghasilkan penemuan-penemuan dan menegaskan bahwa umat manusia diciptakan dalam citra Allah. Ide-ide ini, membuahkan persemaian bagi perkembangan sains secara lebih dinamis. Sains modern beroperasi atas dasar keyakinan-keyakinan teologis ini. Bukanlah suatu kejadian yang kebetulan bahwa sains muncul dalam waktu dan tempat dimana banyak faktor-faktor ini bertemu. Walaupun mereka sekarang dilupakan, Alfred North Whitehead, dalam Science and the Modern World, menyatakan,”Iman pada posibilitas sains, yang menghasilkan perkembangan teori ilmiah modern, merupakan suatu hasil yang tidak disadari dari teologia abad pertengahan.”

 

Kitab Firman Tuhan dan Kitab Karya-karya Allah

Salah satu hasil dari Reformasi Protestan adalah suatu perasaan baru akan kebebasan. Manusia merasa bebas dari tradisi-tradisi, apakah kegerejaan, politis atau filosofis. Para ilmuwan mengatakan mereka bebas dari ide-ide Filsafat Yunani yang sudah terbentuk sebelumnya, dan mereka akan menundukkan ide-ide mereka pada Kitab Alam, sama seperti mereka menundukkan semua masalah iman kepada Alkitab. Karena Tuhan merupakan pengarang keduanya maka tidak mungkin ada pertentangan di antara keduanya, kecuali ada salah pengertian dari manusia. Galileo menulis bahwa “dunia merupakan karya Tuhan sedang Alkitab merupakan Firman  dari Tuhan yang sama”. Atau sebagaimana kata Kepler,”Lidah Tuhan dan jari Tuhan tidak mungkin bertentangan dan tidak akur”. Ini merupakan tema umum. Francis Bacon, seorang filsuf terkenal, pendiri pendekatan ilmiah baru di Inggris, menyatakan,”Jangan ada orang yang berpikir atau berpendapat bahwa seseorang bisa menyelidiki terlalu jauh atau telah menjadi begitu pintar tentang Firman Tuhan (Alkitab) atau ilmu pengetahuan”. Dalam Novum Organum, Bacon juga menyatakan bahwa ,”filsafat alam (sains), setelah Alkitab, merupakan obat paling pasti untuk melawan takhyul-takhyul, dan merupakan sahabat yang paling didukung oleh iman”.

Kepler sendiri menganggap dirinya sebagai “seorang imam tinggi dalam kitab alam yang harus mencatat karya-karya Tuhan”. Tulisnya,”Karena kami para astronom adalah imam-iman Allah Yang Maha Tinggi dalam dunia ilmu pengetahuan, pantaslah kami selalu merenungkan kemuliaan Tuhan melalui penemuan-penemuan kami”.

Mereka sedang mengikuti tuntunan yang diberikan dalam Alkitab sekitar 2000 tahun yang lalu,”Besar perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya” (Maz 111:2). Ayat Alkitab ini banyak dikutip oleh ilmuwan-ilmuwan besar Eropa waktu itu dalam makalah-makalah ilmiah mereka seperti dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan besar seperti  Lord Rayleigh, James Clerk Maxwell, Newton, Kepler, Copernicus dan lain-lain. Bahkan di pintu masuk Laboratorium Cavendish Universitas Cambridge yang menjadi pusat riset sains paling terkenal pada waktu itu diukir ayat ini. James Clerk Maxwell adalah salah seorang ilmuwan terbesar pada waktu itu yang meletakkan dasar bagi teori medan dalam fisika yang menuntun kepada teori relativitas.

Baca juga  Pusat Habatakon (Batak Center) Didirikan untuk Menyelamatkan Kebudayaan Batak di Masa Depan

Ide-ide lama yang telah ada dari Aristoteles- bumi benar-benar bulat; bumi merupakan pusat alam semesta; bumi tidak bergerak; matahari merupakan bola/bulatan tanpa noda/bintik (spot/tempat) atau cacat, penuh dengan udara yang naik ke atas, dan sebagainya- bersinergi dengan Abad Pertengahan. Karena orang terus mempelajari alam semesta dalam terang prinsip-prinsip ini, dengan serius pada apa yang mereka lihat, dasar-dasar sains yang benar diletakkan dengan benar.

