(Cara) Baptisan Menurut Injil

0
2828

Pdt.  Jerry Rumahlatu, D.Th.

Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu
Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu

Sampai saat ini masalah/topik “baptisan” masih sering menjadi sumber perdebatan dan sumber perpecahan dalam lingkungan aliran-aliran Kristen.  Secara umum, pangkal persoalannya adalah pada soal cara baptis, yaitu dengan cara selam dan/atau percik/curah/siram, sehingga dikenal istilah baptis selam dan baptis percik/curah/siram. Ada gereja dan pendeta yang begitu ekstrim dan fanatik terhadap cara baptisan selam (sampai-sampai pendeta ini berani mengklaim langsung diajari/diperintahkan Tuhan Yesus, langsung dari surga lagi), sehingga mereka menganggap baptisan percik/curah tidak sah/sesat/tidak alkitabiah sehingga wajib diulang. Ada gereja/pendeta yang berpendapat baptisan boleh dengan cara percik atau dengan cara selam, yang penting dilakukan di dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ada juga yang berpendapat bahwa tanpa airpun (tanpa diselam atau tanpa dipercik air) baptisan tetap sah asalkan dilakukan di dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Bagaimana sebenarnya ajaran/perintah Injil Perjanjian Baru, Firman Tuhan, tentang Baptisan? Mengapa bisa timbul perbedaan pendapat/tafsir tentang masalah baptisan ini? Apa penyebabnya? (Artikel ini hanya membahas soal cara baptisan, karena soal cara baptisan inilah banyak gereja terpecah/berbeda pandangan)

Pertama-tama kita definisikan dahulu apa itu baptisan dan apa tujuan baptisan.

Secara etimologis, kata baptis (bapto/ baptisma/ baptiszo) berarti immerse/dip = dicelup semuanya/selam, pencucian, pembersihan dan pembasuhan. Dalam tata bahasa Yunani, makna kata baptis  tidak hanya berarti diselamkan saja, tetapi juga dapat diartikan sebagai membasuh dengan air, mencuci, membersihkan diri sendiri, dan mandi. Kata baptis dapat juga berarti dicelup/ dibasuh dalam suatu media antara lain: Kristus & kematian-Nya (Rom.6:3-4), air (Bil.19:7,12; 8:7; Kis.1:5), penderitaan (Mat.20:22,23), Roh Kudus (Kis.1:5), & darah (Kel.24:6; Ibr.9:13,14; 10:22).

Jadi, dari segi etimologis dan fungsional saja kata baptis mempunyai banyak arti dan bisa digunakan/ditafsirkan secara fleksibel dan kontekstual.

Dalam baptisan (oleh) Yohanes Pembaptis, baptisan adalah tanda pertobatan/pengakuan dosa. Tetapi kalau kita mempelajari seluruh ayat PB yang berhubungan dengan baptisan, makna baptisan menyatakan/merupakan “tanda, simbol, alat dan sarana pentahiran, pemeteraian, proklamasi iman (pertobatan, iman/percaya, penyerahan diri, pengakuan dosa dan komitmen mengikut Tuhan) (Matius 3:5, 11-12; Markus 1: 4-5, 8); Luk 3:16-17) Jadi, baptisan merupakan salah satu sakramen kudus untuk menyatakan pengakuan iman dan pernyataan ikrar percaya kepada (menerima) Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Baptisan disini berarti sebagai tanda/simbol pertobatan (dari dosa-dosa), bukti kesediaan untuk menjadi anak Allah, murid Yesus, warga kerajaan surga. Jadi, baptisan itu sebenarnya adalah meterai ilahi di dahi orang percaya. Orang yang sudah dibaptis adalah orang yang memakai meterai Allah di dahinya (Lihat Wahyu 9:4) dan sudah disucikan oleh Tuhan Yesus dan Roh Kudus sebagai bait Allah (Mat 3: 12; Roma 6: 3-4)

 