Selama periode abad Pertengahan, orang-orang Eropa mengembangkan kerah kuda, sepatu kuda dan meriam untuk menembak bubuk bahan peledak- amunisi yang pertama kali ditemukan orang Cina tetapi tidak pernah diterapkan untuk membuat meriam. Kekristenan tidaklah menjerumuskan Eropa ke dalam era kebodohan dan keterbelakangan. Malahan, begitu banyak kemajuan teknis yang terjadi selama era ini, sehingga hingga sampai abad ke-13, teknologi Eropa melampaui dan menggungguli perkembangan apapun yang ditemukan di seluruh dunia.

Memang sarjana-sarjana terkemuka pada masa Revolusi Ilmiah seperti Galileo, Kepler dan Newton diinspirasi oleh Matematika Yunani kuno, namun yang membuat hubungan antara matematika dengan dunia alami semakin kuat dan jelas adalah pandangan dunia Kristen. Para ilmuwan Kristen pada waktu itu memandang Alkitab dan alam semesta sebagai Kitab Tuhan. Bahan-bahan sains diramu oleh Bangsa Yunani, tetapi vitamin dan hormon pertumbuhan sains adalah Kekristenan/Alkitab.

Tanpa iman Kristen historis tak mungkin cerita sains bisa berkembang seperti saat ini. Tanpa pandangan dunia yang mampu memberi dasar dan prasuposisi penting tentang realitas alam semesta yang bisa diselidiki orang sebagai sebuah mandat langsung dari Allah. Tanpa tiang fondasi teologis dan filosofis iman Kristen yang memandang dunia (alam semesta) ini sebagai ciptaan Tuhan yang agung, tertib, beraturan dan bertujuan dan harus diusahakan/dieksplorasi, dikuasai dan ditaklukkan oleh manusia untuk hormat dan kemuliaan bagi Allah, sains hanya akan berkembang sedang-sedang saja.

Kebanyakan ilmuwan awal adalah orang-orang Kristen, yang bahkan banyak di antara ilmuwan tersebut yang merupakan pendeta Protestan atau Katolik. Semua ilmuwan besar ini memandang sains sebagai perluasan logis iman mereka. Bagi kebanyakan ilmuwan Kristen ini, iman mereka merupakan kekuatan penggerak di balik penemuan-penemuan mereka.

Berikut adalah daftar ilmuwan-ilmuwan besar, penemu-penemu dan pendiri-pendiri cabang-cabang ilmu pengetahuan yang paling berpengaruh di dunia, yang seratus persen adalah orang-orang Kristen yang saleh dan beriman, yang percaya pada kebenaran Alkitab dan keselarasan sains dengan Alkitab. Paling sedikit ada 1600 ilmuwan-ilmuwan terbesar dalam sejarah adalah orang-orang Kristen atau mempunyai pandangan biblikal. (Daftar ini disusun oleh D. Janes Kennedy, seorang pendeta Protestan dari Gereja Presbyterian terkenal dari AS)

 

 

Antiseptic Surgery Joseph Lister Galactic Astronomy Sir William Hershel
Bacteriology Louis Pasteur Gas Dynamics Robert Boyle
Calculus Isaac Newton Genetics Gregor Mendel
Celestial Mechanics Johannes Kepler Glacial Geology Louis Agassiz
Chemistry Robert Boyle Gynaecology James Simpson
Comparative Anatomy Georges Cuvier Hydrography Matthew Maury
Dimensional Analysis Lord Rayleigh Hydrostatics Blaise Pascal
Dynamics Isaac Newton Ichthyology Louis Agassiz
Electronics John Ambrose Fleming Isotopic Chemistry William Ramsey
Electrodynamics James Clerk Maxwell Model Analysis Lord Rayleigh
Electromagnetics Michael Faraday Natural History John Ray
Energetics Lord Kelvin Non-Euclidean Geometry Bernard Riemann
Entomology of Living Insects Henri Fabre Oceanography Matthew Maury
Field Theory James Clerk Maxwell Optical Mineralogy David Brewster
Fluid Mechanics George Stokes

Kontribusi Reformasi Protestan dan Kaum Puritan Protestan

Ada dua pergolakan yang sangat besar dalam pemikiran Barat pada masa-masa antara tahun 1500 dan 1700. Dalam dunia agama, Luther, Calvin, Zwingli dan Knox sedang menggantikan pandangan dunia yang berpusatkan pada manusia dengan pandangan dunia yang berpusatkan pada Allah. Dalam dunia sains, Copernicus, Galileo, Brahe, Kepler dan Newton sedang menggantikan alam semesta yang berpusatkan pada bumi dengan alam semesta yang berpusatkan pada matahari. Para sejarawan modern telah mengakui bahwa tanpa adanya Reformasi Protestan sains modern tidak akan ada. Reformasi keagamaan dan revolusi ilmiah berjalan bergandengan.

Reformasi Protestan merupakan gerakan keagamaan terbesar bagi Kristus sejak gereja mula-mula. Sebagai penutup era abad pertengahan dan penanda permulaan zaman modern, Reformasi merupakan kebangunan teologia alkitabiah dan Perjanjian Baru. Reformasi yang meletakkan dan menekankan hak dan kewajiban hati nurani setiap individu dan hak untuk mengikuti ketentuan suara hati masing-masing individu. Penekanan Reformasi pada kebebasan hak dan kewajiban sesuai hati nurani setiap individu membuat Protestantisme menjadi kekuatan pendorong dan penggerak utama sejarah peradaban modern.Karena semua penyelidikan dan usaha ilmiah sebelum Reformasi dikontrol oleh Gereja Roma. Reformasi menolak otoritas tradisi sebagai sebuah kemutlakan.

Penekanan Protestantisme pada interpretasi kitab suci secara harfiah sesuai hati nurani dan tanggung jawab masing-masing individu dan penekanan pada supremasi kitab suci mendorong orang untuk juga menafsirkan dan menjelaskan alam semesta (dunia) ini secara bebas, rasional dan bertanggung-jawab; sehingga mempengaruhi bangkitnya sains modern. Bangkitnya sains modern berkaitan dengan pendekatan Protestan pada teks Alkitab yang menghasilkan prasyarat-prasyarat untuk penyelidikan ilmiah dan eksploitasi teknologi. Jadi, sains modern sendiri merupakan produk historis kekristenan Protestan. Kekristenan Protestan membantu lahirnya sains modern. Interpretasi biblikal mempengaruhi interpretasi terhadap alam.  Membaca dan menafsirkan Alkitab secara harfiah (historis dan gramatis) menuntun orang ke membaca alam secara harfiah dan ini yang membuat sains modern lahir.

Pencarian dan penyelidikan atas hubungan sebab musabab antara Reformasi Protestan dan  berkembangnya sains modern telah melibatkan sejarawan-sejarawan dalam perdebatan yang kompleks. Pada dasarnya, perdebatannya adalah antara  dua sudut pandangan. Pertama, bahwa agama memberikan dorongan dan semangat yang menentukan pada sains, dan kedua, bahwa baik agama dan sains dipacu/didorong oleh faktor yang lain, seperti pembangunan sosial dan ekonomis. Ada bukti nyata dan masuk akal bahwa Protestantisme menyebabkan bangkitnya sains modern.

 

Sumbangsih Protestan

Ada banyak fakta dan bukti-bukti penting dan spesifik kontribusi Protestan bagi “revolusi ilmiah”.  Seorang Pangeran Lutheran, Duke Albrecht dari Prussia,  mensubsidi penerbitan buku astronom Nicolaus Copernicus “De Revolutionibus” (1543); Andreas Osiander, seorang teolog Lutheran, mengatur percetakannya dan menulis kata pengantarnya; Joachim Rhaeticus, seorang matematikus Lutheran dan professor di Universitas Wittenberg, yang pada saat itu menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi Protestan, mengawasi percetakannya; dan Erasmus Reinhold, seorang professor Wittenberg lainnya, mendukung ajaran Copernicus dalam  tabel-tabel astronomisnya.