Secara historis, tradisi baptisan baru dimulai/dipelopori oleh Yohanes Pembaptis. Perjanjian Lama tidak mengenal Baptisan seperti yang dipraktekkan oleh Yohanes Pembaptis. Nabi-nabi dan para imam dalam era Perjanjian Lama tidak ada yang mempraktekkan baptisan seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis. Jadi, dari titik tolak historis kita bisa membuat klasifikasi/pembagian Baptisan, yaitu 1. Baptisan Yohanes Pembaptis atau Baptisan (dengan) air (Matius 21: 25; Matius 3: 11; Markus 1:8; Lukas 3:16; Yoh1:31, 33; Kis 1: 5). Baptisan ini disebut juga baptisan pertobatan atau pengampunan dosa. Air yang digunakan dalam proses/seremoni baptisan disini hanya bersifat simbolik/tanda sebagai sarana penyucian/pembersihan/pembasuhan/pengudusan/penghapusan dosa. Air disini tidak mempunyai kekuatan magis dan tidak mempunyai peranan dalam proses pertobatan/pengampunan dosa/keselamatan. Yang ditekankan oleh Yohanes dalam baptisan ini adalah pertobatan (hati), pengakuan dosa dan buah-buah pertobatan. Jadi, air disini tidak bersifat esensial/substansial/absolut tetapi hanya bersifat simbolik-seremonial dan komplementer (pelengkap yang boleh ada atau tidak ada). Mereka yang ekstrim mengotot bahwa baptisan harus secara selam, adalah karena secara simplistis melihat bahwa Yesus dibaptis di sungai, jadi semua orang Kristen juga harus dibaptis secara selam. Mereka tidak bisa membedakan yang mana esensial/substansial dan yang mana non-esensial/non-substansial, yang mana yang harus/mutlak dan yang mana yang fakultatif (boleh ada boleh tidak ada). Hal ini disebabkan antara lain pada persoalan metode/cara tafsir yang tidak komprehensif, tidak reflektif dan tidak kritis. (Bandingkan: Karena Yesus juga disunat, apakah semua orang Kristen wajib disunat? Karena Yesus dibaptis di sungai, maka semua orang Kristen harus dibaptis di sungai/dalam air? Tentu tidak!). Baptisan Yohanes adalah baptisan transisi atau pembuka jalan bagi datangnya baptisan era Perjanjian Baru yang akan dilakukan oleh Kristus dan Roh Kudus. Baptisan Yohanes (dengan air) berlaku sampai era Yohanes Pembaptis dan berakhir pada saat pencurahan Roh Kudus (pada hari Pentakosta)

Jadi, jenis baptisan yang kedua adalah Baptisan Kristus (Yesus) atau Baptisan Roh atau Baptisan Api atau Baptisan Perjanjian Baru. Matius 3: 11 berbunyi:

“Aku (Yohanes) membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia (Yesus) yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa daripadaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api”. (api juga merupakan simbol/tanda pengudusan/penyucian/pembakaran dosa) (Bandingkan Kis 1:5; Kis 2: 1-3)

Baca juga Markus 1: 8 “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”.

Dalam Kis 1:5 Yesus berkata: “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”. Dengan kata lain, Firman Tuhan/Alkitab dan Yesus menegaskan/memerintahkan bahwa murid-murid-Nya dan kita harus dibaptis dengan Roh Kudus, bukan dengan air lagi. Jadi baptisan yang sebenarnya yang berlaku bagi umat Kristen sejak hari Pentakosta adalah baptisan dengan Roh Kudus. (Kis 2:1-3): … dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat 28: 19; Kis 19: 1-6). Perhatikan juga bahwa Baptisan Roh Kudus dilakukan dengan cara penumpangan tangan.

Yang esensial dari Baptisan adalah masalah iman, pertobatan dan buah-buah pertobatan, kelahiran baru dan pemuridan. (Mat 3:2, 8; Mat 28: 18-20; Mark 16: 15-18; Luk 24: 44-49). Bukan pada soal cara membaptis. Cara baptisan bukanlah hal yang terpenting dan juga tidak menyelamatkan! Kerajaan Surga bukanlah soal makanan/minuman (haram atau halal), cara baptis, sunat atau tidak sunat dan masalah-masalah sepele yang tidak substansial. Firman Tuhan menghendaki dan mengajak kita untuk bersikap dewasa dan tidak kekanak-kanakan dalam memahami masalah/substansi iman, keselamatan dan kebenaran Injil. (Ibr 6:1-2).

 

Ef.4:2-6; 2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. :3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: :4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, :5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,(tunggal) :6 satu Tuhan dan Bapa dari semua, Tuhan yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

 

Kesimpulannya: Baptisan yang dilakukan dengan cara selam adalah tetap sah/alkitabiah apabila dilakukan dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Karena maksud/esensi dari baptisan selam juga bersifat simbolik/tanda, air digunakan sebagai simbol penyucian, pembersihan diri dan penguburan dosa. Demikian juga baptisan percik/curah/siram. Baptisan percik adalah juga sah apabila dilakukan dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Air yang digunakan dalam pemercikan juga bermakna simbolik sebagai simbol pentahiran, pemeteraian dan “darah Kristus/Anak Domba Allah” yang dipercikkan kepada tubuh kita, bahwa kita telah dikuduskan dan ditebus. Baptisan tanpa air juga sah (hanya berupa penumpangan tangan pada kening atau kepala) asal dilakukan dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Yang pasti/mutlak/benar: Alkitab dan Firman Tuhan memerintahkan agar kita dibaptis dengan Roh Kudus di dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus! (Kis 1: 5).

 

Silahkan Saudara memilih jenis/cara baptisan yang Saudara suka! Tetapi jangan menghakimi/menyalahkan cara baptisan yang dilakukan oleh saudaramu yang lain, kecuali kalau baptisan dilakukan dalam nama selain nama Allah Tritunggal! Baptisan selam maupun Baptisan percik hanyalah simbol/tanda pertobatan. Karena cara baptis TIDAK MEMBAWA ORANG PADA KESELAMATAN, jadi tidak perlu dipersoalkan. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here