Astronom-astronom besar Tycho Brahe (1546-1601) dan Johannes Kepler (1571-1630) keduanya adalah pengikut Luther yang setia. Michael Maestlin, seorang pendeta Lutheran, menjadi Editor buku Kepler “Prodromus” (1596), yang membuat nama Kepler termasyur karena menerangkan tentang prinsip-prinsip gerakan planet. David Chytraeus (1530-1600), seorang teolog dan astronom Lutheran menguraikan sebuah bintang baru pada tahun 1572 dan menerbitkan sebuah buku tentang komet pada tahun 1577, dan membahas fenomena-fenomena ini dalam surat-suratnya pada Brahe. Johannes Fabricius (1587-1616), seorang astronom dan Lutheran, yang pertama sekali mengamati bintik-bintik pada matahari dan rotasi matahari. Dan Georg Samuel Dorffel (1643-1648), seorang pendeta Lutheran, yang pertama sekali mendemonstrasikan bahwa komet bisa bergerak dalam setengah lingkaran.

Selama abad ke-17, pengikut-pengikut Calvin yang mempelopori dan bertindak sebagai pemimpin dalam memajukan dunia sains. Philip van Lansberge (1561-1632), seorang pendeta Reformed dan astronom terkenal, menjadi pendukung Copernicus yang paling hebat di Belanda. Rekan senegaranya Isaac Beeckman (1588-1637), seorang ilmuwan dan seorang Kalvinis yang keras, adalah seorang pembela awal filsafat atomistis.

 

Pengaruh Kaum Puritan Protestan

Pengaruh Kekristenan dalam masa-masa awal dapat dilihat dengan jelas dalam pembentukan Royal Society of London for Improving Natural Knowledge, yang biasanya dikenal sebagai Royal Society, yang sangat penting dalam mempromosikan kemajuan-kemajuan ilmiah, pada tahun 1660. Kebanyakan anggota-anggotanya adalah orang-orang Kristen yang percaya. Royal Society dimulai dari pertemuan-pertemuan informal di Gresham College, sebuah perguruan tinggi kaum Puritan Protestan di London. Tujuh dari 10 ilmuwan yang menjadi kelompok inti dari pertemuan-pertemuan ini adalah kaum puritan. Robert Boyle, “Bapak Ilmu Kimia” dan salah seorang pendiri Royal Society, adalah seorang yang banyak memberikan donasi untuk melawan kaum kafir di Inggris. Ada juga ilmuwan-ilmuwan penting di abad ke-16 dan 17 yang beragama Katolik Roma.

Baca juga  Berkelakuan Baik, 102 .976  Narapidana Dapat Pengurangan Pidana

Di Inggris Gerakan Puritan Protestan menghasilkan tokoh-tokoh seperti Henry Briggs, Henry Gellibrand, dan John Wilkins, yang mencurahkan hidup mereka pada  penemuan dan ilmu pengetahuan. Briggs dan Gellibrand adalah professor di Gresham College, London, yang sangat puritan. Di Gresham College, pada tahun  1645, seorang Kalvinis Jerman Theodore Haak (1605-1690), diinspirasi oleh pendidik Moravian Protestan J.A. Comenius (1592-1670), memulai pertemuan-pertemuan informal, yang pada tahun 1661 menjadi Royal Society of London. Tujuh dari sepuluh ilmuwan yang membentuk  institusi ini adalah kaum Protestan Puritan. Pada tahun 1663, 62 % anggota Royal Society adalah kaum puritan, yang pada saat itu masih merupakan kelompok minoritas di Inggris. Kaum puritan sangat menekankan percobaan dan disiplin akademis.

Bukti lain bahwa Protestantisme mendorong bangkitnya sains modern adalah dari statistik agama yang dianut para ilmuwan. Jumlah ilmuwan Protestan relatif lebih banyak dari antara ilmuwan-ilmuwan. Misalnya, 90% anggota-anggota asing Academie des Sciences di Paris antara tahun 1666 sampai 1883 adalah ilmuwan Protestan, meskipun pada waktu itu populasi Protestan di Eropa Barat hanya berjumlah 40% di luar Perancis. Statistik di tempat lain juga sama.

Para sejarawan telah berusaha menafsirkan bukti-bukti ini dimana Protestantisme telah mendorong kemajuan sains modern. Kaum Lutheran mengajarkan bahwa Kristus “benar-benar hadir” di alam raya ini seperti halnya Ia hadir di dalam Perjamuan Kudus. Kaum Kalvinis menekankan bahwa orang-orang percaya akan melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menegaskan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan Allah. Kaum Protestan secara umum mendukung penyelidikan ilmiah secara bebas dan kebebasan individu. Dengan semangat Etos Kerja Protestan dan spirit iman Protestan yang alkitabiah yang menekankan agar alam raya dipelajari secara sistematis, rasional dan eksperimental untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan umat manusia, maka sains modern sejak zaman Reformasi semakin berkembang dengan pesat. Penekanan Protestan pada doktrin “Imamat am orang percaya” mendorong lahir dan berkembangnya sains modern dan semangat ilmiah. 100 universitas pertama yang dibangun di AS misalnya adalah universitas yang didirikan oleh pelbagai denominasi Protestan. Dan dimanapun para misionaris Protestan berkarya, mereka merupakan pionir-pionir pendiri sistim pendidikan modern di seluruh dunia. Sekolah-sekolah modern dan universitas-universitas-universitas yang pertama kali dibangun di luar Eropa adalah sekolah-sekolah dan universitas Protestan pada abad ke-19. Di Cina, Korea dan Jepang saja misalnya, sekolah-sekolah modern pertama adalah sekolah-sekolah Protestan.  Di abad ke 19 saja, ada puluhan ribu sekolah yang dibangun para misionaris Protestan di seluruh dunia untuk mentransformasi dunia ini bagi Kristus.

 

Abad ke-19

Pada awal abad ke-19, jumlah ahli geologi pionir Kristen yang mempercayai Alkitab patut diperhatikan. Di antaranya adalah William Buckland, yang menjadi ketua fakultas Geologi di Universitas Oxford, rekan sejawatnya di Cambridge, Adam Sedgwick. Keduanya adalah pendeta terkenal. Mereka menjalin hubungan yang baik dengan ahli geologi Perancis, Baron Cuvier, seorang Kristen Protestan puritan yang lain. Di pertengahan abad ke-19, Hugh Miller.  geolog yang paling terkenal adalah juga seorang Protestan. Riset geologinya yang cerdas membuatnya diangkat menjadi Ketua dari TheRoyal Physical Society of Edinburgh.  Dia menulis beberapa buku paling laris tentang geologi, termasuk buku Footprints of the Creator. Ilmuwan Protestan terkenal lainnya yang pantas disebut adalah Rektor Amherst College di Massachusetts, AS, Edward Hitchcock. Dia seorang geolog dan teolog natural ternama. Ceramah-ceramahnya tentang usia bumi sangat terkenal.

Dasar-dasar Ilmu Fisika dibangun oleh ilmuwan-ilmuwan Kristen. Newton, Gauss, Faraday, Maxwell, Lord Kelvin, dan lain-lain. Ahli Botani terkenal John Ray (meninggal 1705) menyatakan,” Warisan alam tidak ada habis-habisnya…Jika manusia harus merenungkan Penciptanya, maka kemuliaan karya-karyaNya harus yang paling diperhatikan, bukan memikirkan hal-hal yang tidak penting.

Sains atheistis, yang distimulasi sejak Revolusi Perancis, mencapai Inggris pada tahun 1820-an. Akan tetapi, masih bisa dikatakan bahwa pada pertengahan abad ke -19  kebanyakan sarjana-sarjana dan ilmuwan-ilmuwan dunia masih orang-orang yang beragama Kristen. The British Association for the Advancement of Science dibentuk pada tahun 1832. Para pendeta puritan sangat aktif dalam pembentukannya; tiga dari ketuanya yang pertama-petrama adalah para pendeta Protestan. Pada sebuah pertemuan Asosiasi ini pada tahun 1865, sebuah manifesto dideklarasikan dan ditandatangani oleh 617 tokoh ilmuwan, banyak di antaranya adalah ilmuwan-ilmuwan yang sangat terkenal, menyatakan keyakinan akan kebenaran dan keotentikan Alkitab dan menegaskan bahwa Alkitab selaras dengan ilmu pengetahuan alam. Dokumen resmi deklarasi ini masih disimpan di Perpustakaan Bodleian Universitas Oxford.

 

Kesimpulan

Sebuah fakta yang tidak dapat disangkal dalam kaitan antara Kekristenan dengan sains adalah bahwa kelahiran sains modern terjadi dalam wilayah geografis Eropa Kristen, bukan terjadi di tempat yang lain, di Cina, India, Timur Tengah atau Afrika. Secara historis hubungan Iman Kristen dengan sains modern tidaklah terpisahkan, baik secara filosofis maupun historis. Tidak dapat dibantah, sejarah perkembangan sains terjadi di Barat Kristen. Para filsuf kontemporer seperti Whitehead dan sejarawan Sains Abad Pertengahan, seperti Lyn White, menyatakan bahwa rahib-rahib Abad Pertengahan merupakan datuk/nenek moyang/leluhur intelektual para ilmuwan. Sains modern merupakan produk Kristen. Tanpa kekristenan tidak ada sains modern. Sains modern diproses, dibentuk, dikandung, dibangun dan dilahirkan dalam rahim, worldview dan perspektif Kristen. Jadi, mereka yang menyatakan bahwa sains dan kekristenan bermusuhan, berkonflik, tidak selaras atau tidak harmonis, itu pendapat yang keliru dan tidak memahami sejarah sains secara obyektif. Sungguh tidak benar kekristenan itu anti-sains.

Pengaruh positif kekristenan atas sains tidak terbantahkan. Karena sebenarnya teologia Kristenlah yang menjadi motivator utama bagi penyelidikan ilmiah di dalam dunia Barat. Iman Kristen telah memainkan peran tertinggi dalam perkembangan sains modern. Para intelektual Kristenlah yang telah meletakkan dasar-dasar bagi sains modern dan memberikan kontribusi terbesar bagi kemajuan sains modern. Kekristenan didirikan sebagai gudang kebijaksanaan dan  pengetahuan yang terbesar bagi masyarakat. Umat Kristen diperintahkan untuk memberikan alasan-alasan dan jawaban rasional atas apa yang mereka percayai (1 Pet 3:15). Ada hubungan langsung antara metafisika Kristen, penolakan-penolakan Kristen pada berbagai konsepsi filosofis Yunani klasik, dengan lahirnya sains. Prinsip-prisip yang mendasari metode ilmiah: bisa diuji (testabilitas), bisa diverifikasi dan bisa diulang-ulang, berasal dari Kitab Suci Yudeo-Kristen.

Protestantisme mempunyai kontribusi dan pengaruh penting dan besar bagi perkembangan sains modern. Karena para Reformator Protestan sangat menekankan agar semua anggota gereja bisa membaca Alkitab, maka pendidikan pada semua tingkatan mendapat perhatian dan dorongan khusus. Menurut Tesis Merton, ada korelasi positif antara bangkitnya puritanisme dan pietisme Protestan dengan perkembangan sains eksperimental. Nilai-nilai dan budaya Protestantisme secara umum dan kontribusi kaum puritan/pietis Protestan secara khusus bertanggung-jawab atas perkembangan revolusi ilmiah abad 17 dan 18. Nilai-nilai asketis Protestan mendorong riset ilmiah dengan mengijinkan sains mempelajari pengaruh Tuhan atas dunia ini dan karena itu memberikan justifikasi religius pada riset ilmiah.dengan perhatian pada sains. Protestantisme membantu mentransformasi pola-pola nilai bagi perkembangan sains modern.

Bisakah dan bagaimanakah caranya Protestantisme abad XXI ini melakukan revolusi ilmiah jilid II?  Bisakah Kekristenan (Protestantisme) merekristenisasi sains modern dan merebut kembali supremasi dalam dunia sains/ilmiah? Bisa dan Harus! (dbs).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here